Jauh sebelum Selat Sunda terbentang seperti sekarang, Pulau Jawa dan Sumatra dipercaya masih terhubung oleh daratan. Di antara kedua wilayah itu berdiri sebuah kerajaan besar yang dipimpin Prabu Rakata, seorang raja yang dikenal memiliki kesaktian.
Selain memimpin kerajaan, Prabu Rakata juga menyimpan sebuah kendi tanah liat pusaka yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhurnya.
Prabu Rakata memiliki dua putra dengan sifat yang sangat berbeda. Raden Sundana adalah seorang pangeran yang berani, keras, dan berambisi besar untuk memperluas kekuasaannya. Sementara itu, Raden Tapa Baruna lebih tenang dan banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat sunyi untuk bertapa.
Ketika usianya semakin tua, Prabu Rakata memutuskan membagi kerajaannya kepada kedua putranya. Raden Sundana memperoleh wilayah di sebelah timur, sedangkan Raden Tapa Baruna mendapatkan wilayah di sebelah barat. Setelah pembagian itu, Prabu Rakata meninggalkan istana dan memilih menjalani kehidupan sebagai pertapa.
Wilayah yang dipimpin Raden Tapa Baruna berkembang dengan pesat. Tanahnya subur, sungai mengalir jernih, dan hasil pertanian memenuhi lumbung-lumbung penduduk. Dari kejauhan, Raden Sundana memperhatikan perkembangan wilayah saudaranya dan mulai merasa tidak puas dengan kerajaan yang dimilikinya.
Keinginan untuk menguasai wilayah yang lebih luas membuat Raden Sundana mengerahkan pasukannya. Ia bergerak menuju wilayah barat dan memerintahkan pasukannya menyerang kerajaan Raden Tapa Baruna. Kabar tentang pertempuran itu segera menyebar hingga ke desa-desa di sekitar kerajaan.
Pertempuran berlangsung semakin sengit. Suara senjata terdengar di antara pepohonan, sementara tanah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggal masyarakat mulai dipenuhi jejak pertempuran. Tidak ada yang mengetahui bahwa suara keributan itu akhirnya akan membawa perubahan besar pada bentuk daratan.
Di tempat pertapaannya, Prabu Rakata merasakan sesuatu yang berbeda. Tanah di bawah tempat duduknya bergetar perlahan, seolah-olah menyampaikan kabar dari tempat yang jauh. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju sumber keributan yang terjadi di antara kedua wilayah putranya.
Ketika tiba di medan pertempuran, Prabu Rakata melihat kedua pasukan masih saling berhadapan. Raden Sundana berdiri di depan barisan pasukannya, sedangkan Raden Tapa Baruna berada di sisi lain dengan pasukan yang berusaha mempertahankan wilayahnya. Prabu Rakata kemudian mengeluarkan kendi pusaka yang selama ini disimpannya.
Kendi itu tampak sederhana seperti kendi tanah liat pada umumnya. Namun, benda tersebut dipercaya memiliki kekuatan yang diwariskan oleh leluhur Prabu Rakata. Ia membawa kendi itu ke tengah medan pertempuran dan menuangkan air dari dalamnya ke tanah.
Air mengalir perlahan di antara kedua wilayah. Tidak lama kemudian, tanah mulai bergetar semakin kuat dan suara retakan terdengar dari kejauhan. Retakan itu memanjang, membelah daratan yang selama ini menghubungkan wilayah timur dan barat.
Permukaan tanah kemudian terbelah semakin lebar. Air laut masuk melalui celah tersebut dan membentuk sebuah selat yang memisahkan daratan Jawa dan Sumatra. Dari tempat yang semula merupakan daratan, perlahan terbentuk bentangan laut yang kemudian dikenal sebagai Selat Sunda.
Setelah daratan terpisah, Prabu Rakata membawa kendi pusaka yang telah kosong menuju tepian laut. Ia melemparkannya ke tengah perairan yang baru terbentuk. Kendi itu tenggelam di antara gelombang, tetapi beberapa saat kemudian permukaan laut kembali bergolak.
Dari dasar laut muncul gundukan tanah yang semakin lama semakin tinggi. Asap mengepul dari puncaknya, sementara suara gemuruh terdengar hingga ke daratan. Sebuah gunung baru kemudian berdiri di tengah kawasan perairan tersebut.
Gunung itu kemudian dikenal dengan nama Krakatau. Bentuknya menjadi bagian dari lanskap Selat Sunda dan kisah tentang kemunculannya terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama Prabu Rakata pun tetap melekat dalam cerita yang berkembang di masyarakat sekitar Selat Sunda.
Kini, Krakatau dikenal sebagai salah satu kawasan vulkanik penting di Indonesia. Di balik bentang alamnya yang berada di antara Jawa dan Sumatra, tersimpan berbagai cerita tentang masa lalu yang berkembang dalam tradisi masyarakat.
Salah satunya adalah legenda tentang Prabu Rakata, dua putranya, sebuah kendi pusaka, dan daratan yang dipercaya terbelah hingga membentuk Selat Sunda.
Catatan:
- Versi ini mempertahankan cerita sebagai legenda, bukan sebagai penjelasan geologis tentang terbentuknya Krakatau. Pendekatan tersebut penting karena kisah Prabu Rakata memang muncul dalam tradisi cerita rakyat, sementara sejarah geologi Krakatau memiliki penjelasan ilmiah tersendiri.
- Cerita ini bukan merujuk pada sumber referensi ilmiah, melainkan adaptasi fiksi naratif. Unsur seperti Prabu Rakata, Raden Sundana, Raden Tapobrana/Tapabaruna, guci pusaka, terbentuknya Selat Sunda, dan berubahnya guci menjadi Gunung Krakatau bersumber dari versi legenda yang telah berkembang dalam tradisi cerita rakyat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


