Antroposentrisme, cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya, mungkin terdengar sebagai istilah filosofis yang jauh dari keseharian. Padahal jejaknya bisa dilihat jelas dari kepulan asap karhutla Kalimantan yang terus mencuat belakangan ini.
Pertengahan Agustus lalu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kalimantan, dengan Kalimantan Barat mencatat titik api terbanyak dibanding provinsi lain di pulau tersebut. Penyebab terjadinya pun tidak sesederhana karena fenomena El Niño saja (bagian dari siklus iklim alami yang normal terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali). Aktivitas manusia atas hutan dianggap "memperparah" efek yang diberikan fenomena alami tersebut.
Perbuatan manusia yang membabat hutan demi kepentingan korporasi tanpa komitmen yang terjamin, alih fungsi lahan gambut yang tidak bertanggung jawab, dan berbagai aktivitas merusak lainnya juga berimbas pada kebakaran berkepanjangan dan kerugian jangka panjang.
Di tengah berbagai pemberitaan soal karhutla ini, penulis juga membaca banyak kabar tentang hewan-hewan dan lingkungan yang turut menanggung imbas paling ganas darinya.
Melihat hewan-hewan terkapar lemah tanpa bisa menyuarakan keluhannya sendiri, penulis merasa perlu menulis ini, setidaknya sebagai upaya kecil untuk ikut menyuarakan hak mereka yang tak bisa mereka ucapkan.
Lalu, apa hubungannya dengan paham antroposentrisme? Sebelum menjawab hal tersebut, kita harus memahami dulu tentang apa itu antroposentrisme.
Mengenal Apa itu Antroposentrisme
Mengutip dari artikel EBSCO, antroposentrisme adalah pandangan filosofis yang menempatkan manusia sebagai pusat kepentingan alam semesta, dengan menegaskan bahwa kehidupan manusia memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan kehidupan spesies lain.
Dalam pandangan ini, alam dianggap bernilai hanya karena memiliki kegunaan bagi manusia. Adapun keanekaragaman hayati patut dilestarikan hanya jika pelestariannya bermanfaat bagi kepentingan manusia; dengan kata lain, kewajiban manusia untuk melestarikan keanekaragaman hayati pada hakikatnya ditujukan kepada sesamma manusia.
Tentu paham ini tergolong egois dan tidak sehat, karena kerap menjadi dasar dari berbagai aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab. Disadari atau tidak, tindakan merusak alam seperti yang terjadi di hutan kalimantan saat ini menunjukkan bahwa manusia hanya peduli pada kepentingannya sendiri, sekaligus tega mengorbankan lingkungan yang sebenarnya juga menopang hidupnya.
Dampak Antroposentrisme terhadap Lingkungan dan Makhluk Hidup
Salah satu bentuk praktik nyata dari paham antroposentrisme adalah aktivitas deforestasi yang berlebihan. Ketika hutan dianggap sekadar lahan kosong yang harus "dimanfaatkan" demi kepentingan ekonomi manusia, kerusakan yang ditimbulkan pun tidak berhenti di satu titik saja, melainkan merembet dan saling berkaitan, membentuk rantai dampak yang berkepanjangan.
Berikut beberapa di antaranya:
1. Deforestasi yang melonjak
Data dari Simontini (Sistem Informasi Tutupan Lahan dan Lisensi Indonesia) mencatat deforestasi di Indonesia pada 2025 mencapai 433.751 hektare, meningkat 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang "hanya" seluas 261.575 hektare. Angka ini jadi bukti nyata bahwa eksploitasi hutan bukan melambat, justru makin masif dari sebelumnya.
2. Krisis ekologi dan perubahan iklim yang makin ekstrem
Hilangnya tutupan hutan dalam skala besar mengganggu keseimbangan ekosistem yang sudah terbentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun. Fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan pengatur siklus air pun ikut terganggu, yang pada akhirnya turut memperparah perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang belakangan makin sering dirasakan.
3. Kepunahan spesies dan satwa yang tersakiti
Deforestasi berimbas pada hilangnya rumah bagi satwa yang bergantung pada hutan tersebut. Salah satu contoh nyatanya, pada 30 Agustus lalu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pernah mengevakuasi seekor orangutan jantan yang ditemukan lemas di kebun sawit milik warga setempat, akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Kejadian ini jadi gambaran kecil dari begitu banyak satwa lain yang turut jadi korban tak bersuara dari krisis ini.
4. Bumerang bagi manusia itu sendiri
Ironisnya, dampak dari antroposentrisme tidak berhenti pada alam dan hewan saja, tapi juga berbalik menyerang manusia. Bencana ikutan seperti kabut asap dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi bukti bahwa ketika alam dirusak demi kepentingan sesaat, manusia sendiri pun ikut menanggung akibatnya.
Kritik terhadap Antroposentrisme
Selain dampaknya yang nyata, antroposentrisme juga banyak dikritik dari sisi etika lingkungan. Cara pandang ini dianggap terlalu sempit karena hanya memberi nilai moral kepada manusia, sementara hewan, tumbuhan, dan ekosistem di sekitarnya dianggap sekadar objek atau alat pemuas kebutuhan, bukan pihak yang punya hak untuk hidup dan berkembang dengan caranya sendiri.
Kritik inilah yang kemudian melahirkan cara pandang alternatif seperti biosentrisme dan ekosentrisme, yang menempatkan makhluk hidup lain bahkan seluruh ekosistem sebagai sesuatu yang punya nilai tersendiri, bukan sekadar penunjang eksistensi manusia.
Sampai di sini, terlihat jelas bahwa antroposentrisme bukan sekadar istilah filosofis yang abstrak, melainkan cara pandang yang nyata membentuk bagaimana manusia memperlakukan alam, hewan, bahkan dirinya sendiri.
Tulisan ini sengaja tidak membahas solusi-solusi strategis seperti kebijakan atau regulasi, karena hal tersebut sudah banyak diulas di berbagai sumber lain. Yang ingin penulis soroti justru lebih mendasar yaitu soal kesadaran.
Manusia diberi kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu akal dan kemampuan mengatur alam semesta. Sayangnya, kelebihan itu kerap disalahgunakan menjadi alasan untuk merasa paling superior, seolah manusia satu-satunya pihak yang berhak atas segala sesuatu di bumi ini.
Padahal, semakin besar kemampuan yang dipunya, semestinya semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Karunia berupa akal dan kemampuan untuk mengatur alam semesta semestinya digunakan untuk mencapai kesejahteraan bersama, bukan hanya manusia saja.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


