Sebastiana Bwarleling sudah jadi biarawati sejak 2015. Suster asal Kepulauan Tanimbar, Maluku ini merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado.
Tahun ini, dia terbang dari Manado ke Yogyakarta untuk menjadi mahasiswa baru Program Studi D3 Radiologi. Bukan kampus umum, Sebastiana memantapkan pilihannya untuk belajar di Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, kampus yang berafiliasi ke Muhammadiyah.
Sebastiana tidak asal pilih kampus. Dia sendiri membeberkan bahwa dirinya sudah survei beberapa kampus di Jogja.
Dari hasil penelusuran itu, Unisa adalah perguruan tinggi yang menurutnya paling cocok buat jurusan Radiologi. Apalagi, Muhammadiyah memang dikenal sebagai organisasi keagamaan yang memberikan fokus lebih pada bidang pendidikan dan kesehatan. Belajar tentang kesehatan di kampus yang unggul, tentu Sebastiana berharap mendapat manfaat kombo sekaligus.
"Saya memilih kuliah di Unisa Yogyakarta karena pertama, di bidang pendidikan kesehatan itu unggul. Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai. Karena mengambil jurusan radiologi, dan sebelum itu saya sudah mencari tempat di Jogja dan Unisa Yogyakarta punya fasilitas yang sangat memadai untuk mengembangkan minat dan bakat," katanya, dikutip dari laman resmi Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).
Meski demikian, Sebastiana tidak hanya mempertimbangkan fasilitas yang mumpuni saja. Sebelum menjadi minoritas di kampus Islam, tentu ia juga sempat mempertimbangkan konsekuensi atas perbedaan secara matang. Beruntung, ia merasa diterima di lingkungan Unisa.
"Saya memilih Unisa Yogyakarta juga karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini. Dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini," ujarnya.
Bukan Pilihan Sendiri, Jurusan Radiologi Perintah Kongregasi
Jurusan Radiologi bukan pilihannya sendiri. Sebastiana "diutus" oleh kongregasinya untuk ambil Radiologi untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli di rumah sakit.
"Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada," jelasnya.
Rumah sakit yang dimaksud itu RS Dharma Ibu di Ternate, Maluku Utara. Rumah sakit tersebut dikelola langsung sama kongregasinya.
Nah, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, biaya kuliahnya dibiayai penuh oleh rumah sakit. Konsekuensinya, setelah lulus dia wajib balik ke Ternate buat megang unit radiologi yang sampai sekarang masih kosong.
“Jadi saya diutus untuk berkuliah radiologi untuk bisa kembali mengembangkan rumah sakit kami yang ada di Ternate," katanya.
Ternyata yang Bikin Canggung Bukan Agama, tapi Umur
Kawan, sebagaimana yang sudah disebut sebelumnya, Sebastiana tidak masalah soal perbedaan agama. Katanya, pengalaman kerja di Ternate sudah membuatnya kebal beradaptasi dengan lingkungan yang beda keyakinan.
"Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa," ungkapnya.
Malahan, yang membuat dia sedikit canggung adalah usia. Maklum, dia sudah masuk biara dari 2015. Sementara temen-temen satu angkatan rata-rata baru lulus SMA.
"Pas mulai dari pra Mataf, itu kelompok baru bagi saya, semua masih mau dibilang adik-adik yang baru tamat SMA. Kalau saya kan masuk biara sudah dari 2015, jadi untuk membaur dengan teman-teman ini sebenarnya rasa canggung ada. Tapi karena teman-teman yang lain juga menerima saya dengan baik, kami membangun komunitas seperti kelompok saya dari Khafilah 37," tuturnya.
Sebastiana Tidak Sendirian di Kampus Islam
Sebastiana bukan satu-satunya mahasiswa yang tidak beragama Islam di Unisa. Rektor Unisa, Warsiti, mengatakan dari 14.872 pendaftar, yang diterima menjadi mahasisiwa baru tahun ajaran 2026/2027 sebanyak 2.878 orang.
Dari jumlah itu, ada puluhan mahasiswa non-Muslim, mulai dari Hindu, Katolik, sampai Kristen. Mahasiswa barunya juga datang dari 34 provinsi, plus empat negara: Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.
Warsiti mengatakan, keberagaman seharusnya bukan masalah, tapi menjadi kekayaan yang harus dijaga.
Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh Ketua Umum PP 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, bahwa semua mahasiswa punya hak yang sama buat akses informasi dan fasilitas kampus, tidak peduli latar belakangnya apa.
"Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal. Sehingga Unisa Yogyakarta menyediakan itu semuanya, fasilitas yang ada untuk menjadikan kalian semua kelak menjadi generasi yang hebat, generasi yang berkualitas, tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan tentunya peduli terhadap sesama," katanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


