belajar sambil berkarya ep igv aiesec in unila praktik langsung ubah sachet plastik jadi tas dan gantungan kunci - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar Sambil Berkarya: EP iGV AIESEC in Unila Praktik Langsung Ubah Sachet Plastik Jadi Tas dan Gantungan Kunci

Belajar Sambil Berkarya: EP iGV AIESEC in Unila Praktik Langsung Ubah Sachet Plastik Jadi Tas dan Gantungan Kunci
images info

Dokumentasi Pribadi


Sesi Eco Skills LA: Reduce, Reuse, Recycle yang digelar AIESEC in Unila bersama Bank Sampah Golden menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi Jiahui Wang, yang kerap akrab disapa Lumisea, sebagai Exchange Participant (EP) dalam program Incoming Global Volunteer (iGV). Alih-alih hanya menerima materi satu arah di dalam ruangan, peserta diajak langsung turun tangan mempraktikkan pengolahan sampah plastik menjadi barang yang bisa digunakan sehari-hari, sekaligus melihat langsung bagaimana sebuah bank sampah beroperasi dari hulu hingga hilir.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program lingkungan yang secara rutin diselenggarakan AIESEC in Unila untuk memperkenalkan isu keberlanjutan kepada EP dari berbagai negara melalui pendekatan yang aplikatif, bukan sekadar teoretis. Bank Sampah Golden dipilih sebagai mitra karena pengalamannya mengelola sampah rumah tangga di lingkungan sekitar Bandar Lampung, sehingga peserta dapat melihat langsung praktik nyata pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Kegiatan dibuka pukul 10.15 dengan sesi pembukaan dari AIESEC, dilanjutkan perkenalan dari pihak Bank Sampah Golden dan para narasumber pada pukul 10.25 hingga 10.40. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan profil Bank Sampah Golden, mulai dari sejarah berdirinya, jenis-jenis sampah yang diterima, hingga peran lembaga tersebut dalam mendukung ekosistem daur ulang di tingkat lokal. Perkenalan ini penting sebagai pijakan awal sebelum peserta masuk ke materi inti.

baca juga

Materi inti kemudian dipaparkan mulai pukul 10.40 hingga 11.05, membahas konsep dasar 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang menjadi fondasi utama sesi ini. Dalam pemaparan tersebut, narasumber menjelaskan bagaimana ketiga prinsip ini saling berkaitan dan mengapa urutannya penting: mengurangi konsumsi sejak awal, memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, dan baru kemudian mendaur ulang sebagai upaya terakhir. Pendekatan bertahap ini membantu peserta memahami bahwa daur ulang bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari rangkaian kebiasaan yang lebih besar.

Setelah pembekalan materi, peserta langsung diajak masuk ke sesi praktik selama hampir satu jam, mulai pukul 11.05 hingga 12.00, untuk membuat kerajinan gantungan kunci dari sachet plastik bekas. Sesi ini menjadi momen puncak yang paling dinantikan, di mana Lumisea dapat merasakan langsung proses kreatif mengubah kemasan plastik yang sulit terurai menjadi produk fungsional bernilai guna, seperti tas dan gantungan kunci. Proses ini melibatkan tahapan pembersihan sachet, pelipatan pola, hingga perakitan akhir yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, sebuah pengalaman yang memberi apresiasi baru terhadap nilai kerajinan tangan berbasis limbah.

Usai jeda istirahat pukul 12.00 hingga 13.00, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengenalan sistem penyortiran sampah yang diterapkan di Bank Sampah Golden pada pukul 13.00 hingga 13.30. Sesi ini memberi gambaran nyata kepada peserta mengenai bagaimana sampah yang masuk dipilah berdasarkan jenis dan nilai ekonomisnya, diproses, dan ditimbang sebelum akhirnya dapat dimanfaatkan kembali atau disalurkan ke pihak pengepul. Peserta juga diajak memahami tantangan operasional yang dihadapi bank sampah dalam menjaga keberlanjutan usahanya sehari-hari.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi studi kasus pada pukul 13.30 hingga 14.00, di mana peserta diajak berdiskusi mengenai penerapan prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh kasus yang dibahas adalah bagaimana merancang pesta ulang tahun yang lebih eco-friendly, misalnya dengan mengurangi penggunaan gelas plastik sekali pakai, kemasan makanan ringan berbahan plastik, hingga konfeti berbahan dasar plastik.

Diskusi ini mendorong peserta untuk berpikir kritis mengenai kebiasaan konsumsi yang selama ini dianggap wajar, namun sebenarnya berkontribusi besar terhadap timbunan sampah plastik. Sesi ini resmi berakhir pukul 14.10 dengan sesi tanya jawab dan dokumentasi bersama.

baca juga

Alur kegiatan yang dirancang secara bertahap, mulai dari pemaparan konsep, praktik langsung, pengenalan proses di lapangan, hingga diskusi studi kasus, dinilai efektif membangun pemahaman Lumisea secara menyeluruh, baik dari sisi teori maupun praktik. Pendekatan berbasis pengalaman ini sejalan dengan semangat proyek Green Leaders, yang menekankan pentingnya aksi nyata, bukan sekadar pemahaman konseptual semata, dalam menjawab persoalan lingkungan.

Dengan format yang memadukan edukasi dan praktik langsung ini, AIESEC in Unila berharap EP yang datang tidak hanya pulang dengan produk kerajinan hasil karya sendiri, tetapi juga dengan keterampilan dan kebiasaan baru dalam mengelola sampah yang dapat mereka terapkan secara berkelanjutan, baik di lingkungan tempat tinggal masing-masing maupun di negara asal mereka. Ke depan, kolaborasi semacam ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya AIESEC in Unila memperluas dampak positif program pertukaran relawan internasional bagi isu-isu keberlanjutan lingkungan di Lampung.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.