dari tepian sungai mahakam menelusuri jejak peradaban kesultanan kutai kartanegara - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Tepian Sungai Mahakam: Menelusuri Jejak Peradaban Kesultanan Kutai Kartanegara

Dari Tepian Sungai Mahakam: Menelusuri Jejak Peradaban Kesultanan Kutai Kartanegara
images info

Free to use under the Unsplash License by Ivan Samudra


Kawan GNFI, jauh sebelum Kalimantan Timur dikenal dengan pesona Kepulauan Derawan atau geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara, wilayah ini telah menjadi panggung salah satu peradaban tertua di Nusantara.

Di sepanjang aliran Sungai Mahakam, sebuah kerajaan tumbuh dan bertahan selama berabad-abad, meninggalkan jejak yang hingga kini masih bisa kita telusuri.

Bermula dari Sebuah Marga di Hulu Sungai

Penelusuran sejarah panjang Kerajaan Kutai tidak bisa dilepaskan dari sosok bernama Kundungga, seorang pembesar yang diduga berasal dari Kerajaan Campa di kawasan Kamboja dan kemudian menetap di tepian Mahakam.

Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Hindu pada masanya. Barulah pada generasi berikutnya, melalui putranya Aswawarman dan cucunya Mulawarman, pengaruh Hindu mulai kental terlihat, tercermin dari penggunaan nama-nama yang kental nuansa bahasa Sanskerta.

Yang menarik, nama "Kutai" sendiri ternyata bukan nama asli kerajaan kuno tersebut. Penelitian etimologis yang dipublikasikan dalam jurnal Yupa: Historical Studies Journal mengungkap, nama Kutai baru digunakan oleh para peneliti sejak zaman kolonial Belanda untuk menyebut kerajaan Dinasti Mulawarman. Ini didasarkan pada lokasi penemuan prasasti yupa di wilayah tersebut. Padahal, prasasti yupa sendiri tidak pernah secara eksplisit menyebutkan nama "Kutai".

baca juga

Dua Kerajaan yang Akhirnya Melebur jadi Satu

Kawan GNFI, sejarah Kutai sesungguhnya menyimpan kisah dua kerajaan berbeda yang akhirnya bersatu. Pada 1300, Aji Batara Agung Dewa Sakti mendirikan kerajaan yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Tanjung Kute, sebagaimana tercatat dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis Mpu Prapanca pada 1365.

Kerajaan ini disebutkan sebagai salah satu wilayah taklukan Patih Gajah Mada dari Majapahit di Pulau Tanjungnagara.

Sementara itu, jauh di hulu Sungai Mahakam, telah lebih dulu berdiri Kerajaan Kutai Martadipura yang berpusat di Muara Kaman, kerajaan yang menyimpan jejak Dinasti Mulawarman dengan prasasti yupa-nya yang legendaris.

Barulah pada abad ke-16, di bawah pimpinan Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa, Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menaklukkan Kutai Martadipura.

Peristiwa ini melahirkan peleburan dua kerajaan menjadi satu entitas baru bernama Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, nama yang kemudian dikenal hingga era modern.

Jejak Peradaban Sungai yang Tersebar di Sepanjang Mahakam

Kajian penelusuran sejarah yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Daerah Kutai Kartanegara menemukan fakta menarik bahwa kawasan Kutai Raya memiliki perjalanan sejarah panjang. Ini dimulai dari masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut pada era prasejarah, berlanjut ke masa Hindu-Buddha, masa perkembangan Islam, masa kolonial, hingga era kemerdekaan Indonesia.

Jejak arkeologis dan historis dari peradaban ini tersebar luas di sepanjang Daerah Aliran Sungai Mahakam beserta anak-anak sungainya. Dengan demikian, kawasan ini layak disebut sebagai panggung berlangsungnya "Sejarah Peradaban Sungai" atau Historical River Civilization.

Survei yang dilakukan di kawasan Muara Kaman bahkan menemukan berbagai situs penting, termasuk situs Lesong Batu, makam-makam Islam kuno, museum situs Kerajaan Kutai Martapura, hingga reruntuhan candi yang diduga menjadi tempat asal artefak bersejarah tersebut.

baca juga

Warisan Budaya yang Tetap Hidup hingga Kini

Kawan GNFI, salah satu hal paling menakjubkan dari Kesultanan Kutai Kartanegara adalah bagaimana warisan budayanya masih relevan dan dipraktikkan hingga era modern.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Moral Kemasyarakatan mengungkap, sistem gelar kebangsawanan seperti Aji, Awang, dan Encek memiliki makna historis dan sosial yang mendalam. Setiap gelar diberikan berdasarkan garis keturunan, jasa, maupun peran dalam pemerintahan kesultanan.

Lebih dari sekadar simbol status, praktik budaya seperti tradisi Beseprah, makan bersama secara lesehan yang menjadi ciri khas masyarakat Kutai, justru menegaskan prinsip kesetaraan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun modernisasi telah mengubah persepsi masyarakat terhadap sistem gelar kebangsawanan, nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya Kutai hingga hari ini.

Studi lain yang dipublikasikan dalam Psikostudia: Jurnal Psikologi Universitas Mulawarman turut mengonfirmasi bahwa gelar kebangsawanan Kesultanan Kutai Kartanegara masih membentuk status sosial nyata dalam kehidupan masyarakat modern, memengaruhi cara individu bersikap dan berperilaku di lingkungan sosialnya hingga saat ini.

baca juga

Lebih dari Sekadar Cerita Masa Lalu

Kawan, kisah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara bukanlah sekadar dongeng masa lalu yang tersimpan rapi di buku sejarah.

Ia adalah fondasi identitas budaya yang masih hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat Kutai hingga hari ini, dari sistem gelar kebangsawanan, tradisi makan bersama, hingga berbagai situs bersejarah yang tersebar di sepanjang Sungai Mahakam.

Di tengah pesatnya pembangunan Kalimantan Timur sebagai kawasan strategis nasional, menyelami kembali akar peradaban Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi pengingat penting bahwa kemajuan suatu daerah tidak pernah lepas dari kekayaan sejarah dan budaya yang telah dijaga turun-temurun selama berabad-abad lamanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.