golden djawa cerutu kelas dunia yang diperkenalkan pada pergelaran g20 di bali - News | Good News From Indonesia 2026

Golden Djawa, Cerutu Kelas Dunia yang Diperkenalkan pada Pergelaran G20 di Bali

Golden Djawa, Cerutu Kelas Dunia yang Diperkenalkan pada Pergelaran G20 di Bali
images info

Golden Djawa, Cerutu Kelas Dunia yang Diperkenalkan pada Pergelaran G20 di Bali


Mungkin, selama ini Kawan GNFI hanya mengetahui material rokok kontemporer yang umumnya terdiri atas serbuk tembakau, spons yang berfungsi sebagai filter, dan kertas semacam papirus untuk membungkus isian rokok tembakau. Benda ini sudah bukan hal yang asing bagi penduduk Indonesia, mengingat kaum prianya seringkali adalah aktor utama yang mengonsumsi produk terkait.

Melansir GoodStats (21/4/2025), estimasi WHO mengungkapkan bahwa sekitar 73,2% pria diatas usia 15 tahun adalah perokok aktif. Angka tersebut meningkat dari 61,2% sejak penghitungan terakhir pada tahun 2005, menjadikan ini sebagai persentase pria perokok tertinggi di dunia.

Adapun data dari bps.go.id (12/12/2025) turut mengonfirmasikan situasi tersebut, yang mana secara nasional persentase penduduk berusia 15 tahun keatas yang merokok tembakau selama 1 bulan terakhir mencapai 28,68%, dengan Provinsi Lampung menjadi wilayah dengan persentase tertinggi sebesar 34,25%. Hal tersebut menggambarkan bagaimana tingkat partisipasi masyarakat dalam perilaku merokok.

Namun, apakah Kawan tahu bahwa rokok memiliki ‘saudara dekat’? Yap, itulah namanya cerutu. Secara umum, cerutu hanya terbuat dari gulungan daun tembakau kering murni pilihan tanpa bahan tambahan lainnya.

Mengutip coronacigar.com (18/7/2025), cerutu sudah ada sejak periode 2.500 SM, dengan peradaban Maya diketahui adalah peradaban pertama yang menciptakan cerutu untuk kebutuhan ritual. Melalui penjelajahan Christopher Columbus tahun 1492, cerutu mulai tersebar luas ke berbagai wilayah di luar Benua Amerika.

Singkat cerita, perusahaan tembakau komersial pertama muncul pada abad ke-17, yang memicu produksi massal cerutu. Saat itu, pajak impor membuat impor cerutu menjadi mahal, sehingga hanya kaum elite yang sanggup menikmatinya.

Pada akhirnya, cerutu asal Kuba mengungguli cerutu lainnya dan diekspor secara masif. Bahkan sampai sekarang, produksi cerutu Kuba sudah dianggap seperti episentrum cerutu global.

Nah, Indonesia melalui produksi cerutu Golden Djawa berambisi menjadi pesaing dari cerutu Kuba tersebut, mengingat juga pasar cerutu di Asia Tenggara masih berkembang. Lantas, bagaimana info selengkapnya?

Berasal dari Jember

Diinformasikan dari CNN Indonesia (10/12/2025), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I bertekad untuk mendorong hilirisasi produk cerutu “Golden Djawa” agar menjadi salah satu merek yang dapat dikenal oleh siapa saja, baik di pasar domestik maupun internasional. Tekad ini digemakan sebagai bagian dari fokus perusahaan untuk ikut berpartisipasi dalam program hilirisasi yang diamanahkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Cerutu kami legendaris di pasar dunia, yaitu “Golden Djawa”. Brand yang telah menjadi simbol cita rasa cerutu Jawa atau semacam duta cerutu Indonesia. Penikmat cerutu Golden Djawa meliputi USA, Dominica, Swiss, Jerman, Belanda, Spanyol, Hungary, Turki, Republik Ceko serta pasar Asia dan domestik,” tutur Teddy Yunirman Danas selaku Direktur Utama PTPN I.

Teddy berujar bahwa perusahaannya kini memiliki kebun tembakau seluas 675 hektare, yang mana kepemilikan kebun sebelumnya dipegang oleh PTPN X. Dengan ini, beliau meminta supaya hilirisasi produk cerutu Golden Djawa disertai dengan komitmen mempertahankan mutu dan rasa dari bahan baku daun tembakau terbaik.

Diketahui merek Golden Djawa ini berada dalam naungan PTPN X melalui anak perusahaannya. Adapun lokasi produksinya di wilayah Jember, Jawa Timur, yang memang terkenal sebagai sentra komoditas tembakaunya. Bahkan, individu sekelas Idang Rasjidi dan Arifin Panigoro yang dijuluki sebagai The Father of Cigar Indonesia mengakui kualitas cerutu Golden Djawa yang bolehlah untuk diadu dengan cerutu Kuba.

Karakteristik Golden Djawa

Melansir vnnmedia.co.id (8/9/2023), desain rasa cerutu Golden Djawa tidak lepas dari model salah satu big buyer raw material PTPN X yang berasal dari Swiss atau kawasan Eropa Barat. Sebagai informasi, rasa khas Eropa Barat biasanya soft mild atau mild cigar, sedangkan cita rasa Amerika cenderung sedikit pahit atau strong type.

Aris Handoyo selaku Sekretaris Perusahaan PTPN X menerangkan bahwa pihaknya mampu menciptakan berbagai cita rasa cerutu tergantung minat pasar, baik itu soft mild maupun strong type. Untuk Golden Djawa ini, cerutu dengan karakteristik soft mild-lah yang dipilih karena lebih mudah dinikmati dalam segala suasana.

“Cerutu tipe Eropa lebih mudah untuk dinikmati dan bisa dikombinasikan dengan menu lainnya. Misal, kita menikmati Golden Djawa dengan secangkir kopi, wine atau bahkan air putih pun masih enak. Beda kalau tipe American yang memiliki cita rasa cenderung kuat, cerutu akan nikmat jika didampingi dengan minuman beralkohol,” papar beliau.

Dalam pemroduksian cerutu berkualitas dunia, Aris menjelaskan bahwa prosesnya sudah dilaksanakan semenjak di kebun atau on farm. Semua tahapan yang ada dilakukan dengan presisi dan menyesuaikan standar Eropa, dimulai dari pembukaan lahan, penanaman, pemupukan, hingga panen dan pengeringan.

PTPN X dalam web resminya sendiri mengungkapkan ada dua kebun tembakau yang berada dibawah manajemen mereka sebelum berpindah kuasa, yaitu Kebun Ajong Gayasan dan Kebun Kertosari.

Mayoritas tembakau yang dihasilkan adalah tembakau kualitas ekspor untuk pemenuhan kebutuhan pasar cerutu global, yang dijual kepada produsen secara langsung tanpa melalui tengkulak.

Adapun jenis tembakau yang dibudidayakan adalah Tembakau Bawah Naungan (TBN), Voorstenlanden Bawah Naungan (VBN), Tembakau varietas Connecticut/FIK, Tembakau Sumatra/FIN dengan tingkat mutu Natural Wrapper/NW, Light Painting Wrapper/LPW, Ready for Use/RFU, dan filler. Inilah yang menjadikan cerutu Golden Djawa dilabeli premium oleh berbagai pihak.

Sempat Dipamerkan pada KTT G20 Bali

Mengutip money.kompas.com (21/11/2022), melalui ajang Future SMEs Village sebagai side event dari Presidensi G20 Indonesia, cerutu Golden Djawa memiliki daya tarik tersendiri bagi para delegasi anggota G20 dengan menampilkan produk-produk premium buatan dalam negeri.

Future SMEs Village yang diselenggarakan pada 10-19 November 2022 sebagai rangkaian acara G20 mampu membawa merek ini agar bisa memperoleh partnership dan relationship dengan konsumen maupun mitra bisnis demi pengembangan usaha di masa mendatang. Golden Djawa sangat berharap pada ajang G20 ini supaya slogan pemasaran ‘proudly premium product from Indonesia’ semakin mendunia.

“Kita harus memperkenalkan kepada perwakilan negara G20 bahwa kita punya cigar yang bisa mewakili cigar diplomasi atau cigar lifestyle, yang selama ini identik ke Amerika Latin dan Eropa,” tandas Rizal selaku penanggung jawab PTPN X pada produk gula dan tembakau dalam keterangan pers.

Dengan berita memukau ini, apakah Kawan GNFI tertarik mencoba Golden Djawa, atau mungkin sudah pernah mencobanya?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.