dibangun dari kayu bulin dan marmer carrara ini kisah masjid jami mentok yang jadi saksi sejarah tambang timah bangka - News | Good News From Indonesia 2026

Dibangun dari Kayu Bulin dan Marmer Carrara, Ini Kisah Masjid Jami Mentok yang Jadi Saksi Sejarah Tambang Timah Bangka

Dibangun dari Kayu Bulin dan Marmer Carrara, Ini Kisah Masjid Jami Mentok yang Jadi Saksi Sejarah Tambang Timah Bangka
images info

Wikimedia Commons/Cun Cun


Kawan GNFI, di tengah Kota Mentok yang dulunya menjadi pusat peleburan timah pertama di Indonesia, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menyimpan cerita panjang tentang percampuran budaya, kearifan material lokal, hingga perjuangan pelestarian di tengah ancaman lingkungan modern.

Riset berjudul "Exploring Sustainable Features in a 19th-Century Religious Building: The Case of Jami Mosque of Mentok, Bangka" yang ditulis oleh Novrizal Primayudha bersama tim dari Institut Teknologi Bandung, dipublikasikan pada Juli 2026 dalam EMARA: Indonesian Journal of Architecture, mengungkap perjalanan panjang Masjid Jami Mentok sejak awal berdirinya hingga tantangan yang dihadapinya saat ini.

Dari Surau Kayu Sederhana Menjadi Pusat Kebudayaan Islam

Masjid Jami Mentok menandai evolusi penting dari surau kayu tradisional khas masyarakat Melayu abad ke-18 di Kampung Jiran Siantan, yang kini dikenal sebagai Tanjung, menuju adaptasi bangunan dengan material batu yang lebih modern. Dibangun antara tahun 1880-an hingga 1883 Masehi atau 1300 Hijriah, masjid ini menjadi pusat kebudayaan Islam di Pulau Bangka pada masanya.

Desa Tanjung, tempat masjid ini berada, dikenal kaya akan berbagai jenis kayu berkualitas seperti Bulin, Nyatoh, Tembesu, Mentagor, dan Mentigi, yang menjadi sumber daya konstruksi utama pada abad ke-19, baik untuk bangunan maupun operasional pertambangan timah di Mentok.

baca juga

Kekuatan Kayu Bulin dan Kemewahan Marmer Carrara

Kawan, salah satu elemen struktur paling penting pada masjid ini adalah Soko Guru, tiang penyangga utama untuk lantai mezanin, yang terbuat dari kayu Bulin lokal yang terkenal akan kekuatan dan daya tahannya.

Rangka atap dan balok menggunakan kayu Nyatoh berukuran lebih besar dibandingkan yang tersedia di pasaran saat ini, sementara kasau dan reng menggunakan kayu Medang Batu yang masih kokoh meski telah melewati berbagai kondisi cuaca selama bertahun-tahun.

Menariknya, lantai masjid ini justru menggunakan marmer Carrara, sebuah material impor yang mencerminkan bagaimana pengaruh luar turut berinteraksi dengan warisan lokal dalam proses pembangunannya. Masjid ini didirikan di atas fondasi setinggi 150 sentimeter, dengan dinding bata solid yang dilapisi kapur dan cat, mencapai ketinggian 428,5 sentimeter.

Sungai Mentok, Nadi Kehidupan yang Kini Terancam

Kawan GNFI, posisi strategis masjid ini yang berada dekat dengan Sungai Mentok dulunya menjadi sumber air utama bagi warga dan jamaah pada abad ke-19. Sungai ini berfungsi sebagai jalur transportasi penting, memudahkan warga, jamaah, hingga peziarah untuk mencapai masjid, sekaligus menyediakan sumber air untuk keperluan wudu sebelum salat.

Namun seiring perkembangan dan perluasan wilayah perkotaan, perubahan iklim serta maraknya penambangan timah ilegal kini mengancam serius kualitas sumber air tersebut. Sungai Mentok semakin tercemar sedimen yang mengandung timbal akibat limbah dari sektor pertambangan timah yang tidak teregulasi. Pengelola masjid bahkan terpaksa menggali sumur baru saat renovasi fasilitas berlangsung, akibat masalah air yang semakin serius.

Jejak Sejarah yang Terus Direstorasi

Meski usianya sudah lebih dari seabad, masjid ini sebagian besar masih mempertahankan bentuk arsitektur aslinya, meski beberapa penguatan material dan restorasi telah dilakukan dari waktu ke waktu. Atap yang kini terbuat dari keramik pernah mengalami kerusakan akibat pengeboman udara oleh pasukan Jepang pada 1942, sementara penggantian material besar-besaran terakhir dilakukan pada 2013 akibat kebocoran dan kebutuhan penguatan struktur.

Selama periode tersebut, sejumlah bangunan tambahan yang memfasilitasi kegiatan masjid juga telah dibangun dan terhubung dengan bangunan utama, menampilkan gaya berbeda dengan elemen arsitektur khas Timur Tengah seperti pilar bergaya masjid dan sistem atap beton yang ditopang konstruksi dinding bata.

baca juga

Tantangan Mencari Material Berkualitas di Masa Kini

Kawan GNFI, salah satu kekhawatiran terbesar bagi para pengurus dan pemerhati bangunan bersejarah ini adalah semakin sulitnya menemukan material berkualitas tinggi seperti yang digunakan pada konstruksi awal masjid, terutama kayu-kayu pilihan yang dulu melimpah di Tanjung. Kelangkaan ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya menjaga keaslian dan integritas bangunan bersejarah ini untuk generasi mendatang.

Meski begitu, penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan material konstruksi bersumber lokal sejak awal pembangunan masjid mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bangka, yang memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk menciptakan bangunan yang tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga warisan budaya yang bernilai tinggi bagi identitas Kota Mentok hingga hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.