Forum Group of Twenty atau yang lebih dikenal dengan nama G20 kelompok 20 negara dengan ekonomi besar di dunia. Anggotanya menguasai sekitar 85 persen PDB global serta 75 persen perdagangan internasional.
Di antara jejeran negara dengan ekonomi besar itu, Indonesia merupakan salah satu anggotanya. Menariknya, Indonesia juga menjadi satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20.
Berbicara soal ekonomi di Asia Tenggara, ada Singapura yang lebih mendominasi karena merupakan pusat keuangan global. Selain itu, Malaysia, Vietnam, hingga Tailan juga menunjukkan performa ekonomi yang stabil beberapa waktu belakangan.
Lalu, mengapa Indonesia yang menjadi anggota G20 alih-alih negara ASEAN lainnya?
Sekilas Soal G20
G20 dibentuk pada September 1999 sebagai respons atas guncangan krisis keuangan global yang melanda kawasan Asia, Rusia, dan Amerika Latin pada akhir dekade 1990-an. Awalnya, wadah ini berupa pertemuan informal bagi para menteri keuangan dan gubernur bank sentral untuk membahas stabilitas keuangan internasional.
Pertemuan antar-Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ini rutin dilakukan tiap musim gugur. Baru pada tahun 2008, pertemuan ini ditingkatkan ke tingkat KTT yang dihadiri langsung oleh kepala negara.
Sebelum G20 lahir, sebetulnya sudah ada G7 yang lebih dahulu berdiri. Forum ini berisikan tujuh negara maju, yakni Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis. Forum ini dinilai gagal menemukan solusi efektif untuk mengatasi krisis ekonomi global saat itu.
G7 sadar bahwa keputusan ekonomi dunia tidak bisa jika hanya melibatkan negara maju. Oleh karena itu, negara berpendapatan menengah dan dianggap punya pengaruh ekonomi yang sistemik pun diajak berdiskusi lewat sebuah forum baru.
Saat ini, G20 beranggotakan gabungan negara maju dan berkembang di dunia dari berbagai benua, yakni Australia, Argentina, Brasil, Kanada, Tiongkok, Jerman, Prancis, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Arab Saudi, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Tahun 2023, Uni Afrika ikut bergabung sebagai anggota tetap.
Mengapa Indonesia Jadi Anggota G20?
Indonesia sendiri tercatat telah bergabung sebagai anggota aktif sejak awal mula forum intergovernmental ini resmi berdiri. Ada beberapa alasan mengapa negara ini terpilih menjadi satu-satunya anggota ASEAN di dalam G20.
Melansir dari sebuah paper tulisan Yulius P Hermawan, dkk. di Friedrich Ebert Stiftung Indonesia Office, total PDB Indonesia berdasarkan Keseimbangan Kemampuan Berbelanja (PPP) merupakan yang ke-16 terbesar di dunia. Ketangguhan ekonomi domestik saat melewati badai krisis keuangan global, termasuk tahun 1997-1998 dan 2008, juga diakui dunia.
Uniknya, saat itu Indonesia juga menjadi satu dari tiga negara yang surplus selain Tiongkok dan Argentina. Meskipun surplusnya sedikit, tapi hal ini membuktikan bahwa Indonesia menjadi segelintir negara yang paling tahan terhadap krisis ekonomi global.
Di sisi lain, secara historis sebagai de facto leader di kawasan Asia Tenggara. Keberadaan Indonesia di G20 mewakili suara dan kepentingan regional.
Populasi jumbo Indonesia bisa dibilang menguntungkan jika menyangkut soal daya beli. Hal ini membuat PPP Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.
Namun, PDB per kapita Indonesia memang masih jauh di bawah negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Tailan. Data IMF menunjukkan, Indonesia berada di posisi ke-5 sebagai negara dengan PDB per kapita terbesar di ASEAN dengan estimasi US$5,398, jauh di bawah Singapura yang ada di posisi pertama dengan US$99,042.
Perlu dicatat bahwa G20 bukan kelompok negara terkaya di dunia. Di dalamnya juga ada negara berkembang lain selain Indonesia, seperti Argentina, Afrika Selatan, hingga Meksiko. Artinya, meskipun bukan menjadi negara termakmur di ASEAN, Indonesia tetap dipandang menjanjikan di dunia karena menjadi salah satu emerging market yang sangat berkembang saat ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


