Apa jadinya jika sebuah bahasa diajarkan tanpa menyertakan konteks budayanya? Sebab, bahasa bukan sekadar susunan kata, melainkan representasi dari suatu budaya.
Bayangkan, ketika Kawan menggunakan kata ganti “kamu” dan subjek yang dituju adalah guru Kawan, rasanya akan kurang pas.
Namun, di belahan dunia lain, kata "kamu" hanyalah alat penunjuk subjek yang lumrah digunakan bahkan kepada orang yang jauh lebih tua.
Bahasa tidak pernah berdiri sebagai deretan rumus tata bahasa yang kaku. Mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing tidak hanya mentransfer kosakata dan aturan linguistik, tetapi juga sedang merayakan keberagaman budaya. Lantas, bagaimana proses merayakan keberagaman ini diwujudkan secara nyata di ruang kelas?
Berkenalan dengan Latar Belakang Pemelajar
Langkah awal yang paling krusial adalah mengenali asal pemelajar, motivasi mereka belajar, hingga karakter sosiokultural negara asal mereka. Peran penting seorang pengajar dalam kelas BIPA mulai di sini.
Pemelajar yang berasal dari Australia tentu memiliki gaya belajar dan komunikasi yang berbeda dengan pemelajar yang berasal dari Korea Selatan. Upaya ini membantu pengajar BIPA dalam membangun empati, menghindari stereotip, dan yang paling penting adalah menciptakan kelas yang inklusif.
Tantangan berikutnya yang sering muncul adalah perbedaan gaya komunikasi. Mengacu pada teori Edward T. Hall (1976), gaya komunikasi terbagi menjadi dua, yaitu konteks tinggi (high-context) dan konteks rendah (low-context), gaya komunikasi masyarakat Indonesia termasuk ke high-context culture, yakni gaya komunikasi secara implisit, tidak langsung pada inti pembicaraan, dan sangat memperhatikan nada bicara.
Sebaliknya, banyak pemelajar asing tumbuh dalam lingkungan low-context culture. Mereka terbiasa berkomunikasi secara eksplisit, langsung pada inti pembicaraan, dan blak-blakan.
Perbedaan tersebut di kelas BIPA menjadi ruang belajar bersama. Pengajar memiliki tugas membimbing pemelajar dengan latar belakang komunikasi low-context untuk memahami kode sosial masyarakat Indonesia. Misalnya, membantu mereka memahami alasan orang Indonesia terkadang sungkan berkata "tidak" secara langsung, atau bentuk senyum orang Indonesia bisa punya banyak arti, seperti bentuk keramahan, ekspresi rasa malu, hingga tanda ketidaknyamanan.
Merancang Materi Budaya Indonesia
Selain mengenal latar belakang, hal yang perlu diperhatikan adalah materi ajar yang relevan. Pengajar perlu meramu materi yang hidup, kontekstual, dan menyentuh hal-hal yang dekat dengan keseharian pemelajar.
Misalnya, saat mengajar pemelajar dari kawasan Asia Timur tentang makanan, diskusi bisa dimulai dari kesamaan mereka yang juga mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok.
Berawal dari sini, pengajar bisa membawa pemelajar untuk menyelami tradisi lain di berbagai daerah Indonesia. Pemelajar diajak membandingkan tradisi Indonesia dengan tradisi di negara mereka, sekaligus menyadari bahwa masyarakat Indonesia itu sangat majemuk dan tidak homogen.
Potret kemajemukan Indonesia yang begitu dinamis tentu sulit jika hanya mengandalkan buku teks cetak yang statis. Pengajar dapat mengembangkan bahan ajar secara mandiri dan lebih interaktif.
Pengembangan bahan ajar interaktif pernah dilakukan dalam riset Pitra Ramadhani dkk. (2023) di Jurnal Komposisi untuk materi budaya Indonesia menggunakan platform Google Sites pada program BIPA SMA.
Melalui wadah digital berbasis 'rumah tumbuh' ini, pengajar dapat memperbarui dan mengintegrasikan berbagai materi budaya secara adaptif, sehingga pengajaran budaya di kelas BIPA tidak akan terjebak hanya di permukaan.
Pengenalan budaya Indonesia tidak selalu tentang baju adat, keris, atau tari tradisional. Budaya juga terwujud pada nilai sosial dan cara berpikir masyarakat sehari-hari. Salah satu fenomena musiman seperti "War Takjil" saat bulan Ramadan, misalnya, dapat dibedah secara mendalam di kelas.
Pemelajar diajak melihat bahwa ramainya orang berburu takjil di sore hari bukan hanya urusan mencari makanan berbuka puasa umat Islam, tetapi sekaligus ruang kultural ketika seluruh lapisan masyarakat merayakan kebersamaan sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.
Melalui cara ini, pemelajar tidak hanya belajar kosakata baru, tetapi juga menangkap esensi kehangatan dan sifat gotong royong masyarakat Indonesia.
Ketertarikan terhadap fenomena kultural sejalan dengan temuan Ari Kusmiatun (2024) di Jurnal Ghancaran mengenai perspektif mahasiswa BIPA Tiongkok terhadap Budaya Indonesia. Pemelajar asing memiliki perspektif sangat positif dan minat besar pada aspek budaya harian kontemporer, seperti perayaan hari besar, bahasa gaul, hingga pariwisata.
Lebih dari sekadar mendiskusikannya di dalam kelas, pemelajar BIPA idealnya diajak untuk berinteraksi langsung melalui pengalaman nyata. Budaya akan lebih mudah dipahami saat dirasakan oleh panca indra mereka.
Alih-alih hanya membaca teks prosedur cara memasak, pemelajar juga diajak langsung mempraktikkan cara membuat makanan lokal sederhana. Mereka juga dapat diajak untuk mencoba permainan tradisional atau melakukan wawancara dengan warga lokal mengenai topik tertentu.
Melalui pendekatan ini, bahasa yang mereka produksi lahir secara alami dari pengalaman langsung yang dialami pemelajar.
Belajar Budaya, Rayakan Perbedaan
Pada akhirnya, tujuan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak sekadar hafal rumus tata bahasa atau kosakata baru. Kelas BIPA baru akan bertransformasi menjadi ruang apresiasi budaya ketika pengajar mampu memadukan pemahaman latar belakang sosiokultural pemelajar, fleksibilitas bahan ajar, dan pengalaman nyata untuk menangkap cara berpikir masyarakat lokal.
Ketika semua elemen itu saling bertautan, kelas bahasa akan hidup, bukan sekadar mentransfer bahasa, melainkan merayakan kemanusiaan dan merawat keberagaman global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

