Terowongan Lubang Kalam adalah sebuah terowongan kereta api yang terletak di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Terowongan ini sudah ada sejak zaman kolonial, tepatnya sekitar tahun 1894.
Terowongan Lubang Kalam menjadi terowongan kereta api aktif terpanjang di Sumatra dengan panjang mencapai 828 meter. Uniknya lagi, bukan hanya yang terpanjang di Sumatra, Terowongan Lubang Kalam juga menjadi terowongan terpanjang ke-3 di Indonesia.
Terowongan ini dibangun untuk membantu kepentingan pertambangan batu bara di Ombilin. Di masa lalu, Ombilin merupakan lokasi pertambangan baru bara yang sangat termasyhur.
Terowongan ini terletak di antara Stasiun Sawahunto dan Stasiun Muaro Kalaban. Saat ini, kereta yang melintasi terowongan ini adalah Mak Itam, kereta wisata yang dikelola oleh KAI Wisata
Sejarah Terowongan Lubang Kalam
Nama “Lubang Kalam” dalam bahasa Minangkabau berarti lubang gelap. Pembangunan Terowongan Lubang Kalam sejalan dengan ambisi Staatsspoorwegen (SS) untuk membuka jalur Sawahlunto-Muaro Kalaban untuk dijadikan sarana pengangkutan batu bara.
Konon, pembangunannya dilakukan oleh tenaga kontrak dan buruh yang dipaksa untuk menebus bukit dengan batuan cadas yang keras sepanjang 828 meter. Bahkan, disebut bahwa buruh-buruh malang ini bekerja dengan bertelanjang dada dan kaki hingga kulit mereka menghitam karena terbakar.
Akibat medan yang sulit, pembangunan jalur Sawahlunto-Muaro Kalaban yang “hanya” 4 km itu memakan waktu dua tahun, yakni pada 1892-1894.
Tak hanya itu, berkat terowongan ini, Sawahlunto juga semakin terhubung dengan dunia luar. Berkat jalur kereta dan terowongan ini, batu bara berkualitas dari Ombilin bisa diekspor sampai ke luar negeri.
Terowongan ini memiliki semacam bilik atau sleko di sisi kanan dan kirinya. Jumlah ruangan tersebut ada 33 buah di sepanjang terowongan. Ceruk ini difungsikan sebagai tempat berlindung bagi petugas atau penjaga terowongan saat ada kereta api melitas.
Reaktiviasi Jalur dan Kembalinya Mak Itam
Terowongan Lubang Kalam sempat non-aktif sejak lama. Namun, di tahun 2022, PT KAI Persero bersama dengan BUMN lain, yakni PT Bio Farma (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), melakukan reaktivasi di jalur KA Sawahlunto-Muaro Kalaban sejauh 4 km.
Pengoperasian jalur ini merupakan program Pemerintah Kota Sawahlunto untuk mendukung Situs Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2019 silam.
Akan tetapi, reaktivasi ini bukan untuk melayani perjalanan kereta api reguler. Jalur ini diaktifkan untuk digunakan sebagai rute kereta wisata Mak Itam Semen Indonesia Group (SIG). Mak Itam sendiri merupakan kereta legendaris buatan Jerman yang menggunakan lokomotif uap E1060.
Sebagai informasi, jalur Sawahlunto-Ombilin berhenti di tahun 2000-an seiring dengan berkurangnya jumlah atau produksi batu bara di Ombilin. Jalur ini sempat dioperasikan untuk perjalanan KA Wisata Mak Itam di tahun 2009, tapi berhenti total di 2014. Mak Itam kemudian dipajang di Museum Kereta Api Sawahlunto.
Mak Itam yang “Menghidupkan” Kembali Sawahlunto
Mak Itam dalam bahasa Minangkabau berarti Paman Hitam. Nama ini diambil karena lokomotif tersebut memang memiliki warna hitam legam. Ditambah lagi ada cerobong asap yang bisa mengeluarkan asap berwarna hitam pekat saat berjalan.
Lokomotif ini dibuat tahun 1960-an oleh pabrik Maschinenfabrik Esslingen Jerman dan pernah dipakai untuk mengangkut batu bara. Saat ini, alih-alih dipakai untuk megangkut batu bara, Mak Itam sudah mengganti jobdesc-nya untuk mengangkut wisatawan.
Mak Itam kini menjadi ikon wisata Sawahlunto. Bukan hanya itu, Museum Kereta Api Sawahlunto yang juga merupakan bagian integral dari Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan maupun railfans yang ingin melihat sejarah perkeretaapian di sana.
Ada yang mau mencoba melewati Terowongan Lubang Kalam yang legendaris sekaligus berkeliling di sekitar Sawahlunto dengan Mak Itam?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


