masjid agung al jami pekalongan masjid alun alun berusia 170 tahun dengan tradisi dua tarawih berbeda - News | Good News From Indonesia 2026

Masjid Agung Al-Jami Pekalongan, Masjid Alun-Alun Berusia 170 Tahun dengan Tradisi Dua Tarawih Berbeda

Masjid Agung Al-Jami Pekalongan, Masjid Alun-Alun Berusia 170 Tahun dengan Tradisi Dua Tarawih Berbeda
images info

Dok. Muhamad Muhlisin (Google Maps)


Di sisi barat alun-alun Kota Pekalongan, berdiri masjid yang sudah menemani kota ini lebih dari 170 tahun. Masjid Agung Al-Jami, yang juga dikenal sebagai Masjid Jami Kauman, mulai dibangun pada 1852 atas prakarsa Raden Aryo Wiryo Tumenggung Adinegoro, Bupati Pekalongan ketiga saat itu. 

Meski kota ini kini sudah punya beberapa masjid baru yang tidak kalah megah, Masjid Agung Al-Jami tetap menjadi simbol keislaman yang tidak tergantikan bagi warga Pekalongan.

Bangunan awal masjid ini berukuran 35 x 35 meter, dilengkapi sembilan pintu besar, 12 jendela, ruang imam, dan ruang khatib. Menaranya yang menjulang setinggi 27 meter baru selesai dibangun pada Januari 1933, jauh setelah bangunan utamanya berdiri. Perpaduan waktu pembangunan yang berjarak puluhan tahun ini justru menghasilkan satu kesatuan arsitektur yang khas dan dikenal luas hingga sekarang.

Yang membuat Masjid Agung Al-Jami istimewa bukan hanya usianya, tapi juga keasliannya. Kayu-kayu yang digunakan masih dari bahan pertama kali saat masjid dibangun.

Atap kayunya bahkan masih menggunakan batang kayu utuh tanpa sambungan sama sekali. Teknik konstruksi ini jarang ditemukan pada bangunan seusianya.

 

Sekilas Mengenai Masjid Agung Al-Jami Pekalongan

Arsitektur masjid ini memadukan dua gaya sekaligus, yakni Jawa dan Arab. Pengaruh Jawa terlihat jelas dari kubahnya yang berbentuk joglo, sementara sentuhan Arab tampak pada serambi masjid.

Di bagian tengah bangunan utama terdapat lengkung tempat imam, di sisi kanan ada tempat khatib menyampaikan ceramah, dan di sisi kiri terdapat lengkung kubah yang dulunya khusus digunakan bupati untuk salat Jumat dan salat hari raya. Ruang khusus bupati ini dibangun pada 3 Juni 1907 oleh Bupati Adipati Aryonotodirjo, dan kini sudah terbuka untuk digunakan jamaah umum.

Bagian dalam masjid ditopang delapan tiang kayu utama yang dikombinasikan dengan 22 tiang beton sebagai penguat struktur.

Gapura di bagian tengah serambi masjid berbentuk segi empat, dilengkapi menara dan kubah kecil di setiap sudutnya, dengan lubang masuk berbentuk lengkung yang menambah kesan klasik pada tampilan depan masjid.

 

Daya Tarik Utama Masjid Agung Al-Jami Pekalongan

Masjid Agung Al-Jami menarik bukan hanya karena arsitekturnya, tapi juga karena tradisi ibadah unik yang sudah berjalan turun-temurun di dalamnya.

Salah satu yang paling dikenal adalah perbedaan jumlah rakaat tarawih dalam satu masjid pada bulan Ramadan. Ada jamaah yang salat tarawih dengan 23 rakaat, dan ada pula yang hanya 11 rakaat.

Keduanya memulai salat isya berjamaah bersama dengan satu imam, lalu setelah rakaat kedelapan tarawih, sebagian jamaah keluar dari saf dan membentuk saf sendiri di belakang untuk melanjutkan witir tiga rakaat, sementara jamaah lain melanjutkan hingga 23 rakaat.

Meski berbeda praktik, kedua kelompok tetap menjaga ukhuwah, saling menghormati, dan tidak ada perpecahan. Tradisi yang konon hanya ada di masjid ini di wilayah pantura, bahkan mungkin di Indonesia.

Selama Ramadan, masjid ini juga selalu ramai menjelang berbuka puasa. Panitia masjid menyediakan lebih dari 200 paket takjil berupa makanan dan minuman setiap harinya.

Sebelum berbuka, ada kajian Islami, dan tarawih berjamaah di sini kerap dihadiri wali kota atau wakil wali kota Pekalongan. Pada malam Minggu selama Ramadan, ada pengajian sehabis tarawih, khataman Al-Quran, serta pembagian zakat fitrah menjelang Idulfitri.

Arsitektur bangunannya sendiri sudah cukup untuk membuat pengunjung berhenti sejenak mengamati detail-detailnya, dari ornamen kayu asli di ruang salat utama, ukiran pada gapura, hingga menara yang menjulang di sisi kanan bangunan.

 

Akses Menuju Masjid Agung Al-Jami Pekalongan

Masjid Agung Al-Jami berlokasi di Jalan KH. A. Wahid Hasyim Nomor 17, tepat di alun-alun Kota Pekalongan, sehingga sangat mudah diakses dari mana pun di pusat kota. Kawan bisa mencapainya dengan kendaraan pribadi, ojek daring, maupun berjalan kaki jika sedang berada di sekitar alun-alun.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Masjid Agung Al-Jami buka setiap hari untuk kegiatan ibadah dan tidak memungut tiket masuk. Kawan yang datang untuk beribadah maupun sekadar melihat arsitekturnya bisa masuk kapan saja, dengan memperhatikan waktu-waktu salat agar tidak mengganggu jamaah yang sedang beribadah.

 

Ayo Berkunjung ke Masjid Agung Al-Jami Pekalongan!

Masjid Agung Al-Jami cocok untuk Kawan GNFI yang sedang berada di Pekalongan dan ingin melihat langsung peninggalan arsitektur Jawa-Arab yang masih terjaga keasliannya.

Kalau berkesempatan datang saat Ramadan, sempatkan menyaksikan langsung tradisi dua rakaat tarawih yang berjalan berdampingan dengan rukun, sesuatu yang jarang ditemukan di masjid lain di Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.