cuaca panas bikin pendapatan umkm turun begini solusi dari pakar ugm - News | Good News From Indonesia 2026

Cuaca Panas Bikin Pendapatan UMKM Turun, Begini Solusi dari Pakar UGM

Cuaca Panas Bikin Pendapatan UMKM Turun, Begini Solusi dari Pakar UGM
images info

Foto oleh Prabu Panji di Unsplash


Cuaca panas tidak hanya membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berat. Kenaikan suhu juga dapat menekan produktivitas pekerja dan menurunkan pendapatan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

Temuan tersebut berasal dari penelitian dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada atau FEB UGM bersama peneliti Department of Economics, College of William and Mary.

Penelitian berjudul Climate Change and Small Business Productivity itu mengkaji hubungan antara perubahan temperatur dan produktivitas usaha rumah tangga di Indonesia.

 

Suhu Naik 1 Derajat Celsius, Pendapatan Turun hingga 14 Persen

Penelitian dilakukan oleh Wisnu Setiadi Nugroho, Elan Satriawan, dan Esa Azali Asyahid bersama peneliti dari College of William and Mary.

Tim peneliti menganalisis data Indonesia Family Life Survey atau IFLS. Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan catatan historis temperatur dan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan kenaikan suhu dari kondisi normal suatu wilayah berkaitan dengan penurunan pendapatan usaha.

Kenaikan temperatur tahunan sebesar 1 derajat Celsius dapat menurunkan pendapatan usaha sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, pendapatan per pekerja dapat turun hingga sekitar 20 persen.

“Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat,” ujar Esa dalam Research Series bertajuk Climate Change and Small Business Productivity.

Sebagai ilustrasi, UMKM dengan omzet normal tahunan Rp60 juta berpotensi mengalami penurunan pendapatan hingga di bawah Rp52 juta jika suhu meningkat 1 derajat Celsius dari kondisi normal.

 

Produktivitas Optimal pada Suhu 25-26 Derajat Celsius

Penelitian tersebut menemukan hubungan antara suhu dan produktivitas tidak berlangsung secara linear. Polanya menyerupai huruf U terbalik.

Artinya, produktivitas meningkat hingga mencapai titik suhu tertentu. Setelah melewati titik tersebut, produktivitas mulai menurun.

Produktivitas usaha dan pekerja disebut berada pada tingkat optimal ketika temperatur rata-rata tahunan berkisar 25 hingga 26 derajat Celsius. Jika suhu terus meningkat melewati ambang tersebut, produktivitas turun secara signifikan.

Temuan ini menjadi penting karena rata-rata suhu di banyak wilayah Indonesia telah mencapai sekitar 26,6 derajat Celsius. Suhu maksimum harian di kawasan Jabodetabek bahkan dapat mencapai 36 derajat Celsius.

 

UMKM Padat Karya Paling Tertekan

Usaha kecil berbasis rumah tangga menjadi fokus penelitian karena memiliki peran besar dalam perekonomian. Namun, kapasitas adaptasinya terhadap cuaca ekstrem cenderung terbatas.

Sekitar 99 persen unit usaha di Indonesia berada dalam kategori UMKM. Sebagian besar usaha tersebut dijalankan dari rumah tangga dengan modal dan sumber daya yang terbatas.

Sektor padat karya seperti konstruksi, manufaktur, dan usaha makanan termasuk yang paling terdampak kenaikan suhu.

Suhu tinggi dapat membuat pekerja lebih cepat lelah. Kondisi tersebut mendorong pekerja untuk memperlambat aktivitas dan lebih sering mengambil waktu istirahat.

Cuaca panas juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif. Pekerja bisa mengalami penurunan konsentrasi, keterlambatan dalam mengambil keputusan, dan berkurangnya ketepatan kerja.

Di sisi lain, pemilik usaha tetap harus menanggung biaya operasional yang relatif sama. Ketidakseimbangan antara penurunan produktivitas dan biaya usaha tersebut dapat menekan pendapatan UMKM.

 

Dorong Insentif dan Teknologi Pendingin

Esa menilai pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang lebih responsif terhadap dampak kenaikan suhu. Menurutnya, strategi adaptasi iklim selama ini masih lebih banyak berfokus pada industri besar dan sektor pertanian.

Padahal, UMKM dan sektor informal memiliki kapasitas adaptasi yang lebih terbatas. Karena itu, pelaku usaha kecil membutuhkan dukungan berupa insentif finansial agar mampu beradaptasi terhadap cuaca panas.

Akses terhadap teknologi pendingin yang terjangkau juga perlu diperluas. Dukungan tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman sehingga produktivitas pekerja tetap terjaga.

Selain itu, pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel dapat diterapkan, terutama bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan. Jam kerja dapat disesuaikan untuk menghindari periode ketika suhu mencapai titik tertinggi.

Pemerintah juga perlu memperkuat perlindungan sosial yang responsif terhadap guncangan cuaca. Kebijakan tersebut penting agar penurunan produktivitas dan pendapatan tidak sepenuhnya ditanggung oleh pelaku usaha kecil.

Menurut Esa, perubahan iklim tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan. Dampaknya juga menyentuh produktivitas, kesejahteraan, dan pembangunan ekonomi.

Selain itu, kenaikan suhu dapat memperlebar ketimpangan ekonomi. Pelaku usaha kecil yang paling terdampak justru sering memiliki kemampuan adaptasi paling terbatas.

UMKM umumnya tidak memiliki modal cukup untuk memasang sistem pendingin, mengubah desain tempat usaha, atau mengatur ulang jam operasional. Akibatnya, cuaca panas dapat langsung memengaruhi kemampuan usaha dalam mempertahankan pendapatan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.