Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Sabtu, 5 September 2026. Erupsi kali ini, ada semburan merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Badan Geologi menyebut fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Menurut Badan Geologi, lava fountain dapat berlangsung selama beberapa jam dan berasosiasi dengan keluarnya aliran lava.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menjelaskan bahwa lava fountain terbentuk ketika magma yang naik ke permukaan membawa gas dalam jumlah besar. Saat gas tidak bisa keluar dengan cepat, tekanannya mendorong lava ke atas hingga menyembur seperti air mancur.
USGS juga menyebut fenomena tersebut sebagai Hawaiian explosive activity. Istilah itu berkaitan dengan Kīlauea di Hawaii yang menjadi salah satu lokasi tipe aktivitas tersebut.
Anak Krakatau sendiri sudah berkali-kali menunjukkan fenomena ini jauh sebelum erupsi 5 September 2026.
Pada Februari 1999, catatan vulkanologi Indonesia menyebut lontaran material pijar berlangsung hampir terus-menerus seperti air mancur atau lava fountain. Ketinggian material pijar saat itu mencapai sekitar 20 meter dari puncak.
Pada malam hari, aktivitas tersebut terlihat sebagai semburan cahaya merah. Pada siang hari, lontaran material disertai asap abu-abu dan bom vulkanik.
Fenomena serupa juga menjadi bagian dari rangkaian aktivitas Anak Krakatau pada 2018.
Dengan demikian, semburan merah yang terlihat pada Anak Krakatau sekarang merupakan bagian dari perilaku vulkanik yang memang sudah beberapa kali tercatat.
Gunung yang Mengalami Lava Fountain
Kawan, lava fountain juga terjadi pada sejumlah gunung api di Tanah Air. Beberapa di antaranya bahkan menghasilkan peristiwa yang jarang diketahui publik.
1. Gunung Agung (1963): Air Mancur Lava Sebelum Erupsi Mematikan
Gunung Agung mengalami erupsi besar pada 1963. Peristiwa itu menjadi catatan sejarah. Sebab, erupsi tersebut menjadi salah satu letusan gunung api paling mematikan di Indonesia.
Nah, sebelum memasuki fase erupsi besar, Gunung Agung mengalami fire fountaining of lava di kawah puncaknya.
Penelitian yang diterbitkan di Scientific Reports mencatat bahwa pada Februari 1963, aktivitas tersebut menyebabkan lava terakumulasi di dalam kawah. Lava kemudian keluar melalui bagian rendah pada dinding kawah dan mengalir sekitar 7,5 kilometer ke lereng utara.
Baru kemudian aktivitas Agung meningkat drastis. Pada 17 Maret 1963, Agung mengalami fase paroksismal. Kolom erupsinya mencapai sekitar 19–26 kilometer. Aliran piroklastik menjalar hingga 10,5–14 kilometer dan diikuti lahar. Lebih dari 1.000 orang meninggal dalam rangkaian bencana tersebut.
Pada Jumat malam, 24 Mei 2019, gunung ini juga mengalami erupsi, diawali dengan fenomena lava fountain.
“Letusan diawali lava fountain sekitar 15 detik kemudian diikuti aliran lava,” kata Mirzam Abdurrachman, pengamat dan peneliti Gunung Agung dari Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung, Jumat malam 24 Mei 2019, sebagaimana dikutip dari Tempo.co.
2. Banda Api (1988): Lava Menyembur dari Rekahan yang Membelah Pulau
Gunung Api Banda atau Banda Api berada di Kepulauan Banda, Maluku. Pada 9 Mei 1988, gunung ini mulai erupsi. Erupsi berlangsung melalui sebuah sistem rekahan yang memanjang sekitar 3 kilometer dan memotong bagian gunung. Dari rekahan tersebut muncul aktivitas eksplosif sekaligus aliran lava.
Global Volcanism Program milik Smithsonian mencatat bahwa pada 10 Mei 1988 terlihat minor lava fountaining di dekat pantai utara. Foto tersebut dibuat oleh Willem Rohi dari Volcanological Survey of Indonesia.
Sebagian aliran mencapai pantai dan masuk ke laut. Smithsonian mencatat bahwa lava dari sejumlah ventilasi di lereng utara dan barat laut mencapai pesisir. Salah satu aliran bahkan menimpa wilayah permukiman.
Erupsi tersebut juga menghasilkan sekitar 9,4 juta meter kubik lava, yang sebagian besar keluar dalam 12–18 jam pertama rangkaian erupsi 9–15 Mei 1988.
3. Karangetang (2000): Lava Fountain hingga Puluhan Meter
Beranjak ke Pulau Siau, Sulawesi Utara. Di sana terdapat Gunung Karangetang, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Karangetang memiliki sejarah erupsi yang panjang. Smithsonian mencatat lebih dari 40 erupsi sejak 1675, belum termasuk sejumlah aktivitas kecil yang tidak terdokumentasikan.
Pada 2000, aktivitas lava fountain teramati di kawah utama. Pada beberapa periode, semburan lava mencapai sekitar 50 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut juga disertai aliran lava dan material longsoran yang bergerak menuju Bahembang River.
Karangetang kemudian kembali menunjukkan lava fountain pada 2007. Pada 8 Agustus 2007, semburan lava tercatat mencapai 25–75 meter di atas puncak.
Beberapa hari kemudian, aliran lava dan aliran piroklastik teramati di lereng. Lebih dari 500 orang dari desa-desa di lereng gunung harus dievakuasi.
4. Soputan, 2005: Lava Fountain Setinggi 200 Meter
Pada 20 April 2005, lava fountain di Soputan mencapai sekitar 200 meter di atas gunung. Beberapa jam kemudian, antara 20 April hingga pagi 21 April, semburan masih mencapai sekitar 75–100 meter.
Pada 2 Juli 2005, aktivitas Strombolian kembali menghasilkan lava fountain dengan tinggi sekitar 10–50 meter di atas kawah. Lava juga mengalir hingga sekitar 200 meter ke arah barat pada episode tersebut.
5. Raung (2015): Lava Fountain yang Dipantau Satelit
Pada Juni hingga Agustus 2015, aktivitas Raung tidak hanya diamati dari darat. Peneliti menggunakan data Himawari-8 untuk mempelajari rangkaian erupsinya.
Penelitian yang diterbitkan di Earth, Planets and Space menyebut erupsi Raung 2015 sebagai erupsi efusif yang melibatkan aktivitas Strombolian dan/atau lava fountaining.
Pada 1 Juli 2015, rekaman video pendaki menunjukkan aktivitas Strombolian dan/atau lava fountain di atas kerucut di dalam kaldera. Dari bagian dasar kerucut juga terlihat aliran lava yang terus keluar.
Data satelit kemudian membantu peneliti melihat perubahan aktivitas panas di Raung dari waktu ke waktu.
Data tersebut bisa digunakan untuk membaca kapan lava mulai keluar, kapan aktivitas meningkat, dan kapan alirannya kembali menurun.
Jadi, Kenapa Lava Bisa Menyembur Seperti Air Mancur?
Kuncinya ada pada gas di dalam magma. Saat magma naik ke permukaan, tekanannya semakin berkurang. Gas yang ada di dalam magma pun mulai membentuk gelembung.
Jika gas keluar dengan cepat, dorongannya bisa membuat magma ikut menyembur ke atas. Inilah yang disebut lava fountain atau air mancur lava.
USGS menggambarkannya mirip seperti membuka botol minuman bersoda. Saat tutup dibuka, gas di dalamnya mendorong cairan keluar. Hal serupa terjadi pada magma.
Nah, Kawan, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa bentuk erupsi setiap gunung api bisa berbeda. Ada magma yang mengalir menjadi lava, meletup-letup, menyembur membentuk lava fountain, atau dda juga yang menumpuk dan membentuk kubah lava.
Perbedaannya dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama jumlah gas dan tingkat kekentalan magma.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


