Perundungan tidak berhenti ketika ejekan, tekanan, atau perlakuan kasar berakhir. Bagi sebagian korban, pengalaman tersebut dapat meninggalkan tekanan yang terbawa dan memengaruhi kondisi psikologis maupun fungsi otak.
Laporan PISA (Programme for International Student Assessment) 2025 menunjukkan 24% siswa di Indonesia mengaku menjadi korban setidaknya satu bentuk perundungan beberapa kali dalam sebulan atau lebih. Angka tersebut menunjukkan perundungan juga perlu dilihat sebagai isu kesehatan.
Di tengah persoalan tersebut, daun kelor (Moringa oleifera) mulai dilirik dalam berbagai penelitian kesehatan. Tanaman yang mudah tumbuh di wilayah tropis ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan dikenal memiliki kandungan gizi yang beragam. Kementerian Kesehatan mencatat, dalam 100 gram daun kelor terdapat sekitar 61 kalori, 6,1 gram protein, 10 gram karbohidrat, serta berbagai mineral seperti kalsium, fosfor, zat besi, natrium, dan kalium.
Selain kandungan gizinya, daun kelor juga mengandung sejumlah senyawa antioksidan, di antaranya kuersetin dan asam klorogenat. Antioksidan merupakan senyawa yang membantu melawan radikal bebas dalam tubuh, yang jika berlebihan dapat memicu stres oksidatif. Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan kelor menarik untuk diteliti lebih lanjut, termasuk kaitannya dengan kesehatan otak dan stres.
Perundungan dan Tekanan Pada Otak
Tekanan sosial yang berlangsung berulang dapat berkembang menjadi stres kronis. Kondisi ini bukan sekadar rasa sedih atau tertekan sesaat karena tubuh mengalami respons biologis terhadap tekanan yang terus datang.
Salah satu bagian otak yang mendapat perhatian adalah hipokampus. Area ini berperan dalam pembentukan dan penyimpanan memori sehingga perubahan akibat stres berkepanjangan dapat berpengaruh terhadap kemampuan mengingat dan fungsi kognitif.
Untuk memahami dampaknya secara terukur, tim Program Kreativitas Mahasiswa UGM menggunakan metode Chronic Social Defeat Stress atau CSDS pada mencit. Dalam model tersebut, mencit atau hewan uji untuk penelitian biomedis dipaparkan berulang kali pada mencit yang lebih dominan dan agresif untuk meniru tekanan sosial kronis.
Model itu kemudian digunakan untuk melihat perubahan perilaku, memori spasial, serta kondisi sel saraf. Penelitian ini memberi gambaran biologis, meski hasil pada hewan belum dapat disamakan langsung dengan manusia.
Daun Kelor dan Respons Stres
Dalam penelitian tersebut, ekstrak daun kelor diberikan secara oral pada mencit sebelum, selama, maupun setelah induksi stres. Pendekatan ini digunakan untuk melihat efek kelor terhadap tekanan sosial kronis.
Kelor dipilih karena memiliki berbagai senyawa bioaktif, termasuk kuersetin. Senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang dapat membantu melawan stres oksidatif, salah satu proses yang berkaitan dengan kerusakan sel akibat tekanan berkepanjangan.
Temuan lain mengenai kelor datang dari penelitian yang terbit di Environmental Science and Pollution Research pada 2022. Studi tersebut menemukan pemberian ekstrak etanol daun kelor pada mencit dapat menurunkan kadar kortikosteron serta menekan sejumlah penanda peradangan, termasuk NF-κB, di jaringan otak. NF-κB merupakan protein yang berperan dalam mengatur respons peradangan dan sistem kekebalan tubuh.
Dalam penelitian itu, perubahan tersebut berjalan bersama dengan perbaikan kondisi yang berkaitan dengan kecemasan dan perilaku menyerupai depresi. Hasil ini memperkuat alasan untuk meneliti kelor sebagai bahan alam yang mungkin membantu melindungi jaringan otak dari dampak stres.

Daun dan Bunga Kelor (Moringa Oleifera) | Foto: commons.wikimedia | By Rehman Abubakr
Bukan Pengganti Penanganan Korban
Meski hasil penelitian terlihat menjanjikan, temuan tersebut belum berarti daun kelor dapat disebut sebagai obat untuk korban perundungan. Penelitian UGM masih menggunakan hewan uji, sehingga efektivitas dan keamanannya pada manusia tetap memerlukan penelitian lanjutan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah cara mengonsumsi kelor. Ekstrak dalam penelitian tidak selalu sama dengan daun kelor yang dimasak atau dikonsumsi sebagai sayur. Karena itu, hasil penelitian tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi anjuran dosis untuk manusia.
Di sisi lain, penelitian tentang bahan alam seperti kelor membuka ruang untuk mencari pendekatan pendukung yang mudah dijangkau. Kelor relatif mudah ditemukan, murah, dan sudah dikenal masyarakat sehingga menarik untuk dikembangkan melalui penelitian lebih terarah.
Pada akhirnya, perundungan tetap membutuhkan penanganan yang lebih luas, mulai dari pencegahan, dukungan psikologis, lingkungan yang aman, hingga intervensi profesional ketika diperlukan. Kelor mungkin menjadi bagian dari riset di masa depan, tetapi pemulihan korban tetap harus menempatkan keselamatan dan kebutuhan mereka sebagai prioritas.
Jadi, Kawan GNFI perlu mengetahui bahwa daun kelor punya potensi untuk membantu mengurangi dampak stres. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan manfaatnya dan melihat apakah hasilnya bisa diterapkan secara luas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


