ketan bintul makanan tradisional khas banten yang dulunya jadi menu takjil sultan - News | Good News From Indonesia 2026

Ketan Bintul, Makanan Tradisional Khas Banten yang Dulunya Jadi Menu Takjil Sultan

Ketan Bintul, Makanan Tradisional Khas Banten yang Dulunya Jadi Menu Takjil Sultan
images info

Ketan Bintul, Makanan Tradisional Khas Banten yang Dulunya Jadi Menu Takjil Sultan | Tangkap layar YouTube Umi Riyan


Ketan bintul adalah salah satu nama makanan tradisional yang berasal dari daerah Banten. Apakah Kawan pernah mencicipi kuliner khas yang satu ini sebelumnya?

Tahukah Kawan, ternyata keberadaan kue ketan bintul ini sudah ada sejak lama. Bahan kudapan yang satu ini cukup familiar di kalangan istana kesultanan dulunya.

Ketan bintul diketahui menjadi salah satu menu takjil yang dikonsumsi oleh sultan saat berpuasa. Hal ini bahkan terus berlanjut hingga saat sekarang.

Kudapan yang satu ini akan banyak Kawan jumpai saat momen Ramadan tiba. Banyak penjual di daerah Banten dan sekitarnya yang menjajakan kue ketan bintul pada saat momen spesial tersebut.

Bagaimana ulasan lebih lanjut seputar ketan bintul, makanan tradisional khas yang berasal dari daerah Banten? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

baca juga

Mengenal Ketan Bintul, Makanan Tradisional Khas Banten

Dinukil GNFI dari laman Portal Resmi Provinsi Banten, ketan bintul merupakan salah satu olahan makanan khas Banten yang terbuat dari bahan dasar beras ketan. Kudapan tradisional yang satu ini memiliki cita rasa gurih dalam setiap gigitannya.

Bagi masyarakat Banten, ketan bintul sering kali disantap sebagai kudapan di sela waktu luang. Namun ketan bintul juga bisa dikonsumsi sebagai makanan berat pengganti nasi.

Penggunaan beras ketan sebagai bahan dasar pembuatannya membuat ketan bintul cukup mengenyangkan jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Tidak heran, kudapan yang satu ini juga sering dikonsumsi oleh masyarakat bersama gulai kambing maupun semur daging.

Mirip dengan Jadah

Jika dilihat dari tampilannya, ketan bintul memiliki kemiripan dengan salah satu kuliner khas dari Jawa Tengah, yakni jadah. Apalagi kedua jenis makanan tersebut sama-sama terbuat dari bahan dasar beras ketan.

Namun ada sedikit perbedaan antara ketan bintul dan jadah. Disistat dari buku Ensiklopedi Makanan Tradisional (di Pulau Jawa dan Pulau Madura), perbedaan antara kedua jenis makanan tersebut terletak pada ornamen tambahan yang digunakan dalam penyajiannya.

Jadah biasanya dikonsumsi bersama dengan tempe bacem. Lain halnya dengan ketan bintul yang dimakan bersama serundeng.

Menu Takjil Sultan Dulunya

Riwayat keberadaan ketan bintul sendiri diyakini sudah ada sejak lama. Bahkan kuliner tradisional yang satu ini diketahui sudah berkembang sejak zaman Kesultanan Banten pada abad ke-16 dulunya.

Ketan bintul dulunya disajikan sebagai salah satu menu berbuka puasa bagi Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi Sultan Banten pada waktu itu. Tidak hanya dikonsumsi sebagai takjil saja, ketan bintul juga sering kali disajikan sebagai jamuan saat ada tamu kerajaan yang datang.

Hal ini membuat ketan bintul tidak hanya dipandang sebagai makanan biasa saja. Ada juga nilai filosofis yang terkandung dalam kudapan tradisional tersebut.

Ketan bintul dipandang menjadi simbol kerekatan antarsesama. Nilai ini merujuk pada beras ketan yang memiliki sifat lengket.

Hal ini diartikan sebagai sikap persatuan dan persaudaraan antara satu sama lain. Dengan mengonsumsi ketan bintul, diharapkan kedekatan antara sesama manusia akan makin terjalin nantinya.

baca juga

Cara Membuat Ketan Bintul

Proses pembuatan ketan bintul sangat sederhana. Pertama, beras ketan bisa dicuci terlebih dahulu.

Setelah itu, beras ketan bisa direndam selama satu malam agar empuk. Jika sudah direndam semalaman, maka beras ketan tersebut bisa langsung dimasak dengan cara dikukus.

Nantinya beras ketan yang sudah masak akan ditumbuk pelan di dalam panci atau wadah. Ketika menumbuk ini, tambahkan juga garam atau gula untuk menambah cita rasa kudapan tersebut.

Setelah selesai ditumbuk, tuang ketan ke dalam wadah. Terakhir, taburi serundeng dan kacang tanah yang sudah disangrai di atasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.