AIESEC in UKSW telah menyelenggarakan Impact Circle 2.0 Summer Peak bertajuk “Stone Science: Rebuilding Food for a Better World” di Ruang B107 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Kegiatan ini mengangkat Sustainable Development Goals (SDG) 2: Zero Hunger dengan tujuan meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya ketahanan pangan, pemenuhan gizi yang seimbang, serta pemanfaatan sumber pangan lokal yang berkelanjutan.
Sebanyak 50 delegasi mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas secara interaktif melalui seminar, diskusi, permainan edukatif, dan sesi inspiratif bersama para pembicara yang berpengalaman di bidangnya.
Impact Circle 2.0 hadir sebagai ruang belajar yang mendorong peserta memahami bahwa persoalan kelaparan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga kualitas gizi, pola konsumsi, serta keberlanjutan sistem pangan.
Melalui tema yang diangkat, peserta diajak melihat bagaimana kebiasaan makan sehari-hari memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan, lingkungan, dan masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Sesi pertama dibawakan oleh Theresia Pratiwi Elingsetyo Sanubari, S.Si., M.Kes., Associate Professor Program Studi Gizi UKSW, dengan materi bertajuk “Eat Smart, Not Just Full.”
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa cara masyarakat memandang makanan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, hingga sejarah, termasuk warisan kolonial yang membentuk pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Peserta diajak memahami perkembangan sistem pangan dari masa Revolusi Hijau hingga era globalisasi yang menghadirkan berbagai tantangan, seperti ketimpangan akses lahan dan perubahan gaya hidup.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya diversifikasi pangan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis bahan pokok serta memanfaatkan berbagai sumber pangan lokal yang kaya nutrisi.
Melalui pemilihan bahan makanan yang tepat, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Sesi ini mengajak peserta untuk menjadi konsumen yang lebih bijak dengan memahami dampak pilihan makanan terhadap kesehatan, masyarakat, dan bumi.

Pada sesi berikutnya, Putra Tsalatsa Munandar, CIR SEA Team Member of Outgoing Global Volunteer AIESEC in Semarang sekaligus alumni program Global Volunteer di Vietnam, membawakan materi “Go Beyond Borders: Become a Global Volunteer.”
Melalui pengalaman pribadinya, Putra memperkenalkan program Global Volunteer AIESEC sebagai wadah bagi generasi muda untuk berkontribusi langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals melalui proyek sosial internasional.
Ia menjelaskan tahapan persiapan hingga keberangkatan sebagai relawan, manfaat membangun jejaring global, serta pengembangan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, adaptasi, dan empati dalam lingkungan multikultural.
Peserta juga diajak memahami bahwa pengalaman menjadi relawan internasional bukan sekadar kesempatan bepergian ke luar negeri, tetapi merupakan proses pembelajaran yang membentuk karakter sebagai warga dunia yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sesi ini menginspirasi peserta agar berani keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan kesempatan global untuk membawa perubahan nyata.
Meskipun sempat terjadi pemadaman listrik sesaat sebelum acara dimulai, pelaksanaan Impact Circle 2.0 tetap berlangsung dengan lancar tanpa mengurangi semangat peserta maupun panitia. Berbagai sesi diskusi dipadukan dengan ice breaking dan permainan interaktif sehingga suasana seminar terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para delegasi memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai urgensi SDG 2 di Indonesia sekaligus terdorong untuk mengambil peran aktif dalam mendukung ketahanan pangan, baik melalui perubahan kebiasaan konsumsi maupun keterlibatan dalam kegiatan sosial berskala global.
Salah satu Organizing Committee Vice President of Program, Ganira, turut membagikan kesannya setelah mengikuti rangkaian acara. “Seru banget karena biasanya pembahasan SDGs lebih sering berfokus pada SDG 4 tentang pendidikan. Waktu tahu Impact Circle mengangkat SDG 2 Zero Hunger, aku langsung tertarik karena menurutku topik ini masih cukup underrated, padahal sama pentingnya. Aku juga menikmati materi yang berbeda dari perkuliahan. Yang paling seru justru saat games, karena awalnya kupikir acaranya hanya seminar biasa. Ternyata banyak aktivitas interaktif, bahkan dapat konsumsi juga, jadi tidak membosankan. Aku kasih nilai 9 dari 10. Kalau Impact Circle diadakan lagi, aku bakal jadi orang pertama yang waiting in line.”
Kesan positif juga datang dari salah satu delegasi, Chelsea, yang mengapresiasi suasana acara yang interaktif dan mampu membangun kedekatan antarpeserta. “Aku kasih nilai 9 dari 10 karena keseluruhan acaranya sudah berjalan dengan baik dan menyenangkan. Seribu terima kasih untuk seluruh Organizing Committee yang sudah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Semoga Impact Circle berikutnya bisa berjalan lebih baik lagi dan memberikan pengalaman yang semakin berkesan bagi semua peserta.”
Melalui Impact Circle 2.0, AIESEC in UKSW kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk memahami isu-isu global sekaligus mengambil langkah nyata dalam mewujudkan dunia yang lebih sehat, berkelanjutan, dan bebas dari kelaparan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


