Kerja sama Indonesia dan China selama ini banyak terlihat melalui investasi dan perdagangan. Namun, hubungan kedua negara dinilai memiliki ruang yang lebih luas untuk dikembangkan.
Kolaborasi dapat diarahkan pada transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, inovasi energi bersih, serta pembangunan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, Maxensius Tri Sambodo, mengatakan aspek teknologi perlu menjadi bagian penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dan China.
Hal tersebut disampaikan Maxensius dalam Academic Symposium bertajuk “Aligning Chinese-Style Modernization with Golden Indonesia 2045: New Opportunities and New Prospects” di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026. Forum itu diselenggarakan PRP BRIN bersama Chinese Academy of Social Sciences atau CASS.
Investasi Energi Pernah Membantu Indonesia
Menurut Maxensius, investasi China di sektor energi telah memberikan manfaat bagi pembangunan nasional. Salah satunya terlihat melalui pembangunan pembangkit listrik dalam program fast track.
Investasi tersebut membantu mengurangi pemadaman listrik dan memperluas akses energi ke sejumlah daerah. Kontribusinya menjadi semakin penting ketika Indonesia menghadapi krisis listrik pada 2003–2004.
“Hubungan Indonesia dan Tiongkok selama ini telah memberikan kontribusi penting terhadap pembangunan sektor energi nasional. Salah satunya terlihat ketika Indonesia menghadapi krisis listrik pada 2003–2004,” ujar Maxensius dikutip dari BRIN.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi dapat memberi dampak nyata apabila diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembangunan yang jelas.
Kompor Induksi Jadi Contoh Teknologi Energi Bersih
Dalam paparannya, Maxensius juga menjelaskan hasil riset BRIN mengenai penggunaan kompor induksi. Teknologi tersebut dipandang sebagai salah satu alternatif untuk mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
Pengembangan kompor induksi relevan bagi Indonesia karena rumah tangga masih sangat bergantung pada LPG. Sekitar 70 persen LPG yang dikonsumsi Indonesia berasal dari impor.
Pemerintah bersama PT PLN sebelumnya menguji penggunaan kompor induksi melalui proyek percontohan pada penyelenggaraan KTT G20 di Bali. Ribuan kompor induksi dibagikan kepada masyarakat di Denpasar dan Solo untuk mengetahui tingkat penerimaan terhadap teknologi tersebut.
Hasil penelitian BRIN menunjukkan respons masyarakat cenderung positif. Pengguna menilai kompor induksi lebih bersih, aman, dan memberikan pengalaman baru dalam kegiatan memasak.
Produk Saja Tidak Cukup
Penerimaan masyarakat terhadap kompor induksi belum otomatis menjamin keberhasilan adopsi teknologi. Menurut Maxensius, produk perlu didukung ekosistem yang memadai.
Ekosistem tersebut mencakup layanan purnajual, ketersediaan suku cadang dan peralatan pendukung, kesiapan teknisi, serta kemampuan industri nasional dalam memproduksi dan mengembangkan teknologi.
Kondisi itu membuka peluang bagi Indonesia dan China untuk memperluas kerja sama. Kolaborasi tidak berhenti pada pemasaran produk, tetapi juga mencakup riset bersama, inovasi, pengembangan industri pendukung, dan perancangan model bisnis.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi energi bersih dapat dibuat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Akses terhadap teknologi juga berpeluang diperluas melalui skema pembiayaan dan layanan yang lebih terjangkau.
Permintaan Domestik Menjadi Penggerak Ekonomi
Selain transfer teknologi, penguatan permintaan domestik juga menjadi isu penting dalam kerja sama ekonomi Indonesia dan China.
Senior Researcher at the National Top Think Tank CASS, Li Dawei, mengatakan pemerintah China telah mendorong konsumsi masyarakat sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi selama lebih dari satu dekade.
“Selama bertahun-tahun, ekonomi Tiongkok berhasil didominasi oleh permintaan domestik. Namun, kita harus mengakui bahwa Tiongkok masih memiliki potensi besar untuk memperluas permintaan domestik lebih lanjut,” ujar Li.
Peluang pertumbuhan masih terbuka di berbagai sektor, termasuk kendaraan energi baru, pariwisata, layanan budaya, olahraga, dan sektor jasa lainnya.
Li menilai tingkat konsumsi China masih relatif rendah jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju. Karena itu, peningkatan permintaan dalam negeri masih dapat menjadi ruang pertumbuhan bagi perekonomian.
Konsumsi dan Investasi Saling Menguatkan
Peningkatan konsumsi tidak dapat dilepaskan dari investasi yang berkualitas. Infrastruktur, industri, dan layanan yang baik dapat mendorong konsumsi, sementara permintaan masyarakat menciptakan insentif bagi dunia usaha untuk berinvestasi.
“Jangan lihat konsumsi dan investasi sebagai bagian yang terpisah. Faktanya, konsumsi dan investasi saling terkait, penawaran dan permintaan saling mendorong,” jelas Li.
Perspektif tersebut dapat menjadi dasar bagi penguatan kerja sama Indonesia dan China. Kedua negara memiliki jumlah penduduk besar serta pasar domestik yang luas.
Kerja sama dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, mengembangkan industri baru, dan menciptakan rantai pasok yang saling menguntungkan. Sektor kendaraan energi baru, teknologi rumah tangga, energi bersih, pariwisata, dan jasa menjadi beberapa bidang yang berpotensi dikembangkan.
Penguatan permintaan domestik di China dapat membuka peluang pasar bagi negara mitra, termasuk Indonesia. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki pasar yang besar untuk mendukung pengembangan produk dan teknologi baru.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

