dari pasar tradisional ke tiktok pedagang kecil menemukan pasar baru - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Pasar Tradisional ke TikTok: Ketika Pedagang Kecil Menemukan Pasar Baru di Dunia Digital

Dari Pasar Tradisional ke TikTok: Ketika Pedagang Kecil Menemukan Pasar Baru di Dunia Digital
images info

Pexels/Muhamad Guruh Budi Hartono


Pagi hari di pasar tradisional biasanya dimulai dengan aktivitas yang hampir selalu sama. Pedagang membuka lapak, menata barang dagangan, menyapa pelanggan, lalu melakukan transaksi secara langsung. Selama bertahun-tahun, lokasi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan seberapa banyak orang mengenal dan membeli produk mereka.

Namun, cara berdagang perlahan berubah. Kini, seorang pedagang tidak selalu membutuhkan toko besar atau lokasi strategis untuk memperkenalkan produknya. Sebuah telepon pintar, koneksi internet, dan kemampuan membuat konten dapat membuka pintu menuju calon pelanggan yang bahkan berada di kota lain.

Kawan GNFI mungkin pernah melihatnya di TikTok. Seorang pedagang menunjukkan produk dagangannya melalui video pendek, menjawab pertanyaan penonton saat siaran langsung, kemudian menerima pesanan tanpa harus bertemu pembeli secara langsung.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana teknologi membawa aktivitas perdagangan tradisional ke ruang digital.

baca juga

Dari Lapak Fisik ke Layar Ponsel

Digitalisasi bukan lagi sekadar pelengkap bagi pelaku usaha. Badan Pusat Statistik menjelaskan bahwa perkembangan internet dan digitalisasi telah mengubah berbagai aspek kegiatan perdagangan, mulai dari pemasaran, pembelian, pendistribusian produk, hingga pembayaran. E-commerce juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat untuk menjadi wirausaha dan memperluas pasar.

Bagi pedagang kecil, perubahan tersebut membuka kesempatan yang sebelumnya sulit diperoleh.

Jika dahulu pelanggan harus datang ke pasar untuk melihat barang, kini produk dapat diperlihatkan melalui video. Jika dahulu pedagang hanya mengandalkan pembeli yang kebetulan melewati lapaknya, sekarang konten dapat menjangkau orang yang belum pernah mengunjungi tokonya.

TikTok menjadi salah satu ruang yang menarik dalam perubahan tersebut karena perdagangan dapat berlangsung bersamaan dengan aktivitas hiburan dan interaksi sosial.

Melalui TikTok Shop, penjual dapat memasarkan produk melalui video, siaran langsung, maupun fitur Showcase. Konsumen pun dapat menemukan dan membeli produk dari konten yang mereka lihat.

Dengan demikian, proses jual beli tidak lagi selalu dimulai dari niat konsumen untuk mencari barang. Dalam ekosistem perdagangan berbasis konten, seseorang dapat menemukan sebuah produk secara tidak sengaja, tertarik dengan ceritanya, kemudian memutuskan untuk membeli.

Pedagang Tidak Harus Menjadi Influencer

Menariknya, transformasi digital tidak berarti setiap pedagang harus berubah menjadi selebritas internet.

Seorang pedagang tetap memiliki keunggulan yang sudah dimilikinya sejak lama: kemampuan mengenali produk dan memahami pelanggan.

Pedagang pakaian, misalnya, mengetahui bahan mana yang nyaman digunakan. Pedagang makanan memahami rasa yang disukai pelanggan. Pedagang kerajinan mengetahui proses pembuatan produknya. Pengetahuan tersebut kemudian dapat dikemas dalam bentuk konten sederhana.

Video tentang cara memilih bahan, proses pembuatan produk, tips menggunakan barang, atau sekadar memperlihatkan aktivitas di tempat usaha dapat menjadi cara untuk memperkenalkan produk kepada calon pelanggan.

Di sinilah kekuatan social commerce muncul. Penjualan tidak hanya bergantung pada iklan, tetapi juga pada kemampuan membangun interaksi dan kepercayaan.

Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan memperkenalkan strategi 3Go bagi UMKM, yaitu Go Modern, Go Digital,dan Go Online. Strategi tersebut mendorong pelaku UMKM untuk memodernisasi pengelolaan usaha, memanfaatkan teknologi, dan memperluas pasar melalui kanal digital.

Ketika Live Shopping Menjadi Lapak Baru

Salah satu perubahan paling menarik adalah munculnya live shopping.

Dalam perdagangan konvensional, pembeli dapat bertanya langsung kepada pedagang sebelum memutuskan membeli. Interaksi tersebut kini dapat dipindahkan ke layar.

Pedagang dapat memperlihatkan produk secara langsung, menjelaskan ukuran atau bahan, menjawab pertanyaan penonton, bahkan mendemonstrasikan cara penggunaan barang. Konsumen pun mendapatkan pengalaman yang lebih interaktif dibandingkan sekadar melihat foto produk.

Besarnya perkembangan live shopping juga mendorong munculnya kebutuhan terhadap keterampilan baru. Pada 2025, TikTok Shop bersama GIK UGM meluncurkan Certified LIVE Host Program untuk mengembangkan kemampuan live host, termasuk komunikasi, personal branding, pemanfaatan data siaran langsung, serta kepatuhan terhadap aturan platform.

Artinya, perdagangan digital tidak hanya menciptakan cara baru untuk menjual barang. Ia juga melahirkan keterampilan dan profesi baru di sekitarnya.

Pasar yang Lebih Luas untuk Produk Lokal

Salah satu manfaat terbesar digitalisasi adalah kesempatan menjangkau pelanggan di luar wilayah tempat pedagang berjualan.

Hal ini penting bagi produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di daerah asalnya.

Pada Januari 2024, GoTo dan TikTok mengumumkan penyelesaian transaksi yang menggabungkan bisnis Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia di bawah PT Tokopedia. Dalam periode kampanye Beli Lokal yang mereka laporkan, penjualan produk lokal dari merchant yang berpartisipasi tumbuh rata-rata 125 persen dibandingkan September 2023.

Data tersebut tentu berasal dari ekosistem dan periode kampanye tertentu sehingga tidak dapat dianggap sebagai gambaran seluruh UMKM Indonesia. Namun, angka tersebut memberikan gambaran mengenai potensi kanal digital dalam memperluas pasar produk lokal.

Pada 2025, integrasi Seller Center Tokopedia dan TikTok Shop juga semakin memudahkan penjual mengelola operasional di kedua platform melalui satu pusat pengelolaan. Penjual tetap memiliki pilihan untuk berjualan di Tokopedia, TikTok Shop, atau keduanya.

baca juga

Teknologi Tidak Menghapus Pasar Tradisional

Perubahan ini tidak berarti pasar tradisional akan hilang atau pedagang harus meninggalkan cara berdagang konvensional.

Justru sebaliknya. Nilai utama seorang pedagang tetap berasal dari produk, pengalaman, kepercayaan, dan hubungan dengan pelanggan. Teknologi hanya memberikan alat baru untuk memperluas jangkauan semua hal tersebut.

Seorang pedagang dapat tetap membuka toko pada pagi hari, tetapi pada malam harinya berjualan melalui siaran langsung. Produk yang tersedia di lapak dapat dipromosikan melalui video. Pelanggan lama tetap dilayani secara langsung, sementara pelanggan baru dapat datang dari berbagai daerah.

Kawan, mungkin inilah bentuk transformasi digital yang paling sederhana untuk dipahami.

Digitalisasi bukan selalu tentang perusahaan besar yang menggunakan teknologi canggih. Digitalisasi juga dapat berarti seorang pedagang kecil yang belajar membuat video pertamanya, mencoba melakukan siaran langsung, kemudian menemukan bahwa ada orang dari luar kotanya yang tertarik membeli produknya.

Dari pasar tradisional menuju TikTok, yang berubah sebenarnya bukan semangat berdagangnya. Pedagang Indonesia tetap melakukan hal yang sama: menawarkan produk, membangun kepercayaan, dan mencari pelanggan.

Hanya saja, lapaknya kini bisa berada di mana saja. Ketika teknologi mampu mempertemukan produk lokal dengan lebih banyak orang, sebuah toko kecil pun memiliki kesempatan untuk dikenal jauh melampaui batas pasar tempatnya berdiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.