manfaatkan hasil fermentasi limbah tahu mahasiswa kknt inovasi ipb kenalkan teh kompos di desa kalisari - News | Good News From Indonesia 2026

Manfaatkan Hasil Fermentasi Limbah Tahu, Mahasiswa KKNT Inovasi IPB Kenalkan Teh Kompos di Desa Kalisari

Manfaatkan Hasil Fermentasi Limbah Tahu, Mahasiswa KKNT Inovasi IPB Kenalkan Teh Kompos di Desa Kalisari
images info

Manfaatkan Hasil Fermentasi Limbah Tahu, Mahasiswa KKNT Inovasi IPB Kenalkan Teh Kompos di Desa Kalisari


Limbah cair tahu menjadi salah satu potensi bahan organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Kawan GNFI, Desa Kalisari memiliki aktivitas produksi tahu yang cukup menonjol. Terdapat lebih dari 200 pengrajin tahu yang menjalankan kegiatan produksi di desa tersebut. Aktivitas ini tentu menghasilkan limbah cair tahu dalam jumlah yang tidak sedikit. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah hasil produksi tersebut dapat menjadi persoalan lingkungan.

Limbah cair tahu adalah air dadih yang tersisa saat pengambilan tahu setelah pengendapan oleh laru atau cuka. Sebagian kecil Air dadih ini biasanya ditampung oleh pengrajin tahu untuk digunakan pada proses pembuatan tahu selanjutnya.

Cairan yang tersisa setelah proses penyaringan endapan tahu memiliki kandungan bahan organik yang membuatnya berpotensi untuk dimanfaatkan melalui proses pengolahan tertentu. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University 2026 mengenalkan teh kompos kepada masyarakat sebagai salah satu alternatif pemanfaatan bahan organik melalui kegiatan workshop yang dilaksanakan di Balai Desa Kalisari.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University 2026 mengajak masyarakat untuk mengenal salah satu alternatif pemanfaatan bahan organik melalui workshop teh kompos. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 27 Juli 2026 dan Senin, 10 Agustus 2026 di Balai Desa Kalisari.

baca juga

Workshop Teh Kompos Senin, 10 Agustus 2026

Workshop tersebut tidak hanya berisi pemaparan materi. Mahasiswa juga mengajak masyarakat berdiskusi dan mengikuti praktik pembuatan teh kompos secara langsung. Dengan begitu, peserta dapat memahami prosesnya dari awal hingga akhir dan tidak hanya mengetahui hasil akhirnya.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat Desa Kalisari, mulai dari kelompok tani, kelompok peternak, kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga kelompok Budidaya Tambak Desa Kalisari. Kehadiran berbagai kelompok masyarakat membuat kegiatan menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai pemanfaatan bahan organik sesuai dengan kebutuhan di lingkungan masing-masing.

Mengenal Teh Kompos dan Potensinya

Kawan GNFI, sebelum masuk ke sesi praktik, mahasiswa terlebih dahulu memperkenalkan apa yang dimaksud dengan teh kompos atau compost tea. Secara sederhana, teh kompos merupakan ekstrak dari kompos atau bahan organik yang diekstraksi menggunakan air.

Teh kompos berbeda dengan kompos yang biasanya kita kenal dalam bentuk padat. Pada teh kompos, bahan organik diekstraksi sehingga menghasilkan cairan yang dapat mengandung unsur hara terlarut serta mikroorganisme dari bahan yang digunakan.

Dalam workshop, mahasiswa menjelaskan berbagai hal mengenai teh kompos, mulai dari perbedaan pupuk padat dan pupuk cair, pengertian teh kompos, manfaat, hingga proses pembuatannya. Penjelasan diberikan secara bertahap agar peserta dapat memahami alasan di balik setiap tahapan yang dilakukan.

Peralatan yang digunakan dalam demonstrasi juga cukup sederhana. Wadah, alat pengaduk, dan saringan menjadi beberapa peralatan yang digunakan dalam praktik. Kesederhanaan alat tersebut membuat proses lebih mudah diikuti oleh peserta dan memberikan gambaran bahwa pengolahan bahan organik dapat dipelajari dalam skala kecil.

Belajar Mengolah Limbah Cair Tahu

Setelah mendapatkan penjelasan mengenai teh kompos, peserta kemudian diajak mengikuti praktik secara langsung. Mahasiswa memperagakan setiap tahapan pembuatan menggunakan alat dan bahan sederhana. Praktik dilakukan menggunakan botol berukuran 600 mililiter sebagai wadah fermentasi dan bahan-bahan yang mudah didapat seperti EM4, gula pasir, limbah cair tahu, dan air.

Praktik Pembuatan Teh Kompos di Balai Desa Kalisari

Dalam praktik tersebut, EM4 digunakan sebagai starter mikroorganisme menggantikan pupuk kompos, sedangkan gula pasir berperan sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme. Limbah cair tahu sendiri digunakan sebagai media tumbuh pengganti air karena memiliki banyak kandungan mineral tersisa yang dapat menyuburkan tanaman.

Proses dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Bahan kemudian dicampurkan dan dikocok hingga merata. Setelah itu, campuran didiamkan untuk menjalani proses fermentasi dan diaduk secara berkala setiap hari selama 7 hingga 14 hari.

Setelah proses fermentasi selesai, campuran disaring untuk memisahkan bagian padat dari cairan yang dihasilkan. Cairan hasil penyaringan kemudian diencerkan dengan perbandingan 1:10 sebelum digunakan, sesuai dengan praktik yang diperagakan dalam kegiatan.

Melalui praktik tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana limbah cair tahu dapat menjadi bagian dari proses pengolahan bahan organik. Kegiatan ini juga memperkenalkan konsep bahwa bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi masih dapat dipelajari potensinya untuk dimanfaatkan kembali.

baca juga

Dari Persoalan Limbah Menjadi Pembelajaran

Bagi Kawan GNFI, kegiatan di Desa Kalisari ini menunjukkan bahwa inovasi di tingkat desa tidak selalu harus menggunakan peralatan yang rumit. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar masyarakat juga dapat menjadi awal untuk mengenalkan cara pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Keberadaan lebih dari 200 pengrajin tahu di Desa Kalisari menjadi potensi sekaligus tantangan tersendiri. Banyaknya aktivitas produksi tahu berarti semakin banyak pula bahan sisa yang perlu dikelola dengan baik. Karena itu, pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah cair tahu menjadi hal yang menarik untuk terus dikembangkan dan dipelajari bersama.

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar tentang membuat teh kompos. Lebih dari itu, Kawan GNFI, masyarakat diajak melihat kembali potensi yang ada di lingkungan sekitar. Limbah cair tahu yang selama ini menjadi hasil samping produksi dapat menjadi bahan untuk dipelajari dan diolah melalui pendekatan yang sesuai.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, Desa Kalisari memiliki kesempatan untuk terus mengeksplorasi berbagai alternatif pengelolaan bahan organik. Langkah sederhana seperti workshop dan praktik bersama pun dapat menjadi awal munculnya pengetahuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.