gunung kerinci gunung berapi tertinggi di asia tenggara dan surga satwa endemik - News | Good News From Indonesia 2026

Gunung Kerinci: Gunung Berapi Tertinggi di Asia Tenggara dan Surga Satwa Endemik

Gunung Kerinci: Gunung Berapi Tertinggi di Asia Tenggara dan Surga Satwa Endemik
images info

Gunung Kerinci: Gunung Berapi Tertinggi di Asia Tenggara dan Surga Satwa Endemik


Menjulang megah di Pulau Sumatra, Gunung Kerinci dikenal sebagai gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Keindahannya bukan hanya terletak pada puncaknya yang diselimuti kabut, tetapi juga pada kekayaan hayati yang mengelilinginya.

Gunung ini menjadi simbol kekuatan alam sekaligus rumah bagi berbagai satwa endemik yang langka dan dilindungi.

Letak Geografis

Sumber: Flickr/buitenzorger.
info gambar

Sumber: Flickr/buitenzorger.


Gunung Kerinci terletak di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat. Dengan ketinggian sekitar 3.805 meter di atas permukaan laut, gunung ini memegang predikat sebagai gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara.

Posisinya berada di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, salah satu taman nasional terbesar di Indonesia dan bagian dari Warisan Dunia UNESCO.

Secara geologis, Gunung Kerinci merupakan bagian dari rangkaian Bukit Barisan yang terbentuk akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Gunung ini masih tergolong aktif dan beberapa kali mengalami erupsi dalam sejarahnya.

Kepulan asap putih yang kerap terlihat dari kawahnya menjadi pengingat bahwa energi vulkanik masih terus bekerja di bawah permukaan.

Keberadaan Gunung Kerinci tidak hanya penting secara geologis, tetapi juga secara ekologis. Lanskapnya mencakup hutan hujan tropis dataran rendah hingga hutan pegunungan dan subalpin, menciptakan gradasi ekosistem yang sangat kaya.

Peran Sebagai Gunung Berapi Tertinggi di Asia Tenggara

Sumber: Alex Drainville.
info gambar

Sumber: Alex Drainville.


Sebagai gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Kerinci memiliki nilai simbolis dan ilmiah yang besar. Status ini menjadikannya salah satu destinasi pendakian paling bergengsi di kawasan regional.

Para pendaki dari dalam dan luar negeri datang untuk menaklukkan puncaknya, yang menawarkan panorama Danau Gunung Tujuh dan hamparan hutan lebat dari ketinggian.

Ketinggian dan aktivitas vulkaniknya juga berperan dalam membentuk kesuburan tanah di sekitarnya. Abu vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi mengandung mineral yang memperkaya tanah, sehingga wilayah sekitar gunung dikenal subur dan cocok untuk pertanian.

Banyak masyarakat lokal menggantungkan hidup pada perkebunan teh, kayu manis, dan sayuran yang tumbuh di lerengnya.

Di sisi lain, statusnya sebagai gunung aktif menuntut pemantauan terus-menerus. Aktivitas seismik dan vulkanik diawasi untuk mengurangi risiko bencana. Dengan demikian, Gunung Kerinci menjadi contoh nyata bagaimana manusia hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang dinamis.

Habitat Satwa Endemik yang Langka

Sumber: Flickr/Belteshazzar.
info gambar

Sumber: Flickr/Belteshazzar.


Salah satu peran terpenting Gunung Kerinci adalah sebagai habitat berbagai satwa endemik Sumatra yang terancam punah. Kawasan hutan di sekitarnya menjadi rumah bagi Harimau Sumatra, subspesies harimau yang hanya ditemukan di Pulau Sumatra.

Predator puncak ini membutuhkan wilayah jelajah yang luas dan hutan yang terjaga untuk bertahan hidup.

Selain harimau, kawasan ini juga menjadi habitat Badak Sumatra, salah satu mamalia paling langka di dunia. Keberadaan badak ini menunjukkan pentingnya hutan pegunungan sebagai tempat perlindungan terakhir bagi spesies yang hampir punah.

Satwa lain seperti tapir Asia, siamang, dan berbagai jenis burung endemik juga hidup di dalam kawasan taman nasional.

Keanekaragaman hayati di Gunung Kerinci tidak hanya terbatas pada fauna. Flora endemik seperti bunga rafflesia dan berbagai jenis anggrek hutan tumbuh di lantai hutan yang lembap.

Kombinasi ketinggian, curah hujan tinggi, dan tanah vulkanik menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan spesies unik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Tantangan Konservasi dan Peran Masyarakat

Sumber: Flickr/Luke Mackin.
info gambar

Sumber: Flickr/Luke Mackin.


Meski memiliki status kawasan lindung, Gunung Kerinci dan sekitarnya tetap menghadapi berbagai tantangan. Perambahan hutan, perburuan liar, dan konflik antara manusia dan satwa menjadi ancaman nyata.

Ketika habitat menyempit, satwa seperti harimau terkadang memasuki area perkebunan atau permukiman, memicu konflik yang merugikan kedua belah pihak.

Upaya konservasi dilakukan melalui patroli hutan, penelitian ilmiah, dan program pemberdayaan masyarakat. Edukasi lingkungan menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem.

Masyarakat lokal dilibatkan dalam kegiatan ekowisata dan pelestarian, sehingga mereka memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak alam.

Ekowisata pendakian Gunung Kerinci juga berperan dalam mendukung konservasi. Dengan pengelolaan yang tepat, aktivitas wisata dapat memberikan pemasukan bagi daerah sekaligus mendorong perlindungan lingkungan.

Pendekatan berkelanjutan ini penting agar keindahan dan kekayaan hayati gunung tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Makna Kerinci bagi Indonesia dan Asia Tenggara

Sumber: Flickr/Luke Mackin.
info gambar

Sumber: Flickr/Luke Mackin.


Gunung Kerinci bukan sekadar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Ia adalah simbol keagungan alam Indonesia dan representasi keseimbangan antara kekuatan geologi dan kekayaan hayati.

Dari puncaknya yang megah hingga hutan lebat di kakinya, gunung ini menyimpan cerita tentang evolusi bumi dan kehidupan yang bergantung padanya.

Perannya sebagai habitat satwa endemik menjadikan Gunung Kerinci sangat penting dalam upaya pelestarian biodiversitas global. Melindungi gunung ini berarti menjaga salah satu benteng terakhir bagi spesies langka Sumatra.

Dengan pengelolaan yang bijaksana dan komitmen bersama, Gunung Kerinci akan terus berdiri sebagai penjaga alam dan kebanggaan Asia Tenggara.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.