motif batik malang dan maknanya - News | Good News From Indonesia 2026

Mendalami Motif Batik Malang dari Sejarah, Filosofi, Ragam Motif, dan Makna Budayanya

Mendalami Motif Batik Malang dari Sejarah, Filosofi, Ragam Motif, dan Makna Budayanya
images info

Mendalami Motif Batik Malang dari Sejarah, Filosofi, Ragam Motif, dan Makna Budayanya | Instagram: Batik Blimbing


Eksplorasi ragam motif batik Malang menjadi perjalanan visual yang memikat karena menghadirkan perpaduan harmonis antara warisan sejarah kejayaan kerajaan masa lalu dan denyut kreativitas masyarakat modern.

Motif batik Malang kerap mengambil inspirasi dari ornamen khas daerah hingga tumbuhan di sekitar masyarakat, sebut saja batik Tugu Malang dan Topeng Malangan sebagai contoh. Hal ini sekaligus menjadi pembeda batik Malangan dengan batik pesisiran hingga keraton Jogja dan Jawa Tengah.

Sebagai salah satu kebanggaan ragam batik Jawa Timur, batik Malang menyimpan jalinan narasi kearifan lokal yang sangat kaya. Artikel ini akan mengupas tuntas setiap lekuk batik khas Malang mulai dari sejarah hingga makna filosofis dari setiap motifnya. Jadi, simak sampai habis, ya!

baca juga

Apa Itu Batik Malangan?

Secara mendasar, motif batik Malang atau yang akrab disapa batik Malangan adalah sebutan untuk karya seni kain batik yang memancarkan motif, corak khas, dan warisan budaya dari wilayah Malang.

Secara definisi, kreasi seni ini lahir sebagai wadah ekspresi budaya yang memadukan tiga komponen utama. Dikutip dari laman resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, komponen utama yang sekaligus menjadi ciri-ciri batik Malangan yaitu motif dasar Candi Badut, motif isen-isen, dan motif hias batik itu sendiri.

Asal-usul penciptaan motif batik Malangan terinspirasi langsung oleh lanskap alam, peninggalan purbakala, serta dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Dalam perkembangannya, beragam corak batik khas Malang telah secara resmi diakui sebagai identitas budaya yang memperkuat kebanggaan lokal sekaligus memperkaya khazanah seni kerajinan di Nusantara.

Sejarah Batik Malangan

Salah Satu Motif Batik Malang: Batik Sukun yang Terinspirasi dari Buah dan Daun Sukun | Pemkot Malang
info gambar

Salah Satu Motif Batik Malang: Batik Sukun yang Terinspirasi dari Buah dan Daun Sukun | Pemkot Malang


Dinas Perpustakaan & Kearsipan Jawa Timur bercerita melalui laman resminya bahwa sejarah batik Malang tidak diketahui secara pasti, tetapi sejak zaman Kerajaan Singosari maupun Kanjuruhan masyarakat Malang sudah memiliki batik dengan ciri khasnya tersendiri.

Batik Malangan atau batik Malang diperkirakan sudah ada sejak sebelum tahun 1900-an. Perkiraan ini didasarkan pada penggunaan batik khas Malangan oleh para pria dan wanita pada upacara tradisional di abad ke-19 yang berlangsung di daerah pedalaman Malang.

Batik yang dikenakan selalu memiliki corak Sidomukti Malang ditambah dengan hiasan kotak putih di bagian tengah yang dinamai Modhang Koro. Corak batik itu dikenakan sebagai udheng (ikat kepala laki-laki) dan sewek (kain panjang perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.

Sebaliknya, literatur lain seperti milik Latief & Sayatman (2019) justru menyebut bahwa motif batik Malang merupakan batik baru karena keberadaannya baru dirintis sejak tahun 2000-an.

Sebagai batik golongan baru, batik khas Malang membawa ciri khas berupa penggunaan bangunan representasi Malang, tumbuhan dan hewan tertentu, serta warisan budaya lain yang berkaitan dengan kebudayaan dan seni masyarakat.

Salah satu yang paling unik yakni penggunaan hewan singa sebagai lambang penduduk Malang dan suporter bola klub asal Malang, yakni AREMA.

Motif batik Malang sendiri berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat beserta pemerintah setempat aktif menggali dan membuat corak-corak unik baru yang mampu merepresentasikan masyarakat kota tersebut.

Contohnya batik Sukun, batik produksi warga penghuni RW 3 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, yang mengadopsi motif daun dan buah dari pohon sukun untuk menjadi karya seni batik yang memperkaya daftar batik Malangan (Pemkot Malang, 2020).

Ciri Khas Motif Batik Malang

Mengenal visualisasi batik khas Malang tentu tidak bisa dilepaskan dari kombinasi unik antara peninggalan relief candi, flora endemis, fauna maskot, serta ikon arsitektur Kota Malang.

Menurut Dinas Perpustakaan & Kearsipan Jawa Timur terdapat tiga ciri pokok motif batik Malang, di antaranya:

  • Ada motif dasar berupa gambar Candi Badut yang merupakan warisan budaya hasil peninggalan kerajaan Kanjuruhan pada tahun 760 M.
  • Ada motif isen-isen: motif utama Tugu Malang dilengkapi rambut singa berwarna putih pada bagian samping yang merupakan simbol kota tersebut.
  • Ada motif hias batik: terdapat bagian boket (hiasan pinggiran kain batik) untuk tumpal (isen-isen di bagian pinggir kain) yang diisi tiga buah sulur bunga teratai dengan pola menyerupai rantai.

Latief & Sayatman (2019) menjelaskan hal serupa. Ciri khas motif batik Malang yakni motif utamanya kerap mengadopsi corak dari Tugu Malang, singa, bunga teratai, dan Topeng Malang.

Bangunan tugu terinspirasi dari relief candi dan monumen kota Malang. Bunga teratai disebut tumbuh di area dekat monumen tugu tersebut sekaligus merupakan bunga kesukaan Kendedes.

Singa seperti yang sudah disinggung, dekat dengan representasi masyarakat Malang, salah satunya adalah identitas mereka sebagai pendukung klub sepak bola asal Malang, AREMA FC.

Selain itu, motif batik Malangan juga mengambil inspirasi dari karya budaya dan seni orisinal khas Malang, misalnya kesenian Topeng Malang.

10 Motif Batik Malang dan Filosofinya

Berikut 10 motif batik Malang lengkap disertai informasi seputar makna filosofis yang terkadung dalam lekuk coraknya:

1. Motif Topeng Malangan

Motif Batik Malang: Topeng Malangan yang Terinspirasi dari Kisah dan Karakter di Topeng Panji | Instagram: Batik Blimbing
info gambar

Motif Batik Malang: Topeng Malangan yang Terinspirasi dari Kisah dan Karakter di Topeng Panji | Instagram: Batik Blimbing


Eksistensi motif Topeng Malangan terinspirasi secara langsung dari pementasan seni wayang topeng Panji yang menceritakan kisah klasik Panji Asmorobangun dan Putri Candra Kirana.

Dalam penelitian Pratiwi dan Murwandani (2021) disebutkan bahwa batik Topeng Malangan pertama kali dicetuskan oleh sosok Wiwik Niarti pada tahun 2011 lalu, bertempat di Rumah Batik Blimbing.

Selain menggandeng karakter sastra Topeng Malangan sebagai motif utama, dalam batik Topeng Malangan juga terdapat beberapa motif lain, mulai dari bunga teratai, tanaman rambat, dan Gunungan Pancasila. Sementara itu, untuk isen-isen, kerap menggunakan isen cecek dan isen sawut.

Dengan motif yang kerap dibuat sederhana, batik Topeng Malangan melambangkan cerita cinta sosok Panji Asmorobangun serta hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat.

2. Motif Tugu Malang

Monumen Tugu terletak di tengah alun-alun Malang, tidak jauh dari Gedung Balai Kota. Bangunan khas Kota Apel tersebut digunakan sebagai inspirasi untuk salah satu motif batik Malang.

Laman Batik Tulis menyebut corak Tugu Malang tersebut menyimpan makna simbolis berupa lambang kekuatan daerah serta bisa dimaknai sebagai wujud kekuatan dan ketangguhan orang yang mengenakannya.

Mengingat nilai budayanya yang mencerminkan identitas kebanggaan patriotik, motif batik satu ini rasanya sangat cocok diterapkan pada seragam dinas maupun kemeja batik pria modern.

3. Motif Bunga Teratai atau Grinsing Teratai

Kawan GNFI bisa dengan mudah menemukan bunga teratai di Monumen Tugu yang berada di depan Balai Kota Malang. Bunga ini merupakan ikon Kota Malang, jadi tidak mengherankan jika kehadirannya dijadikan inspirasi untuk motif batik khas daerah tersebut.

Salah satunya adalah motif batik Gringsing Teratai yang dikembangkan oleh Soendari Batik and Art Gallery sejak tahun 2020. Damayanti dkk. (2023) menerangkan bahwa motif Grinsing Teratai adalah wujud gabungan dari motif batik klasik Grinsing yang dulunya hanya dikenakan oleh kalangan Keraton dan bunga teratai yang menjadi lambang Kota Malang.

Motif bunga teratai dalam batik Grinsing Teratai merupakan lambang kesederhanaan. Filosofi lebih dalamnya mengandung makna bahwa kita sebagai manusia masih senantiasa dapat bermanfaat, bersikap sederhana, dan turut menyumbang kontribusi bagi lingkungan, bahkan meski berada di tempat yang buruk.

Teratai sendiri terkenal akan kemampuannya tumbuh dan mekar meski dalam lingkungan yang airnya keruh dan berlumpur.

4. Motif Kucecwara atau Malang Kucecwara

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur menyinggung bahwa motif batik Kucecwara memiliki hak paten dan karena itu jumlahnya tidak boleh sembarangan diperbanyak.

Motif Malang Kucecwara terdiri dari gabungan corak-corak, mulai dari Tugu Malang, mahkota, rumbai singa, bunga teratai, arca, dan sulur-sulur serta isen-isen belah ketupat. Semua elemen ini menyimpan makna filosofisnya masing-masing dan merupakan perwujudan berbagai doa baik untuk pemakainya.

Sebagai contoh, corak Tugu Malang dalam batik ini merupakan perwujudan doa agar orang yang mengenakannya senantiasa kuat dan tegar dalam hidupnya. Mahkota adalah doa agar si pemakai mencapai puncak kejayaan hidup.

Lalu, isen-isen belah ketupat yang terinspirasi dari relief Candi Badut merupakan doa agar pemakai batik itu selalu berinstrospeksi diri, menyadari bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna, dan karena itu tidak sepatutnya ia bersikap sombong.

5. Motif Pending

Corak motif Pending diciptakan oleh kalangan pembatik Batik Wangsa Singjasari dan mengambil inspirasi dari sabuk milik putri Ken Dedes dan logo karang Werda yang terdiri dari 3 generasi yang hidup bersama, yakni simbah, anak, serta cucu mereka.

Mirip dengan inspirasi coraknya, motif batik Pending melambangkan tiga generasi dalam keluarga yang hidup bersama menjadi satu. Kehadiran masing-masing generasi tersebut menguatkan serta saling melindungi satu sama lain. Selain itu, terdapat makna filosofis lain dari motif Pending, yakni sebagai penguat keimanan manusia (Darmadji et al., 2024).

6. Motif Padma atau Padma Kelopak Lima

Ragam motif padma memfokuskan visualisasi pada hiasan kelopak bunga teratai pada pakaian Ken Dedes. Menurut penelitian Darmadji et al. (2024), motif batik Padma ini juga kerap disebut Padma Kelopak Lima.

Motif bunga teratai sendiri, dijelaskan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, membawa makna keindahan dan kesuburan. Bahkan menurut kisah zaman dahulu, bunga tersebut dipercaya merupakan tempat takhta Dewa Wisnu, sang dewa pemelihara alam.

Selain itu, seperti yang sudah disinggung, bunga teratai juga bisa melambangkan resiliensi manusia untuk tumbuh dan mekar meski hidup di lingkungan yang tampak kurang baik.

7. Motif Sumping

Batik motif Sumping juga terinspirasi dari pernak-pernik yang dikenakan Ken Dedes, tepatnya mengambil ide dari aksesori yang digunakan pada telinga para raja serta permaisuri Ken Dedes Prayajnaparamita.

Motif Sumping menyimpan makna filosofis yang mendalam, yakni melambangkan pendengaran. Lebih spesifiknya, hal ini membawa penegasan kepada kita bahwa kita dapat mengetahui baik atau buruknya jiwa manusia melalui pendengaran telinga.

8. Motif Renggo

Pengrajin Batik Wangsa Singjasari mendapatkan inspirasi motif Renggo dari hiasan pada busana yang dikenakan Ken Dedes, tepatnya pada aksesori yang dipakai pada bagian bahunya.

Filosofi motif Renggo yakni melambangkan jiwa manusia yang terdiri dari tiga bagian: pikiran, perasaan, dan perbuatan. Ketiga elemen tersebut harus berjalan seimbang.

Di samping itu, hiasan burung di bagian kiri dan kanan motif Renggo juga menyimpan makna filosofis yang mengajarkan agar kita menggantungkan cita-cita setinggi angkasa.

Hal ini tampaknya berkaitan dengan pengalaman pendiri merek Batik Wangsa Singasari, Soepihajarnirwati atau Eyang Tatik, yang pernah bertemu dengan Soekarno pada tahun 1950. Dari pertemuan tersebut, presiden pertama Indonesia itu menyampaikan dua nasihat, salah satunya adalah untuk menggantungkan impian setinggi langit.

9. Motif Candi Badut

Inspirasi motif batik Malangan ini bersumber dari Candi Badut yang merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan abad ke-8, tepatnya tahun 760 Masehi.

Salah satunya bisa dilihat melalui pembuatan motif batik Kinara-Kinari yang mengambil inspirasi dari relief Candi Badut. Kinara-Kinari sendiri pada dasarnya merupakan makhluk mitologis setengah manusia dan setengah hewan.

Mengingat Kinara-Kinari adalah makhluk separuh unggas, pengrajinnya menggunakan warna hitam, cokelat, dan kuning pada batik tersebut. Warna hitam melambangkan keteguhan, kedalaman, dan misteri; cokelat melambangkan ketenangan dan harmoni; sementara kuning melambangkan kemuliaan, kebesaran, kecerdasan, dan kefanaan.

10. Motif Arca Candi Singosari

Sentuhan batik Singosari menampilkan motif arca pada Candi Singasari yang menyimbolkan kekayaan. Dikutip dari penelitian Paramita (2024), keberadaan Candi Singosari dulunya menjadikan Kota Malang sebagai salah satu kekuatan terbesar di Nusantara, bahkan di dunia.

Candi tersebut disebut sebagai lambang kekayaan Kota Apel ini. Dengan mengenakan batik bermotif Candi Singosari atau arcanya, diharapkan individu tersebut dapat senantiasa meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Teknik Pembuatan Batik Malangan

Proses terciptanya batik Malang yang indah melibatkan pengerjaan teknik batik tulis canting, batik cap menggunakan pelat logam, hingga teknik kombinasi cap dan tulis.

Kawan dapat menilik proses pembuatan batik kelompok Batik Wangsa Sanghasari untuk mengetahui langkah-langkahnya. Di antaranya terdiri dari:

  1. persiapan alat dan bahan
  2. Membuat pola
  3. Mencanting/melukis dengan malam
  4. Pewarnaan pada pola-pola yang sudah digambar/dilukis
  5. Fiksasi atau mengunci warna-warna yang sudah dituangkan ke kain
  6. Penjemuran kain
  7. Proses lorot atau merebus kain dalam air mendidih
  8. Penjemuran ulang dengan cara diangin-anginkan

Perbedaan Batik Malangan dengan Batik Daerah Lain

Bila disandingkan dengan kain tradisional kawasan lain, batik malangan berdiri dengan karakter visual yang amat berbeda.

Motif batik tujuh rupa dari Pekalongan terkenal akan nuansa alam. Daerah tersebut kerap menggunakan bentuk hewan dan tumbuhan sebagai inspirasi. Sementara itu, batik Malangan banyak mengombinasikan beberapa corak dalam satu batik, meski ada juga corak yang didominasi hewan atau tumbuhan.

Batik dari Keraton Jogja dan Solo identik dengan motif khas Keraton yang kaya akan aturan dan tidak bisa dipakai oleh sembarang orang. Sementara itu, motif batik Malang lebih bebas dan ekspresif, penggunaannya juga relatif fleksibel.

Dari segi warna, batik Malang, misalnya dari Celaket, kerap menggunakan warna-warna panas, misalnya warna merah dan oranye.

Batik Malangan sebagai Identitas Budaya

Keberadaan batik Kabupaten Malang kini tumbuh pesat menjadi pilar identitas budaya sekaligus penopang ekonomi kreatif lokal.

Sebagaimana dilansir portal resmi Pemerintah Kota Malang melalui laporan Batik Sukun Perkaya Khazanah Batik Malangan, geliat UMKM di berbagai wilayah seperti Sukun, Celaket, dan Blimbing terus melahirkan motif kreasi baru warga yang makin memperkaya khazanah wastra daerah.

Sinergi antara perajin, dukungan festival budaya dari pemerintah, serta partisipasi aktif generasi muda membuat warisan ini terus lestari tanpa kehilangan relevansi zamannya.

Tidak berhenti pada pelestarian motif batik Malangan yang sudah ada, Dinas Perpustakaan & Kearsipan Jawa Timur mengungkapkan bahwa instansi pemerintah bersama dengan organisasi terkait yang peduli akan kelestarian batik Malang juga terus melakukan eksplorasi terhadap motif-motif baru batik Malangan.

Cara Memilih Batik Malangan Berkualitas

Agar Kawan GNFI bisa mendapatkan kain terbaik, terdapat beberapa hal penting yang wajib diperhatikan saat membeli:

  1. Cermatilah kualitas kain dasar seperti bahan katun primisima atau sutra yang terasa sejuk di kulit.
  2. Perhatikan pula kerapian goresan malam serta kejelasan warna pada sisi depan dan belakang kain untuk memastikan ketahanan pewarnaan yang sempurna.
  3. Terakhir, pastikan motif yang dipilih memiliki detail lukisan yang tajam serta memuat filosofi mendalam yang sesuai dengan karakter Kawan.

Sekian artikel berjudul "Mendalami Motif Batik Malang dari Sejarah, Filosofi, Ragam Motif, dan Makna Budayanya".

Semoga informasi ini menambah pengetahuan dan memantik kebangaan Kawan GNFI terhadap kekayaan motif batik Malang serta filosofi mendalam di baliknya!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.