masjid tua wapauwe masjid 1414 yang konon pindah dalam semalam - News | Good News From Indonesia 2026

Masjid Tua Wapauwe: Masjid 1414 yang Konon Pindah dalam Semalam

Masjid Tua Wapauwe: Masjid 1414 yang Konon Pindah dalam Semalam
images info

Masjid Tua Wapauwe/wikipedia


Bayangkan sebuah masjid berusia lebih dari 600 tahun dapat dibongkar, dipindahkan, lalu kembali berdiri di lokasi baru. Kisah seperti inilah yang melekat pada Masjid Tua Wapauwe di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Masjid yang dipercaya berdiri sejak 1414 itu konon pernah dipindahkan dari kawasan puncak Gunung Wawane menuju Kaitetu hanya dalam semalam. Peristiwa tersebut diyakini berkaitan dengan perpindahan masyarakat ke wilayah pesisir setelah kedatangan para pedagang Eropa.

Sekilas, kisah itu memang terdengar seperti legenda. Namun, konstruksi tradisional Masjid Tua Wapauwe membuat cerita tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya mustahil.

Lokasinya berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Ambon. Masjid ini juga berada tidak jauh dari Benteng Amsterdam dan kawasan pantai, hanya sekitar 300 meter. Pengunjung harus melewati permukiman warga sebelum tiba di sebuah gapura dengan tulisan “Mesjid Tua Wapaue Kaitetu.”

Bangunan utama masjid berukuran sekitar 10 x 10 meter. Bentuknya sederhana, tetapi menyimpan banyak peninggalan bersejarah. Di dalamnya, karpet hijau modern justru berdampingan dengan tiang, mimbar, lampu, hingga manuskrip yang telah berusia ratusan tahun.

Raja Negeri Kaitetu, M. Armin Lumaela, menjadi salah satu pihak yang menjelaskan sejarah panjang masjid tersebut.

“Masjid Tua Wapauwe ini merupakan salah satu situs sejarah perjalanan masuknya Islam, termasuk bukan cuma Maluku, tapi di Nusantara,” katanya.

Tanpa Paku, Dibangun Seperti Puzzle

Salah satu daya tarik utama masjid ini adalah teknik konstruksinya. Saka guru atau tiang utama yang menopang bangunan dipercaya masih menggunakan material dari masa awal pendirian masjid.

Bekas pahatan kapak masih terlihat pada permukaannya. Berbeda dengan bagian yang mengalami penggantian ketika pemugaran besar pada 1990–1991, material lama tampak lebih kasar karena dikerjakan menggunakan teknik tradisional.

Uniknya, bagian-bagian bangunan tidak disatukan menggunakan paku maupun pasak. Setiap komponen dibuat saling mengunci layaknya potongan puzzle.

“Sistemnya seperti puzzle. Jadi kalau tiang itu ada lidahnya, balok ada lubangnya,” kata Armin.

Teknik tersebut dipercaya memiliki kaitan dengan kondisi geografis Maluku yang rawan gempa.

“Jadi, fungsinya ini yang orang di Jepang punya teknik konstruksi anti-gempa, kita punya leluhur juga sudah. Teknik itu sudah digunakan,” katanya, menjelaskan.

Material bangunan juga sangat dekat dengan lingkungan setempat. Atap menggunakan rumbia dari daun sagu, sementara dindingnya memanfaatkan pelepah sagu atau gaba-gaba. Bagian bawah dinding dibuat dari kapur batu karang yang direkatkan menggunakan lendir daun waru.

Mimbar 1414, Al-Qur’an Kuno hingga Panji Merah Putih

Bagian dalam masjid menyimpan sejumlah artefak menarik. Salah satunya lampu gantung kuno yang bentuknya menyerupai lampu rumah joglo. Lampu tersebut masih menggunakan sumbu dan dapat dinyalakan dengan minyak kelapa.

Ada pula mimbar kayu berwarna hijau terang dengan aksen kuning dan merah muda. Meski warnanya telah diperbarui, kayunya dipercaya masih berasal dari masa awal masjid.

“Mimbarnya yang kita ganti cuma catnya, tapi kayunya masih asli dari tahun 1414,” kata Armin.

Di atas mimbar terdapat relief buah nanas. Dalam bahasa lokal, buah tersebut disebut pawa, yang dimaknai sebagai petunjuk atau penerang.

Di sisi mimbar juga terdapat duplikat panji segitiga merah putih yang dipercaya telah ada sejak awal berdirinya masjid.

“Nah, ini masih pertanyaan, apa pengaruhnya kok bisa sampai sekarang negara bisa punya simbol bendera yang sama, merah putih ini?” ujar Armin.

Peninggalan lainnya mencakup bedug panjang, timbangan zakat kuno dengan ukiran bunga melati, serta tongkat untuk khutbah Jumat. Menurut Armin, penelitian LIPI terhadap material tongkat menunjukkan bahwa kayunya tidak berasal dari Nusantara, melainkan dari Hadramaut.

Masjid ini juga menyimpan mushaf Al-Qur’an kuno yang diperkirakan ditulis sekitar 1500 menggunakan kertas dari Eropa. Periode tersebut berdekatan dengan kedatangan Portugis di Maluku pada 1512.

Keberadaan Masjid Tua Wapauwe hingga kini bukan hanya karena bangunannya masih digunakan untuk beribadah. Tradisi adat juga menjadi benteng penting bagi kelestariannya.

Sebelum pemugaran dilakukan, masyarakat harus melibatkan Tukang Husa Lua atau Tukang 12. Lembaga adat beranggotakan 12 orang ini terdiri atas tokoh adat dan pengrajin yang memiliki keahlian khusus.

“Tukang 12 ini, mereka punya posisi ini (karena) garis keturunan dan mereka adalah pelaku adat,” ujar Armin.

Mereka memiliki kewenangan menentukan apakah renovasi dapat dilakukan, kapan pekerjaan dimulai, hingga bagaimana proses pemugaran harus dilaksanakan.

Aturan tersebut membuat renovasi tidak boleh mengubah karakter asli masjid. Penambahan beranda berukuran 6 x 4 meter memang dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah, tetapi bagian inti bangunan tetap dipertahankan.

“Inilah salah satu hal yang (membuat) masjid ini masih terawat, karena ketika kita mengganti atau merenovasi pun tidak bisa merubah sesuai dengan yang sudah ada,” papar Armin.

Dari konstruksi tanpa paku hingga mushaf kuno dan tradisi adat yang masih hidup, Masjid Tua Wapauwe bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi saksi perjalanan Islam, teknologi bangunan tradisional, sekaligus ingatan kolektif masyarakat Maluku yang terus diwariskan lintas generasi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.