kampung kerinchi jejak perantau kerinci yang mengadu nasibnya di negeri jiran - News | Good News From Indonesia 2026

Kampung Kerinchi: Jejak Perantau Kerinci yang Mengadu Nasibnya di Negeri Jiran

Kampung Kerinchi: Jejak Perantau Kerinci yang Mengadu Nasibnya di Negeri Jiran
images info

Bangsar South di Kuala Lumpur yang dulunya "bekas" Kampung Kerinchi | *angys*/WikimediaCommons


Jika mendengar kata “Kerinci”, apa yang terlintas di pikiran Kawan GNFI? Nama sebuah kabupaten di Jambi? Atau nama gunung api tertinggi di Sumatra?

Semuanya memang benar. Kerinci merujuk pada nama sebuah kabupaten, Kabupaten Kerinci di Provinsi Jambi dan Gunung Kerinci. Menariknya, Gunung Kerinci bukan hanya menjadi gunung api tertinggi di Sumatra, tapi juga gunung api tertinggi di Indonesia.

Di Kerinci, tinggal sekelompok etnik pribumi yang mendiami kawasan Dataran Tinggi Kerinci. Konon, mereka sudah tinggal di sana sejak 10.000 tahun lalu. Bahkan, suku ini dikatakan menjadi salah satu suku bangsa tertua di Indonesia.

Orang Kerinci suka merantau. Sama halnya dengan tradisi merantau di Sumatra Barat atau Jawa, masyarakat Kerinci juga memiliki konsep merantau keluar daerah yang disebut dengan Rantau Burung Bangau. Banyak faktor yang mendorong masyarakat merantau, salah satunya ekonomi.

Salah satu tujuan perantau ini adalah Malaysia. Saking banyak dan ikoniknya orang Kerinci yang bermigrasi ke Negeri Jiran, sampai ada sebuah perkampungan yang dinamakan Kampung Kerinchi. Kawasan ini menjadi bukti sejarah yang merekam jejak panjang migrasi warga Kerinci ke Malaysia.

Migrasi Orang Kerinci ke Malaysia

Gelombang kedatangan warga Kerinci ke Malaysia sejatinya telah berlangsung secara bertahap sejak abad ke-19. Motivasi awal mereka merantau cukup beragam, mulai dari menghindari tekanan kolonialisme Belanda hingga mengumpulkan biaya untuk menunaikan ibadah haji.

Dalam sejarah pembukaan pemukiman awal di Kuala Lumpur, ada dua sosok utama yang disebut memegang peranan kunci. Sosok pertama adalah Abdullah bin Ahmad asal Tanjung Tanah yang datang pada abad ke-19. Ia menjadi perintis dalam membuka sebagian lahan pemukiman.

Sosok penting lainnya adalah Abdullah Hukum yang berasal dari kawasan Sungai Abu, Kerinci. Ia membuka wilayah Kampung Sungai Putih atau Kampung Abdullah Hukum. Uniknya, ia pernah diangkat sebagai Panglima Perang oleh Kerajaan Selangor.

Atas jasa-jasanya dalam pembangunan dan pertahanan, Sultan Abdul Samad kemudian menganugerahkan sebidang tanah yang berkembang menjadi kawasan permukiman. Jalur migrasi historis ini juga sempat melewati kawasan Pelalawan di Riau sebelum para perantau menetap pesat di Semenanjung Melayu.

baca juga

Kehidupan Perantau di Negeri Jiran

Dalam penelitian Musli dkk di Jurnal Kependudukan Indonesia terbitan BRIN, di masa-masa awal pembentukan perkampungan, masyarakat Kerinci menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Mereka mengolah lahan dengan menanam nanas, nangka, serai, padi, hingga karet. Kemudian, mereka menjual hasilnya ke pasar-pasar terdekat.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya wilayah Kuala Lumpur, jenis lapangan kerja perantau Kerinci berkembang kian luas. Banyak dari mereka yang bekerja sebagai tenaga konstruksi, teknisi perpipaan, pedagang, hingga menjadi pengusaha properti dan perhotelan.

Hasil pendapatan dari merantau ini tidak hanya dipakai untuk bertahan hidup di Malaysia. Aliran remitansi yang dikirim ke kampung halaman bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga, membangun ratusan rumah, serta membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga jenjang perguruan tinggi.

Menariknya, meskipun sudah lama menetap dan berakulturasi, warga Kerinci di Malaysia tetap memelihara ikatan budaya leluhur mereka. Banyak di antara mereka yang masih menggunakan bahasa Kerinci, melaksanakan tradisi adat, serta menjaga jejaring kekeluargaan melalui paguyuban.

Kampung Kerinchi Saat Ini

Secara historis, Kampung Kerinchi tumbuh dari kawasan permukiman seluas kurang lebih 60 hektare. Memasuki era 1990-an, kawasan permukiman padat ini mulai ditata ulang oleh pemerintah lokal menjadi kompleks hunian modern berupa rumah susun dan apartemen.

Perkembangan pesat terjadi pada tahun 2012 saat pihak pengembang properti mengubah nama kawasan ini menjadi Bangsar South. Pergantian nama ini dilakukan demi kepentingan komersial dan pencitraan kawasan hunian elit di Kuala Lumpur.

Namun, kebijakan rebranding ini malah mendapat penolakan dari masyarakat setempat serta para aktivis warisan budaya. Mereka ingin melestarikan nilai sejarah. Respons publik tersebut membuahkan hasil hingga akhirnya pada 19 Januari 2019, nama Kampung Kerinchi secara resmi dikembalikan.

Meskipun secara fisik sudah tidak ada, nama “Kerinci” masih diabadikan sebagai nama sebuah stasiun LRT, yakni Stasiun LRT Kerinchi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.