warung tenongan setyadarma menghadirkan pengalaman jual beli nyata untuk meningkatkan pemahaman nilai mata uang dan keterampilan interaksi sosial siswa slb c setyadarma surakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Warung TENONGAN SETYADARMA: Pengalaman Jual Beli Nyata di SLB C Setyadarma Surakarta

Warung TENONGAN SETYADARMA: Pengalaman Jual Beli Nyata di SLB C Setyadarma Surakarta
images info

Foto bersama seluruh peserta didik SMA SLB C Setyadarma @MagangBerdampakSetyadarma2026


Suasana berbeda terasa di salah satu ruang kelas SLB C Setyadarma pada Rabu pagi. Meja-meja yang biasanya tertata untuk belajar disulap menjadi sebuah warung jajanan pasar mini lengkap dengan taplak bermotif batik, keranjang anyaman berisi jajanan tradisional, dan papan harga berhuruf besar.

Inilah wajah dari program "Tenongan Setyadarma", sebuah inisiatif pembelajaran berbasis bermain peran (role playing) yang digagas oleh delapan mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Universitas Sebelas Maret, dalam skema Magang Berdampak 2026.

Program yang dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 08.00–09.00 WIB ini menyasar siswa tunagrahita kelas atas di SLB C Setyadarma. Nama "Tenongan" sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti wadah pembawa jajanan pasar, sebagai simbol kedekatan budaya lokal yang sengaja dihadirkan agar pembelajaran terasa akrab dan menyenangkan bagi siswa.

baca juga

Belajar Lewat Bermain Peran

Simulasi Jual Beli

Dalam kegiatan ini, siswa bergantian memerankan dua peran utama: penjual yang melayani di balik meja warung, dan pembeli yang memilih jajanan menggunakan uang asli. Jajanan pasar seperti klepon, lemper, onde-onde, serabi, hingga sosis solo dijajakan dengan harga mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah.

"Siswa diajak benar-benar bertransaksi, mulai dari memilih jajanan, menyebutkan namanya, membayar, sampai menerima kembalian. Semua dilakukan dengan uang asli supaya pengalamannya nyata dan bisa langsung diterapkan di kehidupan sehari-hari," ujar salah satu mahasiswa pelaksana program.

Sebelum sesi bermain peran dimulai, mahasiswa lebih dulu mengajak siswa bernyanyi bersama dan memberikan demonstrasi singkat cara berjualan dan membeli. Selama simulasi berlangsung, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa, memberikan bantuan (prompt) saat dibutuhkan, serta memberikan apresiasi atas setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan siswa.

Menjawab Dua Tantangan Sekaligus

Program ini lahir dari hasil pengamatan mahasiswa di lapangan, yang menemukan bahwa sebagian siswa di SLB C Setyadarma masih kesulitan mengenali nilai mata uang, menghitung kembalian, dan memahami prosedur pembayaran. Selain itu, kemampuan interaksi sosial siswa juga dinilai perlu dilatih melalui kegiatan yang terstruktur dan berulang.

Melalui pendekatan role playing, dua tantangan tersebut coba dijawab sekaligus. Saat menjadi penjual, siswa berlatih menyapa, melayani, dan menghitung uang. Saat menjadi pembeli, siswa berlatih memilih barang, berkomunikasi dengan penjual, serta memahami nilai nominal uang yang dibayarkan dan kembalian yang diterima.

Hasilnya, sebagian besar siswa terlihat antusias dan mampu mengenali pecahan uang yang digunakan dengan lebih baik selama simulasi berlangsung. Tak hanya itu, siswa juga menunjukkan keberanian berkomunikasi dengan teman sebaya, mulai dari kontak mata, mengucapkan salam, hingga melakukan dialog sederhana seperti tawar-menawar dan ucapan terima kasih saat bertransaksi.

baca juga

Refleksi dan Harapan ke Depan

Di penghujung kegiatan, mahasiswa mengajak siswa berbagi pengalaman melalui sesi refleksi sederhana: apa yang mereka beli, berapa harganya, dan berapa kembalian yang mereka terima. Sesi ini ditutup dengan tepuk tangan bersama dan dokumentasi foto sebagai kenangan kegiatan.

Program Tenongan Setyadarma merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Magang Berdampak Universitas Sebelas Maret 2026 dengan skema Hibah Pembelajaran Berdampak. Melalui pendekatan yang menyenangkan, kontekstual, dan kental nuansa budaya lokal, program ini diharapkan tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan matematis dasar, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan komunikasi, serta kecintaan terhadap budaya tradisional Indonesia.

Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran fungsional yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah luar biasa lain di Indonesia, sebagai salah satu kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pendidikan inklusif dan kemandirian anak berkebutuhan khusus.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WK
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.