uniknya wamena yang namanya berarti anak babi bermula dari kesalahpahaman - News | Good News From Indonesia 2026

Uniknya Wamena yang Namanya Berarti Anak Babi: Bermula dari Kesalahpahaman

Uniknya Wamena yang Namanya Berarti Anak Babi: Bermula dari Kesalahpahaman
images info

Salah satu suku yang mendiami Lembah Baliem | Trisno Utomo Cibodas/WikimediaCommons


Wamena adalah ibu kota Kabupaten Jayawijaya sekaligus pusat perekonomian utama di wilayah Provinsi Papua Pegunungan. Wilayah ini dikelilingi oleh pegunungan tinggi.

Kota ini berada di tengah kawasan dataran tinggi Lembah Baliem yang subur pada ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Di balik keindahan bentang alamnya, kota administratif terbesar di kawasan pedalaman ini menyimpan arti penamaan yang sangat unik.

Dalam bahasa daerah suku Dani yang dituturkan oleh penduduk asli setempat, kata "Wam" memiliki arti babi dan "Ena" berarti anak peliharaan. Secara sederhana, Wamena bisa dimaknai sebagai anak babi atau anak babi peliharaan.

Keberadaan babi konon sangat dihormati di sana karena melambangkan tatanan sosial, kehormatan keluarga, hingga instrumen pemersatu perdamaian adat di pegunungan tengah Papua. Namun, di balik nilai budayanya yang sangat mendalam bagi kelangsungan hidup warga, penamaan resmi kota ini ternyata lahir dari serangkaian kesalahpahaman komunikasi sejarah.

Beragam Versi Kesalahpahaman Asal-usul Nama Wamena

Merangkum dari situs Pemerintah Provinsi Papua, ada beberapa versi soal asal-usul penamaan Wamena. Versi pertama merujuk pada catatan perjalanan tim penelitian ilmiah gabungan dalam Ekspedisi Archbold saat menjelajahi kawasan pegunungan tengah pada tahun 1938.

Dikatakan bahwa anggota ekspedisi dilaporkan salah mendengar penyebutan nama Kali Wamela di lereng Gunung Trikora. Ia mencatatnya sebagai nama wilayah Wamena di peta mereka.

Versi kedua mengisahkan percakapan singkat antara Kepala Pemerintahan Belanda pertama di Lembah Baliem, Fritz Veldkamp, dengan pembantunya pada tahun 1956. Saat Veldkamp menanyakan aktivitas yang sedang dikerjakan di kandang, sang pembantu menjawab "An Wam Ena" yang berarti ia sedang mengurus anak babi miliknya.

Walhasil, akibat dari ketidakpahaman bahasa di antara kedua pihak itu, istilah Wamena kemudian dicatat dan dipublikasikan secara luas sebagai nama resmi dari wilayah bersangkutan.

baca juga

Mengnutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, versi selanjutnya menceritakan pertemuan tidak sengaja antara seorang peneliti asing berkulit putih dengan seorang gadis lokal di pinggir aliran Kali Baliem. Peneliti asing itu menanyakan nama daerah tersebut.

Namun, sang gadis yang ketakutan justru mengira ia sedang ditanya mengenai keberadaan anak babi miliknya yang hilang. Gadis itu spontan menjawab "Wamena". Istilah ini dicatat oleh pendatang dan akhirnya disepakati menjadi nama resmi pusat administrasi tersebut.

Keunikan yang Hanya Ada di Lembah Baliem

Selain namanya yang unik, Wamena menyimpan beragam kekayaan adat istiadat yang sangat menarik. Di wilayah dataran tinggi ini, babi memiliki nilai sosial adat sangat tinggi dan kedudukannya tidak bisa digantikan oleh hewan ternak lainnya. Bahkan dalam ritual penyelesaian konflik atau upacara adat besar, nilai satu ekor babi tidak dapat disetarakan dengan seratus ekor sapi sekalipun.

Wamena juga dikenal dunia sebagai pusat pelestarian tradisi pengasapan jenazah tokoh adat penting seperti kepala suku atau panglima perang hingga menjadi mumi. Jasad yang diawetkan secara tradisional selama ratusan tahun ini diletakkan dengan hormat di dalam rumah adat Honai khusus laki-laki yang disebut Pilamo. Salah satu mumi tertua yang bernilai sejarah sangat tinggi tersebut dapat dijumpai secara langsung oleh para pengunjung di Desa Aikima.

Perempuan setempat juga lumrah membawa tas rajut tradisional bernama noken atau su. Tas tradisional khas yang dibuat menggunakan rajutan serat kulit kayu pohon manduam atau anggrek hutan ini dibawa dengan cara digantungkan langsung di kepala. Warisan budaya leluhur yang sangat multifungsi ini telah mendapatkan pengakuan resmi dari UNESCO sebagai warisan dunia yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Di Wamena, juga ada Gua Kontilola yang terletak sekitar 25 kilometer dari pusat kota. Tempat ini menawarkan pemandangan stalaktit menakjubkan dan lukisan dinding purba.

Lukisan abstrak setinggi belasan meter dari tanah tersebut menggambarkan figur menyerupai sosok manusia berkepala gundul dengan empat jari tangan di dinding gua. Peneliti arkeologi menjelaskan lukisan prasejarah ini sengaja ditempatkan di bagian dinding gua yang tinggi sebagai bentuk penghormatan sakral kepada roh nenek moyang.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.