Sampah sisa sayuran dan kulit buah yang biasanya berakhir di tempat sampah atau dibakar ternyata masih dapat dimanfaatkan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui program KERTAKSI (Kertajati Aksi Kelola Sampah Organik) di Desa Kertajati, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka.
Bersama Bank Sampah Unit (BSU) Desa Kertajati, mahasiswa mengenalkan alternatif pengelolaan sampah organik melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan pupuk organik cair (POC). Rangkaian kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas perangkat desa, ketua RT, kepala dusun, dan anggota PKK.
Mengenalkan Potensi Sampah Organik

Sosialisasi pengelolaan sampah organik kepada peserta KERTAKSI di Desa Kertajati
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa, pembakaran sampah masih menjadi salah satu cara yang digunakan masyarakat untuk menangani sampah organik rumah tangga. Melalui KERTAKSI, mahasiswa memperkenalkan alternatif pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkannya sebagai bahan pembuatan POC.
Kegiatan dilakukan dengan 2 tahap, yaitu sosialisasi dilaksanakan pada 24 Juli 2026 dan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan POC pada 31 Juli 2026. Dalam sosialisasi, mahasiswa menjelaskan pengertian dan karakteristik sampah organik, permasalahan yang dapat muncul akibat pengelolaan yang kurang tepat, prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), serta potensi pemanfaatan sampah organik menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
Masyarakat diperkenalkan dengan berbagai contoh sampah organik, seperti sisa sayuran, kulit buah, daun, dan rumput. Bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk, salah satunya POC.
Selain materi mengenai pengelolaan sampah, mahasiswa juga menjelaskan tahapan pembuatan POC, mulai dari pemilahan sampah, pencacahan, pencampuran bahan, hingga proses fermentasi. Penggunaan airlock juga diperkenalkan sebagai bagian dari sistem fermentasi untuk membantu mengalirkan gas yang terbentuk selama proses tanpa harus membuka wadah secara rutin.
Demonstrasi Pembuatan POC

Demonstrasi pembuatan POC bersama peserta KERTAKSI
Pada kegiatan demonstrasi 31 Juli 2026, mahasiswa menunjukkan secara langsung proses pembuatan POC menggunakan 2–3 kilogram sampah organik berupa sisa sayuran dan kulit buah, 8 liter air cucian beras, 150 mililiter molase, serta 150 mililiter EM4. Bahan-bahan tersebut ditempatkan dalam wadah fermentasi berkapasitas 15 liter.
Tahapan demonstrasi dimulai dengan pemilahan dan pencacahan sampah organik. Bahan kemudian dicampurkan dengan air cucian beras, molase, dan EM4 sebelum dimasukkan ke dalam wadah fermentasi. Wadah selanjutnya dipasangkan dengan sistem airlock dan dibiarkan mengalami proses fermentasi selama minimal 14 hari.
Melalui demonstrasi tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung tahapan pengolahan sampah organik menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan POC.
Melihat Perubahan Selama Fermentasi
Setelah demonstrasi selesai, mahasiswa KKNT IPB melakukan pemantauan terhadap proses fermentasi sejak hari ke-4 hingga hari ke-13. Pada pemantauan tersebut, mulai terlihat pelepasan gas hasil fermentasi yang ditandai dengan munculnya embun pada bagian dalam botol airlock. Warna cairan juga mulai berubah menjadi coklat jingga. Selain itu, bahan organik mulai mengapung sehingga terlihat adanya pemisahan antara cairan dan bahan organik. Cairan juga mulai menunjukkan aroma asam kecut selama proses fermentasi berlangsung.
Proses fermentasi ditargetkan berlangsung selama minimal 14 hari. Karena pemantauan mahasiswa dilakukan hingga hari ke-13, proses selanjutnya dapat diteruskan oleh pihak desa setelah rangkaian kegiatan KKNT IPB berakhir.
Sarana Pengolahan Sampah untuk Desa
Penyerahan sarana pengolahan sampah organik kepada Pemerintah Desa Kertajati
Selain memberikan edukasi dan demonstrasi, mahasiswa KKNT IPB juga menyerahkan sarana pendukung pengolahan sampah organik kepada Pemerintah Desa Kertajati. Sarana tersebut berupa mesin pencacah sampah organik, wadah fermentasi, dan airlock.
Mesin pencacah dapat digunakan untuk memperkecil ukuran sampah organik sebelum proses pengolahan. Sementara itu, wadah fermentasi dan airlock menjadi sarana pendukung dalam proses fermentasi POC.
Melalui penyediaan sarana tersebut, pengolahan sampah organik diharapkan dapat terus dilakukan setelah program KKNT IPB selesai. Pemerintah Desa Kertajati bersama masyarakat dan BSU Desa Kertajati dapat memanfaatkan sarana yang telah diberikan untuk mendukung pengelolaan sampah organik di lingkungan sekitar.
Program KERTAKSI menjadi salah satu upaya mahasiswa KKNT IPB untuk mengenalkan alternatif pengelolaan sampah organik kepada masyarakat Desa Kertajati. Dari sisa sayuran dan kulit buah hingga proses fermentasi, kegiatan ini memperkenalkan bahwa sampah organik masih dapat dimanfaatkan melalui pengolahan sederhana yang dapat dikembangkan di lingkungan desa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


