kearifan lokal lewotobi kunci mitigasi bencana ala warga adat flores timur - News | Good News From Indonesia 2026

Kearifan Lokal Lewotobi, Kunci Mitigasi Bencana ala Warga Adat Flores Timur

Kearifan Lokal Lewotobi, Kunci Mitigasi Bencana ala Warga Adat Flores Timur
images info

Gunung Lewotobi | Foto: Wikimedia Commons | Pierre Markuse


Kearifan Lokal Lewotobi sudah lama jadi andalan warga Desa Nawokote, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk membaca tanda-tanda bahaya dari Gunung Lewotobi, gunung berapi aktif yang berada tak jauh dari permukiman mereka. Gunung ini terdiri dari dua puncak, yakni Lewotobi Laki-laki dengan ketinggian sekitar 1.584 meter di atas permukaan laut dan Lewotobi Perempuan yang sedikit lebih tinggi, yakni sekitar 1.703 meter di atas permukaan laut.

Bagi warga sekitar, gunung ini bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari kosmologi dan identitas budaya. Nama "Lewotobi" sendiri berasal dari bahasa Lamaholot, gabungan kata lewo (kampung) dan tobi (kembar), yang secara harfiah berarti "kampung kembar".

Dualisme antara kedua puncaknya mencerminkan konsep complementary dualism yang umum dijumpai dalam kosmologi masyarakat Austronesia, di mana Lewotobi Laki-laki dipandang sebagai simbol kekuatan dan maskulinitas, sementara Lewotobi Perempuan melambangkan kesuburan dan keibuan. Kearifan yang lahir dari pemahaman ini bahkan sempat menjadi satu-satunya sistem respons bencana pada awal 1900-an, sebelum pemantauan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mulai berjalan.

baca juga

Gunung yang Dipercaya Bisa "Berkomunikasi"

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Administrasi Publik Unika Widya Mandira, Ernawati Daeng dan tim menjelaskan bahwa masyarakat Flores Timur memaknai erupsi bukan semata gejala alam, melainkan peringatan spiritual akibat pelanggaran adat.

Kedua puncak Lewotobi dipercaya masih saling "berkomunikasi" melalui gemuruh letusan dan aktivitas vulkanik, sehingga setiap perubahan aktivitas gunung dianggap sebagai pesan dari leluhur atau kekuatan alam.

Keyakinan inilah yang melahirkan seperangkat aturan adat, mulai dari ritual hingga pantangan (pamali), yang secara tidak langsung berfungsi sebagai mekanisme mitigasi bencana turun-temurun.

Kearifan Lokal Lewotobi: Saat Ritual Tuba Ile Jadi Sistem Peringatan Dini

Inti dari kearifan lokal Lewotobi terletak pada Ritual Tuba Ile, sebuah upacara "memberi makan" gunung sebagai bentuk penghormatan agar Lewotobi tetap tenang. Ritual ini dipimpin oleh mosalaki atau pemimpin adat, dan melibatkan seluruh komunitas desa.

Namun, Tuba Ile bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga wujud pengetahuan yang memampukan para mosalaki dan tetua adat membaca lima kategori tanda alam, yakni perubahan warna atau suhu tanah di sekitar kawah, perubahan perilaku hewan, intensitas bau belerang yang tidak normal, perubahan debit dan warna sumber mata air, serta pola cuaca dan arah angin yang tidak lazim.

Dalam literatur ilmiah, sistem pengetahuan seperti ini dikenal sebagai Traditional Ecological Knowledge (TEK), yaitu kumpulan pengetahuan turun-temurun tentang hubungan antara manusia dan lingkungannya.

Bukan Sekadar Mitos, Ini "Sains" di Balik Tanda Alam

Yang menarik, efektivitas kearifan lokal semacam ini bukan cuma klaim sepihak dari masyarakat adat. Penelitian oleh Azhar Firdaus dan tim yang dipublikasikan di Jàmbá: Journal of Disaster Risk Studies mencatat bahwa integrasi pengetahuan dan kearifan lokal di kawasan Gunung Anak Krakatau berperan penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat serta pemulihan pasca-bencana.

Bahkan, dalam kasus Gunung Merapi 2010 serta beberapa wilayah di Vanuatu dan Papua Nugini, warga dengan sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal mampu melakukan evakuasi mandiri bahkan sebelum peringatan resmi pemerintah dikeluarkan. Keunggulan sistem ini mampu mendeteksi perubahan mikro-ekologis yang kadang tak tertangkap instrumen pemantau modern, sekaligus kecepatan respons karena sifatnya yang berbasis komunitas.

Lebih dari Sekadar Deteksi Dini

Kearifan lokal Lewotobi ternyata punya fungsi yang jauh lebih luas dari sekadar mendeteksi bahaya.

Setiap pelaksanaannya, Ritual Tuba Ile dapat memperkuat jaringan sosial antarwarga, memperjelas pembagian peran saat kondisi darurat, sekaligus membangun kapasitas koordinasi komunal yang siap diaktifkan begitu bencana benar-benar terjadi. Selain itu, kepercayaan antarwarga, norma kolektif, dan jaringan komunikasi informal yang tumbuh lewat ritual ini juga menjadi modal sosial yang berharga bagi ketangguhan komunitas dalam menghadapi bencana.

Dari sisi psikologis, ritual ini dapat membantu warga untuk membangun kesiapan mental dalam menghadapi ketidakpastian akibat ancaman erupsi. Keyakinan bahwa komunitas telah "berkomunikasi" dengan alam dan menunaikan kewajiban spiritualnya memberi rasa aman yang mengurangi kecemasan kolektif sekaligus mencegah kepanikan saat bencana benar-benar terjadi.

Ritual yang dilakukan bersama juga dapat menumbuhkan identitas kolektif dan rasa percaya diri warga dalam menghadapi krisis, yang pada akhirnya membuat mereka lebih proaktif mengambil langkah mitigasi dan lebih tangguh menghadapi dampak bencana.

Kearifan Lokal Lewotobi dalam Kebijakan Bencana Modern

Nilai penting kearifan lokal Lewotobi ini pun sudah mulai mendapat pengakuan formal. Prinsip ini sejalan dengan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030, kerangka global yang diadopsi 187 negara anggota PBB, yang secara eksplisit mengakui pengetahuan lokal dan tradisional sebagai pelengkap penting bagi ilmu pengetahuan modern dalam pengurangan risiko bencana.

Salah satu prioritas utama kerangka ini bahkan menekankan pentingnya memanfaatkan kapasitas dan pengetahuan komunitas lokal untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih efektif. Integrasi semacam ini dinilai bukan cuma meningkatkan efektivitas mitigasi, tapi juga memperkuat rasa memiliki warga terhadap program pengurangan risiko bencana yang dijalankan.

Di tingkat nasional, Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 Tahun 2012 dan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan turut memberi landasan hukum bagi pelestarian praktik semacam ini. Pemerintah Kabupaten Flores Timur bahkan sudah mulai melibatkan tokoh adat dalam forum komunikasi bencana daerah (Forkominda) sebagai bentuk sinergi antara pengetahuan lokal dan modern.

Meski begitu, kearifan lokal Lewotobi juga menghadapi tantangan nyata dalam mempertahankan eksistensinya, yaitu pergeseran nilai akibat modernisasi yang membuat generasi muda kian menjauh dari tradisi ini, migrasi penduduk yang turut mengancam rantai transmisi pengetahuan antargenerasi, dan minimnya dokumentasi formal yang menjadi persoalan tersendiri karena pengetahuan ini masih diwariskan secara lisan.

Kawan GNFI, cerita dari Desa Nawokote ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana yang tangguh tidak melulu soal teknologi yang canggih. Terkadang, jawabannya sudah ada di tangan masyarakat sendiri dan diwariskan lewat ritual dan tanda-tanda alam yang dibaca secara turun-temurun. Kini, tugas kita adalah merangkul kearifan ini bersama sistem modern, bukan membiarkannya hilang ditelan zaman.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.