Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tonggak perekonomian sebagian masyarakat Indonesia. UMKM harus diperkuat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, yang tentunya akan meningkatkan taraf hidup pedesaan.
Desa Cempaka, yang terletak di kaki Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, dikenal sebagai desa wisata. Desa wisata tidak luput dari UMKM yang merupakan salah satu penunjang dari perkembangan wisata.
Sebagian masyarakat Desa Cempaka didominasi oleh pedagang, mulai dari lauk pauk, makanan tradisional, keripik, minuman, kopi, dan masih banyak lagi. Para pedagang di Desa Cempaka umumnya tidak menggunakan metode pembayaran digital.
KKNT IPB University hadir untuk membantu masyarakat Desa Cempaka, khususnya pedagang kecil, untuk memperluas pasar dengan digital marketing. Hal ini dianggap penting karena sejalan dengan tujuan kemandirian desa.
UMKM Desa Cempaka sudah dapat dikategorikan sebagai UMKM yang berkembang karena beberapa pedagang sudah menjajakan dagangannya di desa tetangga seperti Desa Jejeg. Beberapa juga sudah ada yang memasarkan hingga Kecamatan Bumijawa.
Ini menjadi fokus mahasiswa KKNT IPB University untuk memberikan penyuluhan kepada para pedagang agar bisa memasarkan produk mereka dengan metode yang sesuai. KKNT IPB University juga mengajak para pedagang untuk melakukan digitalisasi seiring dengan perkembangan zaman.
Penyuluhan Digitalisasi UMKM yang Sederhana

Pada hari Rabu, 5 Juli 2026, di bawah rindangnya pepohonan bambu di Pasar Slumpring, Desa Cempaka, beberapa pedagang, bahkan murid dari Sanggar Kreasi Inovasi (SKI) Nurul Fatihah, antusias mengikuti penyuluhan digitalisasi UMKM.
Materi diawali dengan analisis Strength, Weakness, Opportunities, and Threats (SWOT) dalam sebuah bisnis, khususnya UMKM. Warga juga diberi contoh bisnis untuk dianalisis SWOT secara sederhana.
Beranjak ke materi selanjutnya, para pedagang diajak mengenal Segmentation, Targeting, and Positioning (STP) sebagai upaya mengenal target pasar yang lebih jelas dan terarah. Metode STP ini diharapkan dapat menjadi acuan para pelaku UMKM ataupun masyarakat yang mulai merintis bisnis untuk mengetahui arah pengembangan bisnis yang mereka miliki.
Pada materi akhir, peserta juga diberikan penjelasan mengenai digital marketing, seperti platform untuk berjualan, cara membuat QRIS, dan pentingnya mempunyai komunitas online. Mahasiswa KKNT IPB University berusaha mendorong dan mengajak masyarakat untuk mulai beradaptasi dengan perkembangan global, salah satunya adalah digital marketing.
Peserta juga mengemukakan tantangan yang mereka hadapi dalam melakukan pemasaran, seperti kurangnya sumber daya manusia, akses yang sulit dijangkau, serta anak muda yang tidak mau terjun dalam UMKM. Merosotnya ketertarikan anak muda untuk berbisnis tentunya menjadi tantangan dalam meningkatkan digital marketing di Desa Cempaka.
“Kalau anak muda sekarang jarang ada yang mau bantu usaha seperti ini, mereka lebih suka bekerja di luar kota seperti Jakarta dengan pendapatan yang lebih menjanjikan,” ujar Nyak Mus yang berprofesi sebagai pemilik UMKM keripik di Desa Cempaka.
Selain itu, peserta juga antusias bertanya mengenai materi yang dipaparkan. Bahkan di antaranya menjelaskan pemasaran apa saja yang sudah mereka lakukan, serta dampak pada bisnis mereka.
Praktik Langsung Menganalisis SWOT dan STP

Agar pemahaman mengenai analisis marketing dalam UMKM lebih mendalam, peserta juga diajak langsung untuk melakukan analisis SWOT dan STP. Peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan satu pendamping dari mahasiswa.
Dengan grup kecil yang ada, peserta diberikan kertas untuk bisa menganalisis pemasaran sesuai materi yang sudah diberikan. Peserta antusias menulis analisis SWOT yang mereka hadapi dalam bisnis.
Dilanjutkan dengan analisis STP, peserta diajak juga untuk menganalisis target, wilayah, bahkan metode pemasaran yang sesuai dari produk yang mereka miliki.
Dalam grup kecil tersebut, masyarakat juga aktif bertanya mengenai bisnis atau rencana pemasaran yang mereka miliki. Obrolan menjadi lebih santai namun informatif, sehingga diharapkan semua permasalahan UMKM mendapat solusi yang tepat.
Namun, karena keterbatasan waktu, tidak semua peserta dapat menyelesaikan analisis tersebut. Acara dilanjutkan dengan sesi dokumentasi untuk mengabadikan momen penyuluhan hari ini.
Dampak Jangka Panjang
Penyuluhan ini bukan hanya sekadar berkumpul, mendengarkan materi, lalu pulang. Namun, diharapkan masyarakat membawa “bekal” berharga dari penyuluhan ini.
Masyarakat diharapkan mampu mengetahui pemasaran yang tepat dan sesuai untuk produk yang mereka miliki. Setelah itu, mereka mampu merencanakan pengembangan produk mereka sendiri.
Harapannya, masyarakat tidak tinggal dalam “zona nyaman” yang mereka miliki saat ini, namun mereka berani mengembangkan dan mempromosikan produk yang mereka miliki.
Program kerja ini juga diharapkan menjadi langkah awal untuk menjadikan Desa Cempaka sebagai desa yang mandiri. Peningkatan UMKM ini diharapkan mampu menjadi tonggak dalam pengembangan pariwisata di Desa Cempaka.
Melalui penyuluhan sederhana ini, diharapkan dapat membangun perekonomian masyarakat desa yang sejahtera, serta masyarakat mampu meningkatkan nilai tambah dari tanaman pangan di Desa Cempaka. UMKM yang kuat menjadi langkah pasti dalam memajukan kesejahteraan desa, yang akan terus berkembang dan memajukan produk dalam negeri yang berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


