Pak Handoyono sudah bertahun-tahun jadi pemulung. Setiap hari, ia berkeliling membawa karung besar, memilah apa saja yang bisa dijual dari tumpukan sampah orang lain. Penghasilannya dulu tidak menentu, sekitar Rp40.000–Rp60.000 sehari.
Sekarang, penghasilannya bisa naik hingga 2x lipat. Ia bisa mengantongi Rp100.000 sampai Rp150.000 per hari. Bukan hanya karena ia bekerja lebih keras. Pak Handoyono sekarang juga lebih tahu berapa harga sebenarnya dari barang yang ia kumpulkan.
Perubahan itu terjadi sejak Pak Handoyono jadi mitra Daur Tanggung, bisnis pengepulan sampah yang didirikan Elisa Bangun bersama ayahnya pada Desember 2024.
Kisah Pak Handoyono hanyalah segelintir dari ratusan pemulung yang jadi mitra. Dan memang, itulah inti dari apa yang ingin dibangun Daur Tanggung sejak awal. Bukan sekadar bisnis daur ulang, tapi misi memanusiakan profesi yang selama ini dipandang sebelah mata.
Dulu, Pemulung Tidak Tahu Harga Barangnya Sendiri
Kenapa pemulung bisa mendapat kenaikan pendapatan 50%? Kawan, inilah kesenjangan yang kerap terjadi di dunia pengelolaan barang bekas.
Seringnya, pemain besar dalam bisnis sampah bisa punya penghasilan yang fantastis, punya rumah dan punya mobil. Di sisi lain, para pemulung yang jadi ujung tombak pengumpulan sampah malah seringnya tidak paham jenis-jenis sampah yang mereka bawa sehingga dibayar dengan harga rendah.
"Mereka tuh diberi harga yang kecil atau bahkan rendahan, nggak harga yang transparansi," kata Elisa kepada GNFI.
Dari sinilah lahir tagline Daur Tanggung yang digagas Elisa, “ubah sampah jadi cuan dengan edukasi dan transparansi.”
Apa Itu Daur Tanggung dan Bagaimana Cara Kerjanya
Daur Tanggung adalah bisnis pengepulan sampah atau pihak perantara yang membeli sampah bernilai jual dari pemulung, lalu menyalurkannya ke industri yang mengolahnya jadi bahan baku baru. Sebagaimana pengepul lainnya, Daur Tanggung menerima jenis sampah yang beragam, mulai dari botol plastik, kardus, besi, aluminium, hingga ember dan jeriken bekas.
Yang membedakan Daur Tanggung dengan pengepul kebanyakan ada di dua hal, yakni edukasi dan transparansi. Pemulung yang menyetor barang ke Daur Tanggung mendapat edukasi jenis sampah apa yang lebih bernilai. Misalnya, botol plastik yang labelnya sudah dicopot dan tutupnya dipisah, harganya lebih tinggi dibanding yang masih utuh kotor.
Nota Dua Rangkap, Senjata Memberikan Transparansi Harga
Inti dari sistem transparansi Daur Tanggung sebetulnya sangat sederhana. Mereka membuat nota dua rangkap. Satu lembar dipegang pemulung, satu lagi disimpan Daur Tanggung.
Nota itu mencatat jenis barang yang ditimbang dan harganya. Jika ada selisih hitungan, entah kelebihan atau kekurangan, pemulung punya bukti untuk mempertanyakannya.
"Fungsinya adalah buat pemulung ini atau customer kita tuh tahu apa sih barang yang ditimbang, harga barang ini tuh berapa," jelas Elisa. "Itu bisa buat bahan bukti."
Bagi Elisa, Mitra Pemulung adalah Keluarga
Dampak Daur Tanggung tidak hanya terbatas pada angka pendapatan. Elisa dan ayahnya secara aktif menanamkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menurut mereka penting bagi kualitas hidup para mitra pemulung.
"Kita tuh selalu ngingetin pemulung kita kayak, ayo dong rapih-rapih, ayo bersih... bahkan sesimpel kayak ayo mandi gitu, biar kita bersih, biar kita wangi, biar kita enak dipandang orang," cerita Elisa.
Saat makan bersama, mereka mengajak berdoa dulu. Mereka juga rutin mengingatkan soal kejujuran. Elisa dan ayahnya tak luput untuk menanyakan asal barang yang disetor, sekaligus menegaskan pentingnya tidak mencuri.
Perubahan yang paling menyentuh Elisa bukan soal uang, tapi soal kebiasaan menabung yang mulai tumbuh di kalangan pemulung. Sebelumnya, kata Elisa, banyak dari mereka tidak punya literasi finansial sama sekali sehingga mereka hidup dari hari ke hari tanpa perencanaan.
"Sekarang sudah mulai mengasuhi... tebakan untuk menabung. Jadi ada tabungan mereka sedikit-sedikit gitu untuk mereka gunakan lagi," katanya.
"Yang membuat bangga aku itu sih lebih kepada perubahan dari diri mereka dan mindset mereka," imbuh Elisa.
Saat ini, Daur Tanggung telah bermitra dengan 116 pemulung dan mengelola 20 hingga 25 ton sampah per bulan.
Yang membuat kisah Daur Tanggung berbeda dari cerita bisnis kebanyakan adalah caranya mengukur keberhasilan. Bagi Elisa, kebanggaan terbesar bukan pada omzet atau ekspansi, melainkan pada perubahan hidup nyata para mitranya, dari yang dulu tidak tahu harga barangnya sendiri, kini bisa menabung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


