biar nggak gampang busuk teknologi ini bikin benih bawang awet berbulan bulan - News | Good News From Indonesia 2026

Biar Nggak Gampang Busuk, Teknologi Ini Bikin Benih Bawang Awet Berbulan-bulan

Biar Nggak Gampang Busuk, Teknologi Ini Bikin Benih Bawang Awet Berbulan-bulan
images info

Foto oleh Mufid Majnun di Unsplash


Urusan menyimpan bawang merah setelah panen sering kali membuat para petani pusing. Sebagai salah satu komoditas hortikultura utama di Indonesia, tanaman ini punya kelemahan mendasar berupa umur simpan yang relatif singkat.

Setelah dicabut dari tanah, laju respirasi dan aktivitas metabolisme umbi tetap berjalan tinggi, sehingga kondisinya cepat menyusut, melunak, lalu membusuk jika ditaruh di gudang biasa.

Melihat persoalan menahun tersebut, tim periset dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN mencoba mencari jalan keluar ilmiah. Mereka berkolaborasi dengan peneliti dari Universitas Gadjah Mada untuk menguji sistem penyimpanan modern bernama Modified Atmosphere Storage (MAS).

Teknologi ini mengondisikan ruangan penyimpanan dengan mengatur kadar gas dan suhu secara ketat demi memperlambat kerusakan biologis.

Melalui eksperimen terukur, tim memantau pergerakan kualitas umbi selama sembilan minggu penuh. Pengujian difokuskan pada pengaturan tiga variabel utama, yakni durasi penyimpanan, tingkat suhu ruangan, serta persentase konsentrasi oksigen di dalam wadah penampung.

"Hasil penelitian menunjukkan pengaruh suhu penyimpanan terhadap kualitas benih bawang merah jauh lebih besar dibandingkan konsentrasi oksigen," ujar Peneliti PRTPP BRIN, Nugroho Siswanto.

Kombinasi antara suhu rendah sebesar 5 derajat Celsius dengan konsentrasi oksigen tipis di angka 5 persen terbukti memberikan hasil terbaik dalam mengunci mutu benih agar tidak cepat rusak.

 

Indikator Laboratorium dan Formula Menekan Pembusukan

Selama proses riset berjalan, kualitas benih bawang merah dipantau lewat instrumen laboratorium yang mencakup stabilitas warna kulit (menggunakan parameter L*, a*, b*), tingkat kekerasan daging umbi, hingga akumulasi kandungan padatan terlarut di dalamnya.

Secara alamiah, bawang yang disimpan terlalu lama akan mengalami perubahan fisik berupa penurunan tingkat kecerahan dan melunaknya tekstur umbi akibat kehilangan kadar air. Namun, simulasi kerusakan tersebut terbukti bisa ditekan secara signifikan ketika atmosfer di dalam ruang penyimpanan dimodifikasi sedemikian rupa.

Penerapan suhu dingin 5 derajat Celsius dipadukan dengan kadar oksigen rendah sukses membuat umbi bawang seolah-olah "tertidur" dan memperlambat proses penuaan jaringan.

Hasilnya, tingkat kekerasan umbi tetap terjaga tinggi, sementara perubahan warna kulit yang kusam bisa dihambat dibandingkan dengan metode pembiaran di suhu ruang biasa.

"Teknologi MAS pada suhu rendah dan kadar oksigen rendah berpotensi menjadi solusi untuk memperpanjang umur simpan benih bawang merah tanpa menurunkan kualitasnya secara signifikan," kata Nugroho Siswanto.

 

Mendorong Ketahanan Pangan

Cara kerja sistem MAS ini sebenarnya meniru prinsip kontrol metabolisme makhluk hidup.

Dengan menekan ketersediaan oksigen di ruang tertutup, aktivitas pernapasan seluler dari komoditas pertanian akan melambat secara drastis. Ketika aktivitas fisiologis tersebut berhasil dikendalikan, nutrisi di dalam umbi tidak banyak terbuang, sehingga kesegaran benih bertahan jauh lebih lama.

Temuan ini diproyeksikan menjadi angin segar bagi mata rantai pascapanen di tingkat lokal. Jika teknologi ini mulai diadopsi secara massal pada gudang-gudang logistik regional, angka kehilangan hasil panen akibat pembusukan massal bisa ditekan sekecil mungkin.

Dampak jangka panjangnya adalah stabilitas pasokan benih bermutu bagi para petani di berbagai daerah akan tetap terjaga sepanjang musim, sekaligus ikut menopang penguatan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. Hasil kajian mendalam ini sendiri telah resmi dipublikasikan secara internasional dalam Advances in Agricultural and Food Research Journal.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.