kisah kapten sigit instruktur terbang yang selamat dari kecelakaan pesawat kini jadi direktur keamanan penerbangan ri - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Kapten Sigit, Instruktur Terbang yang Selamat dari Kecelakaan Pesawat, Kini Jadi Direktur Keamanan Penerbangan RI

Kisah Kapten Sigit, Instruktur Terbang yang Selamat dari Kecelakaan Pesawat, Kini Jadi Direktur Keamanan Penerbangan RI
images info

Kapten Sigit Hani Hadiyanto


Kapten Sigit Hani Hadiyanto punya pengalaman pahit di dunia penerbangan. Luka bakar pada wajahnya kini adalah bukti bagaimana ia kuat ketika di lapangan saat itu. Kini, ia tidak lagi berada di lapang, tapi sudah duduk di salah satu kursi paling strategis dalam dunia penerbangan Indonesia.

Sigit kini menjabat sebagai Direktur Keamanan Penerbangan di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Tugasnya memastikan langit Indonesia aman untuk jutaan penumpang setiap hari. Padahal, hampir tiga dekade lalu, dialah korban dari sebuah kecelakaan pesawat yang nyaris merenggut nyawanya.

baca juga

Kecelakaan Pesawat Jadi Titik Balik

28 Januari 1997. Sigit bertugas sebagai instruktur penerbang, mengajar siswanya, Dwi Krismawan, menggunakan pesawat latih TB-10 Tobago di area dekat Gunung Gede, Jawa Barat.

Cuaca saat itu sedikit gerimis dan berawan. Tapi karena instruktur lain tak melapor masalah, Sigit tetap memutuskan terbang. Ia lalu mengambil alih kemudi dari siswanya untuk mencari area latihan yang lebih baik.

Sayangnya, kabut menghalangi pandangan Sigit. Dalam hitungan detik, pepohonan tiba-tiba tampak terlalu dekat.

"Tetapi instantly pada saat itu juga saya sudah merasakan bahwa ini tidak dapat. Sudah terlalu dekat," kenang Sigit dalam tayangan Kick Andy.

"Yang kemudian, ya mungkin sekilas dan petunjuk dari Tuhan, kalaupun harus crash, maka saya harus upayakan efeknya seminimal mungkin. Saya level kembali, paling tidak itu sejajar dengan lereng gunung. Tarik habis, full power, kalau lolos alhamdulillah, kalaupun tidak, tidak frontal," tuturnya.

Pada akhirnya, pesawat itu tetap menghantam gunung.

Insiden semacam ini disebut Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yakni kondisi ketika pesawat sebenarnya masih sepenuhnya dalam kendali pilot, tak ada kerusakan teknis, tapi tanpa sengaja menabrak medan di depannya. CFIT dikenal sebagai salah satu penyebab kecelakaan fatal yang paling sering terjadi di dunia penerbangan.

baca juga

Sadar di Tengah Api, Mencari Sang Siswa

Dalam kecelakaan itu, pesawat terbakar dengan kondisi keduanya masih di dalam kabin.

Sigit pun sempat kehilangan kesadaran akibat benturan. Ia sendiri tak tahu persis berapa lama itu berlangsung.

"Memang pada saat impact atau crash itu kemungkinan kita berdua memang kehilangan kesadaran... sayangnya mungkin pesawatnya terbakar dan memang saat kita di dalam hingga akhirnya kita menderita luka bakar seperti ini," ujarnya.

Begitu siuman, hal pertama yang dilakukannya bukan menyelamatkan diri sendiri, melainkan mencari keberadaan Dwi yang duduk di kursi sebelah kiri. Setelah beberapa kali memanggil, ia baru tahu siswanya sudah lebih dulu berhasil keluar.

Keduanya selamat, tapi dengan harga mahal. Sigit mengalami luka bakar di 27 persen tubuhnya, mencakup wajah, leher, dan kedua lengan, dengan tingkat keparahan grade 3 di area kepala.

Sebagai gambaran, luka bakar grade 3 atau full-thickness burn adalah tingkat keparahan tertinggi dalam klasifikasi medis luka bakar. Kerusakannya menembus seluruh lapisan kulit hingga jaringan di bawahnya, sehingga nyaris selalu membutuhkan operasi rekonstruksi berkali-kali.

baca juga

21 Kali Operasi, 15 Bulan Perjuangan

Dengan luka bakar itu, Sigit harus bolak-balik melakukan upaya pemulihan.

Dokter spesialis bedah plastik yang menanganinya, Imam Susanto, menjelaskan betapa kritisnya kondisi Sigit saat itu. Ia dan siswanya sama-sama mengalami trauma inhalasi karena terjebak di ruang tertutup saat kebakaran, sehingga bukan cuma kulit yang terbakar, tapi juga saluran napas yang menghirup asap.

"Jadi, pertama saya pikir ialah membebaskan jalan napasnya. Setelah aman, adalah cairan yang paling penting, supaya tidak kekurangan. Luka bakar grade 3 itu memang luar biasa, kita harus cepat menanganinya," kata Imam.

Sigit menjalani perawatan sekitar 15 bulan di RS Gleneagles, Tangerang, dengan tak kurang dari 21 kali operasi. Ia sempat kehilangan kelopak mata kanan dan mengalami perubahan bentuk bibir serta mulut akibat jaringan kulit yang tertarik.

Luka fisik ternyata bukan yang paling berat dijalani Sigit. Ia sempat berdiri lama di depan pintu rumahnya sendiri sebelum berani kembali bekerja, karena khawatir dengan reaksi orang-orang terhadap wajah barunya. Ia juga pernah mengalami momen menyakitkan saat seorang anak kecil ketakutan melihat kondisi wajahnya.

Pertanyaan "mengapa harus saya" berulang kali muncul di kepalanya selama masa rawat jalan. Tapi dukungan keluarga dan keyakinannya perlahan membantu Sigit menerima kondisinya sebagai bentuk dari ujian yang tetap membuka jalan untuknya terus berkarya.

baca juga

Cinta yang Bertahan Meski Sempat Ditentang

Dua tahun setelah kecelakaan, seorang perempuan bernama Menuk Sudarwati hadir dalam hidup Sigit. Keluarga Menuk sempat keberatan dengan hubungan itu.

"Keluarga saya sempat menentang. Namun karena kegigihan Sigit, sikap mereka mulai berubah dan menerima Sigit," kata Menuk, seperti dikutip dari laporan SCTV.

Keduanya menikah pada September 2005 dan dikaruniai tiga putri. Sigit selalu menegaskan kepada anak-anaknya bahwa wajahnya bukan sesuatu yang memalukan, melainkan bukti bahwa sang ayah pernah menjalankan tugas sebagai penerbang. Pada 2024, Menuk meninggal dunia, duka baru yang harus kembali dijalani Sigit setelah bertahun-tahun berjuang bersama.

baca juga

Karier yang Terus Menanjak

Kecelakaan itu memang menutup pintu kariernya sebagai pilot aktif karena ia tak lagi memperoleh izin kesehatan untuk menerbangkan pesawat. Tapi Sigit tidak pergi dari dunia yang ia cintai.

Sejak 2001, ia tercatat sebagai pegawai negeri sipil di Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Ia bahkan tetap mengajar materi penerbangan kepada calon-calon pilot di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, kampus yang sama tempat ia lulus sebagai angkatan ke-52 pada Maret 1996.

Kepala Sub Direktorat Operasi Pesawat Udara saat itu, Adhy Gunawan, memuji etos kerja Sigit.

"Dia sangat ulet di lapangan, sangat terampil," ujarnya, sembari menyayangkan Sigit yang tak lagi bisa terbang.

"Sayang, dia tidak mendapat izin dari bagian kesehatan lisensi terbang."

Dari sana, jenjang kariernya terus menanjak. Berdasarkan profil resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Sigit tercatat pernah menjabat Direktur Navigasi Penerbangan (September 2021–Mei 2024), Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Mei–Agustus 2024), sebelum akhirnya dipercaya sebagai Direktur Keamanan Penerbangan sejak Agustus 2024.

Sigit juga sempat mengenyam pendidikan lanjutan, meraih gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Terbuka pada 2003, lalu Magister Transportasi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran pada 2009.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.