Apakah Kawan GNFI pernah mendengar lagu "MBG Mas Bahlil Ganteng" yang sempat ramai berseliweran di media sosial?
Lagu bernuansa satir berbalut humor ini menuai beragam tanggapan dari warganet. Sebagian menyoroti muatan politiknya, sementara yang lain membahas proses pembuatannya yang sepenuhnya menggunakan teknologi generative AI.
Di unggahan TikTok, misalnya, akun @sigmacat2017 berkomentar, "It's an AI song to begin with 😭😭😭 instant skip." Komentar serupa juga datang dari akun @ara yang menulis, "lagu mbg tuh kayak... awalnya emang lucu. kalo kebanyakan sih too much ya... mana pake ai lagi...."

Komentar dari @sigmacat2017 di postingan https://vt.tiktok.com/ZSQH9YWMr/on

Komentar dari @arapjs di postingan https://vt.tiktok.com/ZSQH9YWMr/n
Reaksi tersebut menunjukkan bahwa yang diperdebatkan bukan hanya isi lagunya, tetapi juga keterlibatan generative AI dalam proses kreatifnya.
Lalu, apa sebenarnya teknologi generative AI itu? Mengapa sebuah lagu yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan dapat memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat?
Bagaimana Generative AI Menghasilkan Lagu?
Generative AI atau GenAI adalah teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten baru. Konten yang dihasilkan dapat berupa teks, gambar, video, musik, dan lain-lain. Beberapa platform GenAI yang bergerak di bidang musik antara lain Udio, Suno, dan Soundraw.
Cara menggunakan GenAI cukup sederhana. Pengguna hanya perlu mengetik prompt, kemudian GenAI akan memproses permintaan tersebut. Hal ini sejalan dengan penjelasan Shelina Theodora, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dalam jurnal Hak Cipta atas Lagu yang Dihasilkan Artificial Intelligence: Kepemilikan dan Pertanggungjawaban atas Pelanggaran dalam Regulasi Hak Cipta Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa platform Suno menggunakan teknik deep learning untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Suno memahami instruksi teks yang diketik pengguna melalui machine learning, kemudian memproses instruksi tersebut menggunakan algoritma serta mempelajari pola dan struktur musik dari data yang dimiliki untuk menghasilkan keluaran berupa lagu.
Risiko di Balik Lagu Hasil Generative AI
Terlepas dari kepraktisannya, penggunaan GenAI di industri musik dapat menghadirkan berbagai risiko. Berdasarkan penjelasan Eka Gustiwana dalam video berjudul "Suno AI Ngeri! Udah Bisa Gantiin Musisi? | EGP Music & Tech News", GenAI dapat menimbulkan sejumlah persoalan seperti berikut.
Lagu Hasil Generative AI Berpotensi Digunakan untuk Keperluan Komersial
Saat ini, semakin banyak orang memilih menggunakan musik atau lagu hasil generative AI. Salah satu alasannya adalah biaya lisensi lagu yang dinilai cukup mahal, sehingga AI dianggap sebagai alternatif yang lebih praktis dan ekonomis untuk menghasilkan musik.
Mengutip artikel "Generasi Musik AI: Penggunaan, Penggunaan Komersial & Bahasa yang Didukung" yang diterbitkan Canva, musik atau lagu hasil AI dapat digunakan untuk tujuan komersial maupun pribadi.
Musik tersebut dapat dimanfaatkan dalam iklan, konten media sosial yang dimonetisasi, seperti YouTube dan TikTok, pekerjaan klien, serta proyek komersial lainnya.
Meskipun demikian, Canva menyatakan bahwa pengguna tidak diperbolehkan menjual, mendistribusikan ulang, atau memberikan lisensi ulang (sublicense) atas trek musik tersebut secara mandiri.
Jika pengguna telah diberikan kebebasan untuk menggunakan lagu hasil AI untuk keperluan komersial mereka, apakah saat ini sudah ada pengguna yang merilis lagu buatan GenAI ke platform streaming musik?
Perilisan lagu hasil GenAI di Spotify atau Platform Streaming Lain Tanpa Pencipta yang Jelas
Sebelum membahasas lebih jauh, apakah Kawan GNFI pernah mendengar nama Sienna Rose? Musisi bergaya neo-soul ini telah merilis dua album dan berhasil menarik jutaan pendengar di platform streaming.
Namun, sejak Januari 2026, lagu-lagunya telah diberi label AI Generated oleh Deezer setelah sistem deteksi AI milik platform tersebut mengindikasikan bahwa karya-karyanya dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan.
Lagu-lagu yang dirilis Sienna dinilai memiliki kemiripan dengan karya musisi lain, seperti Alicia Keys dan Olivia Dean. Dalam artikel berjudul "Is Sienna Rose AI? All Signs Point to Yes", Maya Georgie, penulis di majalah Rolling Stone, menyatakan bahwa gaya musik Sienna sangat mirip dengan gaya vokal yang teduh dan permainan piano yang lembut milik kedua musisi tersebut.
Indikasi lain yang memperkuat dugaan bahwa Sienna Rose bukan penyanyi sungguhan adalah tidak adanya penampilan secara langsung (live performance atau live gig).
Selain itu, Sienna juga tidak memiliki akun media sosial selain profilnya di berbagai platform streaming musik. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Sienna Rose hanyalah identitas virtual yang diciptakan untuk merilis lagu-lagu hasil generative AI tanpa pencipta yang diketahui secara jelas.
Lalu, Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapinya?
Kehadiran generative AI merupakan inovasi yang menawarkan kemudahan dalam industri musik karena mampu mempercepat proses penciptaan lagu.
Namun, di balik kemudahan tersebut muncul berbagai persoalan, mulai dari penggunaan lagu untuk kepentingan komersial, ketidakjelasan identitas pencipta, hingga perdebatan mengenai hak cipta.
Pada akhirnya, perkembangan generative AI merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkannya secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan hak para musisi dan pencipta lagu.
Menjadikan GenAI sebagai alat bantu, bersikap transparan dalam penggunaannya, serta tetap menghormati hak cipta dapat menjadi langkah awal untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh generative AI.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

