AIESEC in Unhas bersama Yayasan Pilihan Tujuhbelas PP17 (Kawula17) menyelenggarakan program Kawula17 Goes to School di Ruang Pola Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar. Kegiatan ini diikuti oleh 120 pelajar tingkat SMA dan SMK sederajat dari beberapa sekolah di Kota Makassar, dengan fokus melatih kemampuan berpikir kritis generasi muda melalui isu lingkungan yang terjadi di kota mereka sendiri.
Kegiatan berlangsung sehari penuh, dari pagi hingga sore, dan melibatkan sejumlah pihak lintas sektor. Selain AIESEC in Unhas sebagai pelaksana di lapangan, Kawula17 turut menggandeng Satya Bumi, organisasi yang berfokus pada kampanye mengenai isu lingkungan hidup dengan Sulawesi sebagai salah satu wilayah perhatian utama mereka. Beberapa organisasi lingkungan lokal juga turut hadir memberikan wawasan kepada peserta, di antaranya Lapor Iklim, Green Generation, Blue Forest, dan Walhi Sulsel. Acara ini juga dihadiri langsung dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman.
Hendra, Research Fellow Kawula17 program Kawula17 Goes to School, menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk mengasah nalar kritis dan kemampuan berpikir runtut pelajar SMA/SMK melalui pendekatan isu lingkungan yang dekat dengan keseharian mereka.
"Kegiatan Kawula17 Goes to School ini, khususnya yang di Makassar, itu kita melakukan kegiatan untuk melatih berpikir kritis teman-teman muda, secara khusus teman-teman yang berada di jenjang SMA dan SMK sederajat. Isu lingkungan ini digunakan untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya, agar mereka juga peduli dengan lingkungan sekitarnya, tentang kondisi yang dialami oleh mereka ataupun mungkin teman-teman atau saudara-saudara lainnya yang ada di Makassar ini," ujar Hendra.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengenalan isu lingkungan yang terjadi di Makassar, dilanjutkan dengan sesi pendalaman masalah hingga peserta menemukan akar persoalan dari isu yang mereka angkat. Setelah itu, peserta diajak memetakan para pemangku kepentingan yang terkait dengan isu tersebut, sebelum akhirnya merumuskan aspirasi dan solusi atas permasalahan lingkungan yang mereka temukan. Seluruh rangkaian ini ditutup dengan pengumpulan aspirasi dari seluruh kelompok peserta, yang kemudian dirangkum menjadi satu suara aspirasi orang muda Makassar terhadap kondisi lingkungan di kota mereka.
Menurut Hendra, tujuan utama program ini bukan sekadar edukasi lingkungan, melainkan juga penguatan kesadaran pelajar akan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Ia menyebut, kegiatan ini menjadi ruang bagi pelajar untuk memahami bahwa mereka memiliki hak atas lingkungan hidup yang layak, sekaligus tanggung jawab untuk turut menjaganya.
Kawula17 berharap para peserta dapat menjadi agent of change di lingkungan masing-masing, mulai dari keluarga hingga komunitas terdekat, dalam menyebarkan kesadaran akan isu lingkungan di Makassar. Lebih jauh, pada kegiatan ini diharap aspirasi dan solusi yang dirumuskan peserta dapat disalurkan dan diserap oleh pemerintah setempat sebagai bagian dari masukan kebijakan.
"Harapan kedepannya, kita berharap teman-teman peserta ini nantinya bisa jadi pemantik buat lingkungannya, buat keluarganya, dan orang-orang terdekatnya untuk bisa lebih menyebarkan tentang bagaimana isu lingkungan ini di daerah mereka. Aspirasi dan ide-ide yang dibuat oleh teman-teman di sini nantinya bisa disalurkan, diarahkan untuk bisa diserap oleh pemerintah, agar menjadi wadah aspirasi bagi orang muda tentang apa yang mereka lihat penting dan perlu diselesaikan terkait masalah-masalah lingkungan di Kota Makassar," tutup Hendra.
Melalui Kawula17 Goes to School Makassar, AIESEC in Unhas dan Yayasan Pilihan Tujuhbelas PP17 berupaya membangun fondasi generasi muda yang tidak hanya melek isu lingkungan, tetapi juga mampu bersikap kritis dan berperan aktif sebagai warga negara yang terinformasi dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial dan lingkungan di sekitar mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

