Sebagai salah satu mahasiswa yang menjadi bagian dari KKN Internasional Arab Saudi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, penulis mendapatkan kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan dan pendampingan jamaah umrah asal Indonesia. Pengalaman selama mengikuti KKN tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di luar ruang akademik, sekaligus memberikan pemahaman mengenai dinamika pelayanan jamaah di tengah aktivitas ibadah yang berlangsung di Arab Saudi.
Melalui artikel ini, penulis berupaya mengabadikan pengalaman tersebut sebagai sebuah jejak digital, sehingga berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama pelaksanaan KKN tidak hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga dapat terdokumentasikan dan memberikan gambaran kepada pembaca mengenai bentuk kontribusi mahasiswa selama menjalankan pengabdian di Arab Saudi.
Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Arab Saudi UIN Bandung melaksanakan kegiatan koordinasi bersama pemilik Travel Ashobah dalam rangka memastikan kelancaran proses pelayanan dan kepulangan jamaah umrah. Kegiatan ini berlangsung di tengah padatnya arus keberangkatan dan kepulangan jamaah umrah Indonesia melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, yang setiap harinya melayani ribuan jamaah dari berbagai biro perjalanan, sehingga koordinasi lintas pihak menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar demi menjaga ketertiban dan kenyamanan jamaah selama proses transit di bandara.
Bandara Internasional King Abdulaziz merupakan titik simpul utama bagi jamaah umrah Indonesia, baik pada saat kedatangan pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi, maupun pada saat kepulangan menuju Tanah Air. Volume jamaah yang tinggi, dinamika jadwal penerbangan yang kerap berubah, serta kompleksitas administrasi antara maskapai, biro perjalanan, dan otoritas bandara membuat proses ini rentan terhadap kendala teknis, seperti penyesuaian jadwal mendadak, keterlambatan penerbangan, hingga miskomunikasi informasi antara jamaah dan pihak travel.
Kondisi semacam ini pernah terjadi pada sejumlah periode sibuk musim umrah sebelumnya, ketika ribuan jamaah harus dipantau secara ketat oleh petugas lapangan agar proses kepulangan tetap berjalan aman dan terkendali meski dihadapkan pada perubahan jadwal di luar prediksi. Berkaca dari dinamika tersebut, kehadiran pihak-pihak yang secara aktif melakukan pendampingan dan koordinasi di lapangan termasuk tim KKN Internasional menjadi elemen penting dalam memperkecil risiko kendala yang dapat dialami jamaah selama masa keberangkatan maupun kepulangan.
Dalam kegiatan tersebut, tim KKN berkomunikasi secara langsung dengan pemilik Travel Ashobah untuk mengoordinasikan kondisi dan kebutuhan jamaah umrah yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Komunikasi ini mencakup penggalian informasi mengenai jumlah jamaah yang dijadwalkan berangkat maupun pulang pada periode tersebut, kondisi kesehatan dan kesiapan dokumen perjalanan jamaah, serta kebutuhan pendampingan khusus bagi jamaah lanjut usia atau jamaah yang membutuhkan perhatian tambahan selama proses keberangkatan.
Melalui diskusi ini, tim KKN berupaya memastikan bahwa pihak travel memiliki gambaran yang jelas mengenai kondisi jamaah di lapangan, sekaligus menjadi jembatan komunikasi apabila ditemukan kendala yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Selain berkoordinasi dengan pihak travel, tim KKN juga melakukan komunikasi dengan pihak layanan pelanggan (customer service) bandara untuk memperoleh informasi mengenai jadwal dan status penerbangan jamaah secara langsung dari sumber resmi di lapangan. Langkah ini dinilai penting mengingat informasi penerbangan yang diperoleh dari sumber tunggal berpotensi mengalami keterlambatan pembaruan atau ketidaksesuaian dengan kondisi riil di lapangan.
Dengan mengombinasikan informasi dari pihak travel dan pihak bandara, tim KKN dapat melakukan verifikasi silang (cross-check) atas data jadwal keberangkatan, status penerbangan, hingga kemungkinan perubahan gate atau waktu boarding yang dapat memengaruhi kelancaran perjalanan jamaah.
Koordinasi dengan pihak travel dan pengelola bandara dilakukan untuk memastikan kesesuaian informasi mengenai penerbangan, termasuk jadwal keberangkatan dan kondisi perjalanan jamaah. Informasi yang diperoleh kemudian menjadi dasar bagi tim KKN dan pihak terkait dalam menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan, baik berupa penyampaian informasi terbaru kepada jamaah, penyesuaian rencana pendampingan, maupun antisipasi terhadap kemungkinan kendala teknis yang dapat muncul mendekati waktu keberangkatan.
Proses sinkronisasi informasi semacam ini mencerminkan pentingnya alur komunikasi yang runtut dan terverifikasi, di mana setiap pihak travel, bandara, dan tim pendamping memiliki pemahaman yang sama atas kondisi terkini jamaah sebelum keputusan operasional diambil.
Melalui kegiatan ini, tim KKN tidak hanya memperoleh pengalaman dalam melakukan koordinasi pelayanan jamaah di lapangan, tetapi juga memahami secara langsung pentingnya komunikasi dan ketepatan informasi dalam mendukung penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah.
Pengalaman berinteraksi langsung dengan pihak travel maupun petugas bandara memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas koordinasi lintas pihak yang harus dijalankan secara cermat, termasuk bagaimana menjembatani kebutuhan informasi antara penyelenggara perjalanan, otoritas bandara, dan jamaah itu sendiri.
Koordinasi lintas pihak menjadi salah satu aspek penting dalam memastikan jamaah memperoleh pelayanan yang tertib, aman, dan sesuai dengan jadwal perjalanan yang telah ditetapkan sebuah prinsip yang relevan tidak hanya dalam konteks akademis, tetapi juga dalam praktik nyata pelayanan publik lintas negara.
Bagi tim KKN Internasional Arab Saudi UIN Bandung, pengalaman ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran sekaligus bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pelayanan jamaah Indonesia selama berada di Arab Saudi. Kegiatan koordinasi semacam ini turut memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai dinamika pelayanan publik di lintas negara, sekaligus menjadi bekal berharga untuk memahami bagaimana sinergi antara elemen masyarakat, sektor swasta (biro travel), dan otoritas layanan publik dapat berjalan secara efektif demi kepentingan bersama dalam hal ini, kenyamanan dan keselamatan jamaah umrah Indonesia di Tanah Suci.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


