mengenal tri hita karana filosofi rumah adat bali tentang harmonisasi hubungan manusia dengan tuhan sesamanya dan alam - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Tri Hita Karana: Filosofi Rumah Adat Bali tentang Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Tuhan, Sesamanya, dan Alam

Mengenal Tri Hita Karana: Filosofi Rumah Adat Bali tentang Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Tuhan, Sesamanya, dan Alam
images info

Filosofi Rumah Adat Bali tentang Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Tuhan, Sesamanya dan Alam | Sumber: Unplash - Aria Bim


Bali dikenal dunia sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Keindahan alam, kekayaan seni dan budaya, adat istiadat, serta kehidupan spiritual masyarakatnya menjadi daya tarik yang membuat Pulau Dewata memiliki ciri khas tersendiri.

Di balik pesonanya, Bali juga dikenal sebagai daerah yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Salah satu warisan yang terus dijaga adalah filosofi Tri Hita Karana sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Nilai-nilai Tri Hita Karana telah diwariskan secara turun-temurun dan terus diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari aktivitas keagamaan, hubungan sosial, hingga upaya menjaga kelestariaan lingkungan.

Filosofi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dapat terwujud ketika manusia mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. 

Apa itu Tri Hita Karana?

Tri Hita Karana merupakan konsep filosofi tradisional Bali yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali untuk mewujudkan kedamaian dan keharmonisan hidup. 

Secara etimologis, Tri Hita Karana berasal bahasa Sanskerta, yaitu kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti kebahagiaan, dan Karana berarti penyebab. 

Dengan demikian, Tri Hita Karana dimaknai sebagai tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Filosofi ini lahir dari keyakinan bahwa kehdiupan yang damai hanya dapat terwujud apabila ketiga unsur tersebut berjalan secara seimbang dan saling mendukung.

baca juga

Dalam praktiknya, Tri Hita Karana diwujudkan melalui tiga prinsip utama, yaitu Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

Parahyangan: Hubungan Manusia dengan Tuhan

Ajaran yang pertama, yaitu Parahyangan berasal dari kata Para yang berarti mulia atau utama dan kata Hyang yang memiliki makna Tuhan dan segala manifestasi-Nya.

Secara konseptual, Parahyangan berarti hubungan harmonis manusia dengan Sang Pencipta. Parahyangan menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. 

Bagi masyarakat Bali sendiri, hubungan spiritual diwujudkan melalui berbagai bentuk ibadah, persembahyangan, pelaksanaan upacara keagamaan, serta penghormatan terhadap pura dan tempat-tempat suci. 

Pawongan: Harmonisasi Manusia dengan Sesama

Prinsip kedua, Pawongan berasal dari kata Wong yang berarti manusia. Secara konseptual, Pawongan berarti hubungan harmonis manusia dengan sesama manusia.

Filosofi ini menitikberatkan pada pentingnya membangun kehidupan yang dilandasi rasa saling menghormati, menghargai perbedaan, bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, nilai Pawongan tercermin melalui budaya gotong royong, musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, saling membantu saat upacara adat, serta berbagai kegiatan lainnya.

Palemahan: Hubungan Manusia dengan Alam

Selain itu, Palemahan berasal dari kata Lemah yang memiliki arti tanah, alam, ataupun lingkungan. Secara konseptual Palemahan berarti hubungan harmonis manusia dengan lingkungannya.

Palemahan mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang selaras antara manusia dengan alam dan lingkungan. Dengan demikian, alam dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati dan dilestarikan.

Oleh karena itu, masyarakat Bali berupaya menjaga keseimbangan lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, menjaga kebersihan, melestarikan hutan, serta melindungi sumber-sumber air sebagai penopang hidup. 

Implementasi dalam Rumah Adat Bali 

Dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, ajaran Tri Hita Karana tersebut diterapkan. Beberapa di antaranya adalah pada Lembaga Desa Adat dan Subak. Di Desa Adat, aturan mengenai pelaksanaan upacara keagamaan, kehidupan bermasyarakat, hingga pengelolaan wilayah desa disusun berdasarkan prinsip keharmonisan.

baca juga

Menurut kajian mengenai Tri Hita Karana dan Prinsip Harmoni dalam Bangunan Tradisional Bali oleh Cokorda Putra, filososi Tri Hita Karana tida hanya menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga diwujudkan daam tata ruang arsitektur Bali.

Pada arsitektur tradisional Bali, filosofi Tri Hita Karana tercermin pada tata letak ruang menggunakan konsep Tri Mandala dan Asta Kosala Kosali, yaitu pedoman yang mengatur tata letak bangnan berdasarkan nilai-nilai spiritual, sosial, dan lingkungan.

Pada bagian utara atau timur laut terdapat kawasan yang dianggap area paling suci dan biasanya digunakan sebagai pamerajan ataupura keluarga). Area ini menjadi tempat beribadah dan memuja Tuhan sebagai wujud penerapan prinsip Parahyangan.

Sementara itu, pada bagian tengah dimanfaatkan sebagai area hunian dan tempat berkumpul keluarga atau tempat berbagai aktivitas sehari-hari. Penataan tersebut mencerminkan prinsip Pawongan.

Adapun pada bagian selatan atau barat umumnya difungsikan sebagai area penunjang, seperti dapur, lumbung, halaman, maupun ruang terbuka yang menjadi penghubung dengan lingkungan luar atau pekarangan hijau sebagai penerapan Palemahan.

Nilai-nilai Tri Hita Karana harus terus diperkenalkan kepada generasi muda, agar filosofi ini tidak hanya menjadi warisan leluhur yang dikenang, tetapi juga menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.

Dengan menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Tri Hita Karana tetap relevan sebagai landasan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, seimbang, dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.