Ketika gunung api erupsi, abu vulkanik dapat mulai turun dan suara letusan terdengar. Dalam kondisi seperti ini, kepanikan justru dapat membuat seseorang sulit mengambil keputusan dengan tepat.
Erupsi gunung api tidak hanya menimbulkan lava. Awan panas, lontaran material pijar, gas vulkanik, hujan abu, dan lahar juga dapat menjadi ancaman.
Tingkat bahaya setiap erupsi dapat berbeda, tergantung pada aktivitas gunung, lokasi masyarakat, arah ancaman, serta arahan dari pihak berwenang.
Mengenal Bahaya Erupsi Gunung Api
Sebelum mengetahui langkah yang perlu dilakukan, penting untuk mengenali berbagai bahaya yang dapat muncul saat gunung api erupsi. Beberapa di antaranya adalah:
- Awan panas
Awan panas merupakan campuran gas dan material vulkanik panas yang bergerak mengikuti gravitasi dan cenderung mengalir melalui lembah. Suhunya dapat mencapai 300–700 derajat Celsius dengan kecepatan lebih dari 70 km/jam. - Aliran lava
Aliran lava berasal dari magma yang keluar ke permukaan melalui rekahan. Suhunya sangat tinggi dan dapat merusak berbagai infrastruktur yang dilaluinya. - Gas beracun
Gas vulkanik dapat membahayakan kesehatan bahkan mematikan jika terhirup. Beberapa jenisnya adalah CO2, SO2, Rn, H2S, HCl, HF, dan H2SO4. Gas tersebut umumnya tidak berwarna dan tidak berbau. - Lontaran material pijar
Material pijar dapat terlontar saat terjadi letusan magmatik. Material ini dapat berukuran lebih dari 10 cm, bersuhu hingga 200 derajat Celsius, dan terlontar hingga jarak yang sangat jauh. - Hujan abu
Hujan abu berupa material vulkanik berukuran halus yang dapat terbawa dan bergerak mengikuti arah angin. Dampaknya dapat dirasakan hingga wilayah yang berada di luar kawasan erupsi. - Lahar letusan
Lahar letusan dapat terjadi pada gunung api yang memiliki danau kawah. Saat erupsi, air dapat bercampur dengan material vulkanik dan mengalir sebagai banjir lahar.
Hal yang Perlu Dilakukan saat Erupsi Gunung
Ketika erupsi terjadi, keselamatan harus menjadi prioritas. Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:
- Segera menjauh dari zona bahaya
Jika suatu wilayah sudah direkomendasikan untuk dikosongkan, segera tinggalkan lokasi dan menuju tempat yang telah ditentukan sebagai tempat aman atau shelter. - Hindari lembah dan daerah aliran sungai
Lembah dan aliran sungai dapat menjadi jalur material vulkanik, termasuk lahar. Masyarakat sebaiknya menjauhi kawasan tersebut selama kondisi masih berbahaya. - Gunakan masker dan kacamata pelindung
Masker membantu melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik, sedangkan kacamata pelindung dapat mengurangi paparan abu pada mata. - Gunakan pakaian tertutup
Kenakan pakaian yang dapat melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, jaket, dan penutup kepala. - Ikuti arahan petugas
Selama berada di tempat pengungsian atau shelter, perhatikan arahan dari pihak berwenang. Petunjuk tersebut menjadi acuan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga mencapai wilayah di luar lokasi erupsi. Perlindungan diri tetap diperlukan ketika abu mulai turun.
- Hindari tempat terbuka
Segera cari tempat yang lebih aman ketika abu vulkanik mulai turun dan hindari berada di ruang terbuka. - Gunakan masker
Masker atau kain basah dapat digunakan untuk menutup hidung dan mulut agar abu vulkanik tidak mudah masuk ke saluran pernapasan. - Pakai kacamata pelindung
Gunakan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan abu terhadap mata. - Hindari penggunaan lensa kontak
Lensa kontak sebaiknya tidak digunakan ketika terjadi paparan abu vulkanik karena dapat menyebabkan iritasi pada mata. - Kenakan pakaian tertutup
Lindungi tubuh dengan pakaian lengan panjang, celana panjang, dan topi untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
Apabila mengalami luka selama proses evakuasi, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat yang tidak terdampak. Selama berada di posko pengungsian, masyarakat juga perlu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk menghindari potensi penyakit.
Pentingnya Mengikuti Informasi Resmi saat Gunung Erupsi
Kondisi gunung api dapat berubah sehingga status aktivitas dan rekomendasi keselamatan dapat diperbarui berdasarkan hasil pemantauan.
Masyarakat perlu mengutamakan informasi dari pihak berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, BPBD, BNPB, pemerintah daerah, serta Pos Pengamatan Gunung Api.
Informasi resmi tidak hanya menentukan apakah masyarakat perlu mengungsi, tetapi juga menunjukkan wilayah yang harus dihindari. Hal ini penting karena tingkat ancaman dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan pesan berantai, video lama, atau unggahan media sosial yang tidak jelas sumber dan waktunya. Informasi yang tidak tepat dapat menimbulkan kepanikan dan membuat masyarakat mengambil tindakan yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Waspadai Bahaya Lain setelah Erupsi
Berkurangnya aktivitas atau berakhirnya letusan bukan berarti seluruh wilayah di sekitar gunung sudah aman. Masih terdapat kemungkinan munculnya bahaya sekunder, salah satunya lahar.
Lahar dapat terjadi ketika material vulkanik bercampur dengan air hujan. Aliran tersebut dapat membawa material vulkanik dan berbagai reruntuhan di sepanjang sungai.
Masyarakat perlu tetap waspada, terutama di sekitar sungai yang berhulu di gunung api. Perhatikan kondisi aliran sungai dan hindari kawasan yang berpotensi terdampak ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Kesiapsiagaan sebelum Erupsi Bisa Menyelamatkan Diri
Persiapan sebelum erupsi dapat membantu masyarakat menghadapi keadaan darurat dengan lebih terorganisir.
Masyarakat juga perlu memantau perkembangan aktivitas gunung dan menyiapkan rencana evakuasi lain apabila dampak erupsi meluas di luar perkiraan.
Siapkan pula perlengkapan darurat seperti masker, kacamata pelindung, makanan dan minuman, senter beserta baterai cadangan, uang tunai, serta obat-obatan khusus. Tas siaga dapat dilengkapi dokumen penting, seperti KTP, kartu keluarga, ijazah, sertifikat, dan buku tabungan yang disimpan dalam wadah tahan air.
Bagi pendaki, pendakian sebaiknya tidak dilakukan pada gunung yang menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik atau memiliki status Waspada, Siaga, maupun Awas.
Dengan memahami potensi bahaya, masyarakat dapat menghadapi erupsi dengan lebih tenang serta mengurangi risiko.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


