Sebagai bagian dari pelaksanaan KKN Internasional, penulis berkesempatan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Arab Saudi bersama tim KKN Internasional UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Selama pelaksanaan KKN, penulis terlibat dalam berbagai kegiatan dan program kerja yang berkaitan dengan pelayanan serta pendampingan masyarakat Indonesia di Arab Saudi. Salah satu program kerja yang dilaksanakan adalah pemantauan dan pendampingan terhadap jamaah umrah asal Indonesia yang mengalami kendala dalam proses kepulangan ke Tanah Air.
Tim KKN Internasional Arab Saudi UIN Bandung bersama Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap 38 jamaah umrah asal Indonesia yang mengalami kendala dalam proses kepulangan ke Tanah Air.
Jamaah tersebut merupakan rombongan yang diberangkatkan oleh Syakira Tour dan menghadapi permasalahan terkait ketersediaan tiket penerbangan untuk kembali ke Indonesia.
Kondisi tersebut membuat jamaah harus menunggu lebih lama dari jadwal perjalanan yang telah direncanakan.
Sebagai langkah penanganan dan bentuk kepedulian terhadap kondisi jamaah, KKN bersama KUH Jeddah melakukan koordinasi untuk memastikan jamaah mendapatkan tempat tinggal sementara yang aman dan layak selama proses penyelesaian permasalahan berlangsung.
Sebanyak 38 jamaah kemudian difasilitasi untuk berpindah dari Jeddah menuju Wisma Makkah. Pemindahan tersebut dilakukan sebagai bentuk penanganan terhadap kondisi jamaah yang sebelumnya berada dalam situasi kurang menentu akibat belum adanya kepastian mengenai tiket kepulangan.
Selama berada di Wisma Makkah, kebutuhan dasar jamaah diupayakan tetap terpenuhi sembari menunggu kejelasan mengenai penyelesaian permasalahan dari pihak travel.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari sejumlah jamaah dan tour guide, rombongan tersebut sebelumnya mengalami beberapa kali perubahan jadwal keberangkatan. Salah satu jamaah, Mas'ud, 63 tahun, asal Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, menyampaikan bahwa dirinya bersama rombongan awalnya merencanakan perjalanan umrah selama 16 hari.
Namun, perjalanan tersebut mengalami perubahan sehingga masa tinggal jamaah menjadi lebih singkat dari rencana awal. Para jamaah disebut telah berada di Jakarta sebelum keberangkatan dan harus menunggu perubahan jadwal yang sebelumnya direncanakan pada tanggal 10, kemudian kembali mengalami penundaan hingga tanggal 18.
Selama masa penundaan tersebut, kebutuhan hotel dan konsumsi jamaah turut menjadi persoalan yang harus dihadapi. Berdasarkan keterangan tour guide, selama berada di Jakarta sejumlah kebutuhan jamaah harus ditangani secara mandiri. Kondisi serupa juga terjadi ketika rombongan berada di Madinah.
Tour guide menjelaskan bahwa biaya hotel di Madinah yang semestinya ditanggung oleh pihak travel untuk masa tinggal selama empat hari baru dibayarkan untuk satu hari. Sementara itu, biaya untuk tiga hari berikutnya disebut terlebih dahulu ditanggung oleh tour guide. Menurut keterangan yang disampaikan, biaya tersebut nantinya diharapkan dapat diganti atau diremburs oleh pihak travel.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa keterlambatan kepulangan jamaah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tiket penerbangan, tetapi juga berdampak terhadap kebutuhan akomodasi, konsumsi, transportasi, serta kondisi psikologis jamaah selama berada di Arab Saudi.
Dalam situasi tersebut, kehadiran tim KKN Internasional Arab Saudi bersama KUH Jeddah menjadi bagian dari upaya memberikan pendampingan kepada jamaah yang sedang menghadapi permasalahan. Mahasiswa turut membantu proses pemindahan barang bawaan dan koper jamaah dari Jeddah menuju Wisma Makkah.
Selain melakukan pendampingan secara langsung, tim KKN juga melakukan wawancara dengan sejumlah jamaah dan tour guide untuk memperoleh informasi mengenai kondisi yang mereka alami serta kronologi permasalahan yang terjadi. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemantauan dan pendataan permasalahan jamaah.
Salah seorang jamaah, Sauni, 45 tahun, asal Barabai, Kalimantan Selatan, mengungkapkan rasa khawatir dan sedih atas kondisi yang dialami rombongan. Perasaan tersebut muncul karena jamaah belum memperoleh kepastian mengenai proses kepulangan mereka ke Indonesia.
Sejumlah jamaah lainnya yang turut menjadi bagian dari rombongan di antaranya Siti Aisyah, 55 tahun, Yatim, 62 tahun, Samsul, 70 tahun, serta Maskiah, 62 tahun, yang seluruhnya berasal dari Kalimantan Selatan.
Kegiatan pendampingan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting bagi tim KKN Internasional Arab Saudi UIN Bandung dalam memahami secara langsung dinamika pelayanan jamaah umrah di lapangan.
Tim tidak hanya belajar mengenai aspek administrasi dan koordinasi pelayanan, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah permasalahan perjalanan dapat berdampak terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis jamaah.
Melalui koordinasi bersama KUH Jeddah, pemindahan 38 jamaah ke Wisma Makkah diharapkan dapat memberikan tempat yang lebih aman dan layak selama proses penyelesaian permasalahan berlangsung. Pendampingan tersebut sekaligus menjadi bentuk kepedulian terhadap jamaah Indonesia yang menghadapi kendala selama menjalankan ibadah di Arab Saudi.
Bagi tim KKN Internasional Arab Saudi, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kepada jamaah bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan aspek administratif, tetapi juga menyangkut kepastian, keamanan, kenyamanan, serta perlindungan jamaah.
Kehadiran dan pendampingan yang dilakukan diharapkan dapat membantu jamaah menghadapi situasi sulit hingga memperoleh kepastian untuk kembali ke Tanah Air.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


