Muhammad Fauzan Adhiima memulai masa kuliahnya di ITB sebagai mahasiswa “cupu”. Ia hanya mengantongi IP semester 2,39 kala masih berstatus maba. Sebab, ia mengakui dirinya merasa kesulitan dan tertinggal di bagian sains dasar. Tetapi toh itu hanya terjadi pada semester awal.
Pada akhirnya, laki-laki ini sempat menemukan masa ketika dirinya merasa tertinggal. Dari sanalah prestasinya melejit.
Malah, beberapa tahun kemudian, mahasiswa Fisika ini menjadi penulis utama dari riset tentang serbuk besi dan seng yang terbit di jurnal Powder Technology.
Ya, mahasiswa Program Studi Sarjana Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengawali kuliah pada 2022 dengan IP semester pertama 2,39. Tentu, ia sempat merasa minder dan berada di titik hampir harus mengulang mata kuliah.
Dua tahun kemudian, Fauzan mengejar teman-temannya. IP semester kelima Fauzan melonjak hingga mencapai 3,46.
Di semester itu, bukan hanya nilai akademiknya yang berubah. Ia juga bertumbuh karena menemukan bidang yang membuatnya betah berlama-lama di laboratorium, yakni fisika eksperimen.
“Kesenangannya bukan pada rumus yang elegan, tetapi pada proses mencoba, gagal, mencoba lagi — sampai solusi ditemukan. Dari situ tumbuh rasa penasaran yang tidak pernah berhenti,” katanya, sebagaimana dikutip dari unggahan di Instagram resmi ITB.
Fisika Eksperimen adalah Fauzan Banget
Usai menemukan mata kuliah yang “Fauzan banget”, ia makin semangat. Fauzan mengerjakan penelitian tentang bagaimana susunan serbuk besi (Fe) dan seng (Zn) memengaruhi kemampuan material menghantarkan listrik.
Riset itu kemudian terbit di jurnal Powder Technology, dengan judul Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe–Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology.
ScienceDirect mencatat artikel itu ditulis oleh Muhammad Fauzan Adhiima bersama Irfan Dwi Aditya, Aditya Aryashakti Putra Rahmawan, dan Muhammad Miftahul Munir.
Menurut profil SINTA Institut Teknologi Bandung, artikel tersebut tercatat dalam jurnal Powder Technology dengan kategori Q1.
Capaian publikasi ini pun menunjukkan bagaimana Fauzan berproses usai menemukan bidang yang disukainya.
Bukan Rumus di Papan Tulis yang Fauzan Cari
Salah satu mata kuliah yang mengubah pandangannya terhadap Fisika adalah Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika.
Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika pada dasarnya adalah mata kuliah yang mengajarkan mahasiswa bagaimana membuat, menggunakan, dan mengembangkan alat untuk melakukan percobaan fisika serta mengambil data dari percobaan tersebut.
Jadi, di mata kuliah ini, Fauzan menemukan fakta bahwa fisika tidak hanya berisi rangkaian rumus. Fauzan kemudian menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.
“Untuk pertama kalinya, saya merasa hidup di dalam kelas,” katanya.
Ia menikmati proses mencoba, menemukan kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba kembali.
“Kesenangannya bukan pada rumus yang elegan, tetapi pada proses mencoba, gagal, mencoba lagi — sampai solusi ditemukan. Dari situ tumbuh rasa penasaran yang tidak pernah berhenti,” imbuhnya.
Riset yang Berkali-kali Gagal Sebelum Menemukan Temuan 56 Kali Lipat
Riset Fauzan dimulai pada Mei 2025 bersama Prof. Dr. Eng. Muhammad Miftahul Munir, S.Si., M.Si. Ia meneliti serbuk besi (Fe) dan seng (Zn), khususnya bagaimana susunan kedua material itu memengaruhi kemampuan menghantarkan listrik. Sebanyak 13 sampel dengan empat konfigurasi diuji. Pengukuran dilakukan saat serbuk dipadatkan dengan tekanan hingga 20 MPa.
Dalam penelitian ini, Fauzan mengukur resistivitas, yakni ukuran seberapa kuat material menghambat aliran listrik. Semakin tinggi nilainya, semakin sulit listrik mengalir.
Namun, eksperimen pertama tidak berjalan sesuai rencana. Material yang digunakan menghasilkan data yang tidak konsisten. Atas saran Prof. Miftahul Munir, Fauzan kemudian beralih ke sistem serbuk Fe-Zn.
Dari Juni hingga November 2025, ia melakukan pengukuran secara manual. Ia harus menimbang serbuk, menekannya, mengukur ketebalannya, lalu mencatat hasilnya satu per satu. Pekerjaan berulang selama enam bulan itu kemudian mendorongnya membuat alat sendiri.
Pada Desember 2025, Fauzan mulai merancang dan merakit CAAI 2103, alat untuk mengotomatisasi pengukuran resistivitas serbuk. Masalah baru muncul saat proses kalibrasi ketebalan pada Januari hingga Maret 2026. Hasilnya berkali-kali gagal. Proyek tersebut bahkan nyaris dibatalkan. Fauzan akhirnya menggunakan koreksi matematis setelah pengukuran sehingga data masih dapat diperbaiki berdasarkan kesalahan yang ditemukan.
Dari eksperimen yang berulang itu, muncul temuan yang justru tidak ia duga. Konfigurasi Fe-Zn-Fe dan Zn-Fe-Zn memiliki komposisi yang sama, tetapi resistivitasnya dapat berbeda hingga 56 kali lipat.
Artinya, sifat listrik material ternyata tidak hanya ditentukan oleh jumlah besi dan seng. Posisi dan susunan material juga ikut memengaruhi jalur listrik di dalam sampel. Penelitian ini menyebutnya sebagai configuration-dependent resistivity.
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan kontak antarpadat. Serbuk tidak tersusun serapat logam padat. Ada celah di antara partikel, sementara permukaannya dapat memiliki lapisan oksida yang menghambat aliran listrik. Ketika ditekan, partikel-partikel tersebut semakin rapat dan membentuk lebih banyak titik kontak.
Penelitian Fauzan juga menggunakan XRD (X-ray diffraction) untuk membantu mengidentifikasi fase material, termasuk oksida besi. Dari sini, peneliti melihat bahwa konfigurasi dan posisi kontak dengan punch, bagian alat yang menekan serbuk, turut menentukan resistivitas.
Setelah eksperimen selesai, perjuangan belum berhenti. Reviewer meminta bukti tambahan melalui XPS dan TEM. Dua metode ini digunakan untuk melihat komposisi kimia permukaan serta struktur material dalam skala sangat kecil.
Karena fasilitas tersebut tidak tersedia di laboratorium, Fauzan mencari bukti alternatif selama sekitar tiga minggu. Setelah melalui proses revisi, penelitiannya akhirnya terbit pada Agustus 2026 di Powder Technology, jurnal yang tercatat dalam kategori Q1.
Dari situ, pada akhirnya, Fauzan menemukan bahwa dirinya lebih menikmati proses mencari tahu daripada sekadar mencari jawaban yang sudah tersedia. Meskipun ia harus berkali-kali gagal dan mencoba lagi.
Sebagaimana katanya, “Jangan menyerah, putus asa tidak apa-apa tetapi jangan menyerah.”
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


