Pernahkah Kawan mencicipi salah satu makanan tradisional khas Jawa yang bernama bubur panca warna? Makanan tradisional yang satu ini memiliki tampilan yang cukup mencolok dan berbeda dengan bubur lain pada umumnya.
Bubur panca warna memiliki lima macam warna berbeda dalam satu piring hidangannya. Walau begitu, banyaknya warna dari makanan tradisional ini ternyata tidak hanya sekadar penghias tampilan saja.
Ada makna khusus yang terkandung dari kelima warna yang ada dalam sajian makanan tradisional khas Jawa tersebut. Lantas bagaimana ulasan lengkap seputar bubur panca warna?
Simak pembahasan terkait makanan tradisional khas Jawa yang satu ini dalam artikel berikut ini.
Mengenal Bubur Panca Warna
Dilihat GNFI dari buku Ensiklopedi Makanan Tradisional (di Pulau Jawa dan Pulau Madura), bubur panca warna adalah salah satu makanan tradisional khas dari daerah Jawa. Makanan tradisional yang satu ini diketahui memiliki kaitan erat dengan masyarakat Tengger yang mendiami daerah Jawa Timur.
Nama dari kuliner yang satu ini sendiri merujuk pada tampilan dari bubur panca warna. Seperti namanya, bubur ini memiliki lima macam warna dalam setiap hidangannya.
Lima macam warna bubur yang ada di makanan tradisional khas Jawa ini di antaranya merah, kuning, putih, hitam, dan campuran.
Sarat akan Makna
Lima warna yang ada dalam sajian bubur panca warna ternyata tidak sekadar hiasan saja. Ada makna yang terkandung dari kelima warna yang terdapat dalam hidangan tradisional tersebut.
Masih dari buku yang sama, makna dari bubur panca warna terdapat dalam Mandhalagiri yang mengadakan pemujaan pada Kiblat Papat Limo. Kelima warna ini merujuk kepada arah mata angin dan arah panutan.
Adapun penjabaran dari makna kelima warna makanan tradisional tersebut adalah.
1. Warna putih menjadi simbol arah timur yang melambangkan tempat duduk Dewa Iswara.
2. Warna merah menjadi simbol arah selatan dan melambangkan tempat duduk Dewa Brahma.
3. Warna hitam menjadi simbol arah utara dan melambangkan tempat duduk Dewa Wisnu.
4. Warna kuning menjadi simbol arah barat dan melambangkan tempat duduk Maha Dewa.
5. Warna campuran menjadi pusat dan titik sentral dari semua arah mata angin.
Lekat dengan Upacara Adat
Bagi masyarakat Tengger, bubur panca warna menjadi salah satu hidangan yang tidak terpisahkan dari upacara adat. Ada beberapa upacara adat yang menyajikan bubur panca warna dalam proses penyelenggaraannya.
Misalnya, bubur panca warna merupakan sajian yang dibuat sebagai sesaji dalam upacara Pujan Kapat. Upacara ini biasanya diadakan pada bulan keempat dan hari keempat menurut Tahun Saka.
Selain itu, bubur panca warna juga menjadi sesaji pada saat Galungan dan acara selamatan mendirikan rumah. Adanya makanan tradisional ini menjadi simbol pengharapan untuk mendapatkan berkah keselamatan hidup di dunia.
Cara Membuat Bubur Panca Warna
Proses membuat bubur panca warna sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembuatan bubur pada umumnya. Pertama, persiapkan bahan utama untuk membuat bubur tersebut, yakni beras dan air.
Cuci beras hingga bersih dan masak sesuai dengan jumlah yang diinginkan. Setelah setengah matang, aduk bubur tersebut hingga mengental.
Nantinya bubur yang sudah masak dibagi menjadi lima bagian. Setelah itu, tambahkan pewarna pada masing-masing bagian bubur tersebut.
Terakhir, kelima macam bubur yang sudah diberi warna tinggal disajikan dalam satu wadah yang sama. Bubur panca warna pun sudah bisa dihidangkan dan dinikmati bersama saat itu juga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


