Pertukaran budaya tidak selalu tentang pergi jauh ke negara lain. Terkadang, pengalaman global justru dimulai dari bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, berbagi pengetahuan, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan di sekitar. Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan Incoming Global Volunteer (iGV) AIESEC in Semarang melalui dua project, yaitu On The Map dan Happy Bus, yang mempertemukan exchange participants dengan komunitas lokal di Semarang.

Kedua project tersebut menjadi ruang bagi para exchange participants untuk tidak hanya mengenal Indonesia dari sisi budaya, tetapi juga terlibat secara langsung dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat. Melalui On The Map, para volunteer berinteraksi dengan pelaku UMKM lokal dan membantu mengembangkan potensi bisnis mereka.
Sementara itu, melalui Happy Bus, para volunteer hadir di Rubbik School Indonesia untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif sekaligus memperkenalkan keberagaman budaya kepada anak-anak.
On The Map: Membawa Perspektif Global untuk Mengembangkan Potensi Lokal

Highlight the impact: Para EPs mengeksplorasi bisnis lokal sekaligus berbagi ide dan perspektif untuk mendukung UMKM Semarang
On The Map hadir sebagai project yang berfokus pada pemberdayaan UMKM lokal di Semarang. Project ini memberikan kesempatan kepada exchange participants untuk terlibat dalam proses pengembangan bisnis, khususnya melalui marketing dan social media activation.
Dalam pelaksanaannya, para volunteer bekerja bersama pelaku UMKM seperti Double Eight Craft dan Craftonesia, yang memiliki produk kerajinan lokal dengan karakteristik dan cerita masing-masing. Melalui kolaborasi tersebut, exchange participants dapat membantu memperkenalkan produk lokal dari perspektif yang lebih luas sekaligus belajar secara langsung mengenai bagaimana sebuah bisnis lokal dijalankan.

Keterlibatan mereka tidak berhenti pada pemberian ide, tetapi juga melalui proses seperti memahami karakteristik produk, menyusun strategi promosi, serta membantu meningkatkan daya tarik produk melalui media sosial. Bagi para volunteer, proses tersebut menjadi pengalaman untuk menerapkan pengetahuan yang mereka miliki sekaligus memahami tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha lokal.
Lebih dari sekadar kegiatan pengembangan bisnis, On The Map juga menjadi ruang pertukaran perspektif. Para exchange participants dapat mengenal bagaimana UMKM tumbuh di lingkungan lokal Semarang, sementara pelaku UMKM mendapatkan kesempatan untuk melihat produk mereka dari sudut pandang yang berbeda.
Happy Bus: Ketika Ruang Kelas Menjadi Jendela Menuju Dunia

EPs, EP Buddies, dan para siswa belajar, berbagi, dan membangun koneksi melalui pengalaman di kelas yang bermakna
Semangat untuk memberikan kontribusi kepada komunitas lokal juga dilanjutkan melalui Happy Bus, yang dilaksanakan bersama Rubbik School Indonesia. Lima exchange participants—Reuben dari Australia, Thanh dari Vietnam, Amy dan Bella dari China, serta Maria dari Spanyol—hadir secara rutin untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran bersama anak-anak. Selama rangkaian kegiatan berlangsung, para EP juga didampingi oleh EP Buddies, yaitu Tassya, Sheila, Alia, Syifa, dan Hafin, yang turut membantu menemani dan mendukung jalannya kegiatan.
Berbeda dari pembelajaran yang hanya berfokus pada penyampaian materi, para volunteer menggunakan berbagai metode interaktif seperti games, diskusi, aktivitas kolaboratif, dan studi kasus sederhana. Anak-anak didorong untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berpendapat, bekerja sama, dan mencoba menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

Belajar bahasa dan budaya jadi lebih seru lewat berbagai permainan dan aktivitas interaktif
Kehadiran para volunteer juga menghadirkan pengalaman lintas budaya di dalam ruang belajar. Mereka mengenalkan budaya dari negara masing-masing kepada anak-anak, mulai dari cerita tentang kehidupan sehari-hari hingga berbagai hal yang menjadi identitas negara mereka.
Namun, pertukaran tersebut tidak berjalan satu arah. Para exchange participants juga belajar dari anak-anak Rubbik School dan lingkungan di sekitarnya.
Interaksi sehari-hari membuat mereka memiliki kesempatan untuk memahami budaya Indonesia secara lebih dekat, bukan hanya sebagai sesuatu yang mereka lihat selama berada di Semarang, tetapi sebagai pengalaman yang mereka rasakan secara langsung.
Bagi Miss Keko, pendiri Rubbik School Indonesia, kehadiran para volunteer internasional memberikan pengalaman yang berarti bagi anak-anak. Interaksi dengan orang-orang dari berbagai negara diharapkan dapat membantu anak-anak membuka wawasan mengenai dunia yang lebih luas serta menemukan berbagai hal positif dari keberagaman yang mereka temui.
Dalam pelaksanaannya, para exchange participants juga didampingi oleh EP Buddies, yang membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan lokal dan mendukung proses kegiatan selama berada di Rubbik School Indonesia. Kehadiran EP Buddies menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman bagi para volunteer untuk berinteraksi dengan komunitas lokal.
Two Projects, One Purpose: Creating Impact Through Exchange
Meskipun memiliki fokus yang berbeda, On The Map dan Happy Bus memiliki semangat yang sama: menjadikan pengalaman exchange sebagai kesempatan untuk memberikan kembali kepada komunitas lokal.
On The Map memberikan ruang bagi volunteer untuk berkontribusi terhadap perkembangan UMKM dan mengenal potensi ekonomi lokal. Sementara Happy Bus menghadirkan ruang pembelajaran dan pertukaran budaya bagi anak-anak di Rubbik School Indonesia.
Dari membantu memperkenalkan produk lokal hingga berbagi cerita tentang budaya di ruang kelas, setiap aktivitas menjadi kesempatan bagi para volunteer untuk belajar sekaligus memberikan sesuatu bagi lingkungan tempat mereka berada.
Pada akhirnya, perjalanan On The Map dan Happy Bus menunjukkan bahwa sebuah exchange experience tidak hanya diukur dari tempat yang dikunjungi atau pengalaman yang didapatkan. Lebih dari itu, pengalaman tersebut juga tentang siapa yang ditemui, apa yang dibagikan, dan dampak apa yang dapat ditinggalkan.

Melalui kedua project ini, AIESEC in Semarang terus membuka ruang bagi generasi muda dan international volunteers untuk learn, connect, and contribute. Karena ketika perspektif global bertemu dengan kebutuhan lokal, sebuah pengalaman sederhana dapat berkembang menjadi koneksi yang bermakna dan impact yang nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


