Batik bukan hanya kain bermotif, melainkan warisan budaya Indonesia yang sarat akan nilai seni dan tradisi.
Di balik keindahannya, industri tekstil tradisional ini dihadapkan pada tantangan besar berupa ketergantungan terhadap zat pewarna sintetis. Penggunaan bahan kimia buatan tersebut dinilai membawa dampak buruk yang mengancam kelestarian lingkungan sekitar serta kondisi kesehatan manusia.
Melihat persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Cindur Batik, salah satu pelaku UMKM asal Batam yang berfokus pada pengembangan motif berbasis kearifan lokal.
Melalui kemitraan strategis ini, para perajin mendapatkan pendampingan intensif untuk menerapkan teknologi pewarnaan alami bersumber dari kunyit dan kayu mahoni sebagai alternatif pengganti ramah lingkungan.
Tim peneliti terjun langsung untuk memastikan proses ekstraksi dan pencampuran bahan baku di tingkat perajin dapat diukur dengan akurat secara ilmiah.
"Kami mau membawa kearifan lokal ke level industri yang terukur. Kami mendampingi UMKM untuk memahami teknik ekstraksi dan penggunaan bahan pengikat (mordant) yang tepat. Agar warna alami ini tidak hanya cantik di mata, tapi juga tangguh secara kualitas sesuai standar internasional," ujar Analis Pemanfaatan Iptek Ahli Muda BRIN, Suci Woelanda.
Dalam pengaplikasiannya, tanaman kunyit digunakan untuk menghasilkan karakteristik warna kuning cerah yang khas. Sementara itu, pemanfaatan kulit kayu mahoni diaplikasikan guna memunculkan nuansa warna cokelat yang memberikan kesan hangat sekaligus elegan pada lembaran kain.
Metode Pengujian Mutu Menepis Keraguan Pasar
Meski menawarkan keunggulan dari sisi keberlanjutan ekosistem, produk fesyen berbasis bahan alami kerap kali terbentur pada skeptisisme konsumen mengenai daya tahan warnanya. Menjawab keraguan tersebut, laboratorium riset melakukan serangkaian pengujian berbasis parameter SNI dan ISO guna memvalidasi kekuatan penguncian pigmen warna pada serat kain.
Prosedur pengujian ketat dilakukan dengan mengacu pada ketentuan standar SNI/ISO 105. Pengujian ini dirancang untuk menyimulasikan berbagai kondisi ekstrem yang akan dihadapi oleh produk kain dalam penggunaan sehari-hari oleh masyarakat luas.
“Seperti pencucian, gosokan, keringat, panas setrika, hingga paparan sinar matahari. Melalui pengujian ini, kami dapat memastikan bahwa pewarna alami ini ramah lingkungan, dan memenuhi standar mutu yang dibutuhkan konsumen," kata Donny Hermawan selaku Analis Kebijakan Ahli Muda BRIN.
Langkah pengkondisian mutu ini penting dilakukan untuk menghapus stigma bahwa pewarna organik mudah pudar saat dicuci. Dengan adanya sertifikasi hasil uji laboratorium, produk buatan industri rumah tangga memiliki kekuatan hukum yang setara dengan produk manufaktur besar saat bersaing di pasar global.
Eksplorasi Formula dan Kesiapan Teknis Perajin
Implementasi riset ini tidak berhenti di dalam ruang laboratorium semata, melainkan dilanjutkan dengan transfer teknologi secara langsung kepada komunitas perajin di lapangan
Para pelaku usaha dibekali pemahaman mengenai fungsi krusial zat pengikat atau mordant, seperti tawas dan tanin, yang berperan penting dalam mengunci molekul warna agar melekat sempurna pada benang kain.
Di samping mematangkan formula kunyit dan mahoni, para peserta pelatihan juga didorong untuk memperluas eksplorasi pada flora lokal lainnya yang potensial, seperti daun indigo murni untuk warna biru dan daun mangga untuk variasi warna hijau-kuning. Langkah diversifikasi ini bertujuan agar pilihan motif dan palet warna yang ditawarkan kepada calon pembeli menjadi lebih variatif.
Penerapan inovasi hijau ini diakui memberikan perspektif baru dalam peta kompetisi bisnis bagi para pelaku usaha kecil di daerah, yang kini dapat menawarkan nilai tambah berupa konsep produk berkelanjutan (sustainable fashion).
"Melalui pendampingan BRIN ini, kami memperoleh wawasan baru mengenai teknik pewarnaan alami dan pengendalian kualitas produk. Inovasi ini menjadi peluang bagi kami untuk menghadirkan batik yang lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki ciri khas yang berbeda," ungkap Sri Ekowati Budi Rahayu selaku pemilik Cindur Batik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

