Bicara soal krisis iklim seringkali identik dengan seminar formal yang terasa berat dan satu arah. Namun tidak demikian dengan sesi Climate Lab: Track Your Impact yang digelar program Incoming Global Volunteer (IGV) bersama WALHI Lampung di Cobakmie pada Senin, 10 Agustus 2026. Selama lima jam penuh, sesi ini dikemas dengan format interaktif yang membuat isu berat seputar jejak karbon terasa ringan, relevan, dan tetap bermanfaat.
Acara yang diikuti oleh salah satu Exchange Participant, dua Local Volunteer, dan sembilan pemuda lokal anggota AIESEC berusia 18 hingga 23 tahun ini dirancang dengan alur yang jauh dari kesan monoton.
Dimulai pukul 09.00 WIB, sesi dibuka bukan dengan ceramah, melainkan dengan check-in santai dan sesi roll dance yang dipandu tim AIESEC selama 20 menit pertama. Pendekatan ini terbukti efektif mencairkan suasana sebelum peserta masuk ke materi yang lebih serius, sekaligus membangun kedekatan antarpeserta yang sebagian besar baru pertama kali bertemu satu sama lain di pagi itu.
Setelah perkenalan singkat profil dan aktivitas WALHI Lampung, barulah peserta diajak menyelami materi inti Understanding Carbon Footprint selama hampir satu jam, lengkap dengan sesi tanya jawab yang memberi ruang bagi peserta untuk mengonfirmasi pemahaman mereka secara langsung kepada narasumber.
Kehadiran narasumber dari WALHI Lampung menjadi nilai tambah tersendiri, sebab materi yang disampaikan tidak berhenti pada teori, melainkan diperkaya dengan realitas krisis iklim di tingkat lokal yang selama ini jarang terekspos ke publik luas, khususnya kalangan muda perkotaan. Namun bagian yang paling dinantikan justru datang setelahnya: Group Discussion bertajuk Daily Activities and Their Environmental Impact.
Dalam sesi diskusi kelompok ini, peserta tidak hanya duduk mendengarkan, melainkan aktif membedah tiga isu yang sangat dekat dengan gaya hidup anak muda: fast fashion, konsumsi energi, dan pengelolaan sampah harian. Ketiga topik ini sengaja dipilih karena merupakan bagian dari rutinitas yang jarang dikaitkan dengan dampak lingkungan, padahal kontribusinya terhadap emisi karbon cukup signifikan.
Diskusi berlangsung hangat, dengan peserta saling berbagi kebiasaan pribadi dan menemukan sendiri titik-titik di mana gaya hidup mereka bersinggungan dengan krisis iklim. Beberapa kelompok bahkan sampai memetakan kebiasaan belanja pakaian dan penggunaan gawai mereka sendiri sebagai bahan diskusi, membuat materi yang tadinya terasa jauh menjadi sangat personal dan mudah dikenali.
Setelah sesi diskusi yang cukup padat, panitia dengan cermat menyelipkan waktu istirahat makan siang sekaligus sesi ice breaking untuk menjaga energi peserta tetap terjaga hingga siang hari. Jeda ini terbukti penting mengingat durasi acara yang cukup panjang, sehingga peserta tetap bisa fokus dan antusias saat memasuki sesi berikutnya.
Barulah menjelang akhir acara, peserta diajak masuk ke sesi reflektif bertajuk Climate Change Around Us, yang mengajak mereka melihat dampak nyata perubahan iklim tidak lagi sebagai isu global yang abstrak, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi di lingkungan sekitar mereka sendiri. Acara kemudian ditutup dengan sesi check-out, refleksi akhir, dan foto bersama sebagai penanda berakhirnya lima jam perjalanan belajar yang padat namun tidak melelahkan.
Format kombinasi antara pemaparan materi, diskusi kelompok, dan momen relaksasi ini menjadi kunci keberhasilan Climate Lab dalam menjaga keterlibatan peserta dari awal hingga akhir. Alih-alih menjejalkan informasi secara satu arah, pendekatan interaktif ini memberi ruang bagi peserta untuk benar-benar berproses dan menemukan koneksi personal dengan isu iklim yang dibahas, alih-alih sekadar mencatat poin-poin materi tanpa benar-benar meresapinya.
Keberhasilan format ini menjadi catatan penting bagi program IGV ke depannya, terutama dalam menjangkau audiens muda yang cenderung lebih responsif terhadap pendekatan partisipatif dibanding metode edukasi konvensional. Kombinasi antara unsur hiburan, diskusi mendalam, dan refleksi personal terbukti mampu menjaga perhatian peserta selama lima jam penuh tanpa terasa membosankan, sesuatu yang sulit dicapai lewat format seminar konvensional.
Dari satu sesi di Cobakmie, terbukti bahwa isu seberat krisis iklim pun bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tanpa mengurangi kedalaman dan relevansi pesan yang ingin disampaikan. Model kegiatan seperti ini pun berpotensi menjadi acuan bagi sesi-sesi edukasi lingkungan berikutnya, khususnya yang menyasar generasi muda sebagai target utama perubahan gaya hidup ramah lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


