Terowongan Mrawan Banyuwangi merupakan salah satu peinggalan pemerintah kolonial Belanda yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Dibangun pada tahun 1902 oleh Staatsspowegen (SS), Terowongan Mrawan berdiri kokoh membelah Gunung Gumitir.
Terowongan Mrawan memiliki panjang 690 meter dan masuk ke dalam daftar terowongan kereta api aktif terpanjang di Indonesia. Terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Terowongan Mrawan dibangun oleh SS sebagai bagian dari pembukaan jalur kereta api Kalisat-Banyuwangi.
Di dekat Terowongan Mrawan, ada Stasiun Mrawan (MRW). Stasiun ini merupakan stasiun tertinggi di Daop 9 karena berada di ketinggian 524 mdpl.
Stasiun Mrawan dikategorikan sebagai stasiun kelas III/kecil. Konon, stasiun ini sudah ada sejak tahun 1092. Menariknya lagi, stasiun ini juga berdekatan dengan terowongan lainnya, yakni Terowongan Garahan di sebelah baratnya.
Di masa lalu, area sekitar Mrawan adalah jalur ekspor komoditas alam Hindia Belanda. Namun, sejak 2014, Stasiun Mrawan sudah tidak melayani pemberhentian reguler. Saat ini penggunaannya hanya untuk lokasi persilangan dan penyusulan kereta api.
Sejarah Trowongan Mrawan
Kala itu, Belanda ingin membangun jalur transportasi yang bisa menghubungkan Jember dan Banyuwangi agar lebih efektif. Akhirnya, mereka pun membangun jalan di Gunung Gumitir untuk distribusi hasil perkebunan.
Kawasan Gunung Gumitir merupakan jalur rawan longsor yang dibentuk melalui perbukitan purba dengan struktur tanah yang rapuh. Akibatnya, tanah bergerak hingga longsor sering terjadi di kawasan ini.
Pembangunan Terowongan Mrawan dipimpin oleh seorang Hoofdingienieur atau kepala insinyur asal Belanda. Pekerja diminta untuk menggali secara bersamaan dari kedua sisi terowongan, yakni arah Kalisat dan Banyuwangi. Selain itu, sistem drainase juga dibuat untuk menjaga sruktur terowongan.
Melansir dari Instagram resmi @kai121, kereta pertama yang melakukan debut melewati Terowongan Mrawan tercatat pada tanggal 19 Januari 1903. Hal ini sekaligus menandai selesainya pembangunan terowongan yang menjadi salah satu proyek prestisius pemerintah Hindia Belanda.
Dikarenakan struktur tanah di Gumitir “sensitif”, terowongan ini sempat terdampak longsor pada tahun 1909. Sebagai respons cepat, SS langsung melakukan perbaikan dengan memperpanjang mulut terowongan di kedua sisi dan menggali lereng yang cukup curam. Perbaikannya memakan waktu cukup lama hingga selesai di tahun 1910.
Kawan GNFI, Terowongan Mrawan merupakan salah satu terowongan yang sudah “berumur”, sehingga diperlukan perawatan ekstra agar kondisinya selalu prima. Oleh karena itu, PT KAI (Persero) selalu menyediakan pemeriksa juru terowongan di sisi barat terowongan.
Erat dengan Kisah Mistis
Sistem kerja rodi yang dilakukan pemerintah kolonial untuk membangun Jembatan Mrawan mengakibatkan gugurnya banyak pekerja. Banyak di antara mereka yang meninggal karena kelaparan.
Di masa itu, Belanda memaksa mereka untuk bekerja terus-menerus tanpa memberikan upah dan makanan yang layak. Konon, banyak yang percaya jika arwah korban-korban ini masih bersemayam di sana.
Banyak masyarakat yang percaya jika “kehororan” Alas Gumitir dikaitkan dengan arwah para pekerja malang itu. Konon, ada yang mendengar suara minta tolong. Ada pula yang ditampakkan bayangan korban kerja paksa.
Meskipun kental dengan kisah mistisnya, kawasan Gumitir memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Hijau dan rimbunnya pepohonan akan membuat mata siapa pun terpukau saat melihatnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


