letusan krakatau 1883 bencana dari indonesia yang menggemparkan dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Letusan Krakatau 1883, Bencana dari Indonesia yang Menggemparkan Dunia

Letusan Krakatau 1883, Bencana dari Indonesia yang Menggemparkan Dunia
images info

Akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883 | Sumber: Pexels


Akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883 terasa hingga ke belahan dunia yang sangat jauh ketika warga Eropa dan Amerika mengamati langit senja berubah warna menjadi merah menyala secara misterius.

Fenomena optik menakjubkan ini diiringi oleh pemandangan Bulan yang tampak berwarna kebiruan di malam hari, memicu teka-teki besar bagi para ilmuwan era tersebut. Bagaimana mungkin sebuah letusan gunung api di kawasan Selat Sunda mampu memengaruhi atmosfer dan memancarkan keindahan sekaligus kegelapan di wilayah ribuan kilometer jauhnya?

Dikutip dari Kementerian ESDM, meletusnya Gunung Krakatau berpuncak pada 26–27 Agustus 1883 ini melontarkan jutaan ton material ke stratosfer dan menciptakan riak gelombang bencana yang melintasi samudra. Letusan Krakatau 1883 berdampak hingga Eropa dan Amerika, membuat Matahari terbenam merah menyala, Bulan membiru, dan suhu global menurun.

Bagi Kawan GNFI, memahami jejak sejarah ini memberikan gambaran ilmiah bagaimana dinamika vulkanis lokal di Indonesia dapat mengguncang tata iklim dan persepsi manusia secara global.

Letusan Krakatau 1883 dan Bencana yang Mengubah Bentang Selat Sunda

Terletak di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra, Gunung Krakatau mengalami puncak erupsi paroksismal pada akhir Agustus 1883. Erupsi eksplosif tersebut meruntuhkan kaldera dan menghancurkan dua pertiga struktur pulau Krakatau ke dalam laut. 

Runtuhan massif ini memicu gelombang tsunami dahsyat yang menyapu kawasan pesisir. Menurut catatan Smithsonian Global Volcanism Program, peristiwa kolapsnya pulau ini menjadi pemicu utama kehancuran fisik di sekitarnya.

Lebih dari 36.000 Jiwa Menjadi Korban Letusan Krakatau

Dampak kemanusiaan dari bencana ini sangat tragis, di mana korban letusan Gunung Krakatau sebagian besar tidak gugur akibat hempasan material langsung, melainkan akibat tsunami. Gelombang tinggi menerjang ratusan desa pesisir di Banten dan Lampung tanpa peringatan.

Catatan historis resmi yang dirujuk dari laman resmi Kementerian ESDM mengonfirmasi lebih dari 36.417 jiwa meninggal dunia akibat tsunami dampak dari letusan Gunung Krakatau, menjadikannya salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah modern.

Sejauh Mana Dampak Letusan Krakatau Menyebar?

Banyak orang bertanya, Gunung Krakatau meletus sampai negara mana saja? Secara fisik, kerusakan akibat tsunami dan jatuhan abu pekat melanda Indonesia, tetapi dampak atmosferiknya menjangkau seluruh planet.

Dikutip dari laman resmi Sekretariat Kota Banjarmasin, berikut ini dampak meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883.

WilayahBentuk Dampak Utama
Jawa & SumatraTsunami dahsyat, abu pekat, dan kehancuran fisik
Asia & Samudra HindiaGelombang pasang dan gangguan pelayaran
Eropa & Amerika UtaraFenomena optik atmosferik dan langit merah, debu
GlobalPenurunan suhu Bumi dan perubahan iklim sementara

Mengapa Matahari Terbenam Tampak Merah Menyala?

Menurut dikutip dari laman resmi Sekretariat Kota Banjarmasin, letusan dahsyat yang suara ledakan dan gemuruh letusan terdengar hingga sampai radius 4.653 kilometer ini menyuntikkan gas sulfur dioksida dan aerosol vulkanik tinggi ke lapisan stratosfer.

Aerosol ini membiaskan dan menghamburkan cahaya Matahari pada panjang gelombang pendek, sehingga hanya cahaya merah berpanjang gelombang lebih besar yang lolos ke mata pengamat di 1/8 wilayah bumi termasuk Eropa dan Amerika Utara.

Benarkah Bulan Tampak Biru Setelah Krakatau?

Laporan sejarah yang dicatat NASA dan Natural History Museum membenarkan fenomena Bulan biru ini. Partikel abu vulkanik berukuran sekitar 1 mikron berhamburan di atmosfer dan bertindak sebagai penyaring optik, membiarkan cahaya merah tersaring dan memantulkan warna kebiruan pada penampakan Bulan.

Dampaknya terhadap Suhu Bumi dan Iklim Global

Lapisan aerosol sulfat yang menyelimuti stratosfer memantulkan sebagian radiasi sinar Matahari kembali ke ruang angkasa. Menurut laman resmi Sekretariat Kota Banjarmasin, hal ini memicu dampak letusan Gunung Krakatau berupa penurunan suhu rata-rata global hingga sekitar 1,2°C pada tahun berikutnya, memicu cuaca dingin ekstrem dan perubahan pola iklim sementara di berbagai belahan dunia.

baca juga

Mengapa Letusan Krakatau 1883 Dianggap Berdampak Global?

Keistimewaan letusan ini terletak pada jangkauannya yang memadukan kehancuran fisik lokal dengan perubahan atmosfer global. Didukung oleh jaringan telegraf bawah laut yang mulai berkembang saat itu, Krakatau menjadi bencana alam pertama yang kabarnya menyebar secara real-time ke seluruh dunia.

Memahami peristiwa bersejarah ini memberikan pelajaran berharga bahwa aktivitas geologi di Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan dinamika iklim dunia.

Melalui literasi bencana, Kawan GNFI dapat lebih menghargai pentingnya mitigasi dan pemantauan gunung api secara berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Evita Damayanti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Evita Damayanti.

ED
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.