Dunia belum benar-benar pulih dari satu guncangan ketika guncangan berikutnya datang. Konflik geopolitik masih berlangsung, harga energi berfluktuasi, bank sentral di berbagai negara mempertahankan suku bunga tinggi, sementara arus modal terus berpindah mengikuti dinamika global. Dalam situasi seperti itu, banyak negara berkembang menghadapi tekanan terhadap nilai tukar, investasi, hingga pertumbuhan ekonomi.
Indonesia tentu tidak sepenuhnya kebal. Namun, dibanding banyak negara lain, fondasi ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5 persen, inflasi relatif terkendali, neraca perdagangan masih mencatat surplus, dan kebijakan fiskal maupun moneter dinilai cukup mampu menjaga stabilitas.
Bagi masyarakat, terutama generasi muda, kabar baik itu bukan berarti tantangan telah selesai. Justru sekarang adalah saat yang menentukan apakah modal ekonomi tersebut dapat diubah menjadi peluang.
Ketidakpastian Kini Menjadi Normal Baru

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan dunia telah memasuki fase ketika ketidakpastian bukan lagi peristiwa sementara, melainkan kondisi yang harus diterima sebagai bagian dari ekonomi global.
"Tidak ada yang pasti di dunia selain ketidakpastian itu sendiri," kata Enrico di Jakarta (16/7/2026).
Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar tingginya harga minyak atau besarnya gejolak pasar, melainkan kecepatan perubahan yang terjadi. Lonjakan harga energi, misalnya, dapat mendorong inflasi, memaksa bank sentral menaikkan suku bunga, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, Enrico menilai Indonesia masih berada pada posisi yang relatif baik. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Hal itu didukung oleh besarnya konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian.
Namun, bertahan di kisaran 5 persen saja belum cukup.
"Kita masih muda. Ibaratnya larinya harusnya masih bisa lebih kencang," kata Enrico.
Bonus Demografi Tidak Otomatis Jadi Keuntungan
Indonesia saat ini menikmati bonus demografi, ketika sebagian besar penduduk berada pada usia produktif. Kondisi ini sering disebut sebagai peluang emas karena mampu meningkatkan produktivitas, konsumsi, hingga investasi.
Namun, peluang tersebut tidak datang dengan sendirinya.
Enrico menilai Indonesia perlu memperkuat mesin-mesin pertumbuhan baru agar bonus demografi benar-benar menghasilkan nilai tambah. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang perlu berjalan bersamaan, yaitu belanja fiskal yang berkualitas, investasi jangka panjang, dan ekspor yang lebih kuat.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan bukan hanya berasal dari luar negeri. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan struktur industri akan mengubah kebutuhan tenaga kerja dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi.
Gen Z Jangan Cuma Jadi Konsumen
Dalam diskusi tersebut, muncul pula data menarik mengenai investor Surat Berharga Negara (SBN) Ritel. Kelompok usia produktif mendominasi kepemilikan instrumen tersebut, sementara partisipasi Gen Z masih relatif kecil.
Fenomena ini mencerminkan tantangan yang lebih luas. Banyak anak muda mulai tertarik pada investasi, tetapi belum semuanya memiliki literasi keuangan yang memadai.
Padahal, menurut Enrico, generasi muda memiliki posisi strategis karena akan menjadi kelompok terbesar dalam perekonomian Indonesia selama beberapa dekade ke depan.
Artinya, Gen Z tidak cukup hanya menjadi konsumen. Mereka juga perlu menjadi kelompok yang produktif, membangun aset, meningkatkan keterampilan, dan memahami bagaimana ekonomi bekerja.
Membangun Ekonomi dari Dalam Negeri
Di tengah ketidakpastian global, Enrico melihat salah satu kekuatan Indonesia justru berada di dalam negeri.
Likuiditas perbankan masih cukup besar sehingga sebenarnya tersedia ruang pembiayaan bagi sektor produktif. Tantangannya adalah bagaimana membangun kepercayaan agar dana tersebut mengalir ke industri yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Menurutnya, sektor manufaktur harus kembali diperkuat. Indonesia tidak boleh terlalu cepat bergeser menjadi ekonomi berbasis jasa tanpa memiliki fondasi industri yang kokoh.
Selain itu, pelemahan rupiah juga tidak selalu harus dipandang sebagai kabar buruk. Selama inflasi tetap terkendali, nilai tukar yang lebih kompetitif dapat meningkatkan ekspor sekaligus memperkuat sektor pariwisata.
"Yang penting adalah confidence-nya dijaga," ujar Enrico.
Kepercayaan investor, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi modal utama agar peluang tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Kondisi makroekonomi yang relatif stabil hanyalah modal awal. Masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh bagaimana bonus demografi dimanfaatkan, bagaimana kualitas sumber daya manusia ditingkatkan, dan bagaimana generasi mudanya mempersiapkan diri menghadapi perubahan.
Ketidakpastian global mungkin tidak akan segera berakhir. Namun, selama Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat produktivitas generasi mudanya, peluang untuk tumbuh lebih cepat tetap terbuka. Dan bagi Gen Z, strategi terbaik adalah dengan mulai membangun kapasitas sejak sekarang agar siap ketika peluang itu datang.
Baca jugaPerkembangan AI di Indonesia, dari Alat Bantu Kerja hingga Peluang Ekonomi Baru
Baca jugaTuris Malaysia Ternyata Bisa Jadi “Juru Selamat” Organik Ekonomi Akar Rumput Saat Rupiah Lemah
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


