Tahukah Kawan GNFI jika lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura, diciptakan oleh seorang perantau Minang asal Bukittinggi, Sumatra Barat?
Adalah Zubir bin Said atau Zubir Said. Pria kelahiran 22 Juli 1907 itu adalah putra asli Minangkabau yang merantau ke Singapura di tahun 1928. Pak Zubir, begitu ia dipanggil, adalah sosok berjasa di balik penciptaan lagu Majulah Singapura.
Zubir Said, Maestro Kondang Asal Minang
Lahir di tengah keluarga Minang, gairah Zubir terhadap dunia musik sudah terlihat sejak sekolah dasar. Namun, saat itu, ayahnya, yang bekerja sebagai kondektur kereta api sekaligus kepala desa, sangat menentang cita-cita bermusiknya karena menganggap musik sebagai sesuatu yang haram.
Alih-alih bermusik, sang ayah justru berharap Zubir menjadi pegawai pemerintah Belanda atau tentara. Sejak masih sekolah, kecintaannya pada musik sudah jelas terlihat. Bahkan, gurunya juga melihat potensi Zubir.
Disadur dari National Library Board (NLB), bakat Zubir diasah oleh seorang guru musiknya. Gurunya memperkenalkannya pada sistem solmisasi (notasi angka). Jiwa seninya yang meronta membuatnya sempat bekerja serabutan sebagai pembuat batu bata hingga juru ketik demi bisa membeli biola dan belajar secara autodidak.
Pada tahun 1928, di usia 21 tahun, Zubir mengambil keputusan besar. Ia nekat merantau ke Singapura menggunakan kapal kargo tanpa izin maupun restu ayahnya. Ia terpikat cerita tentang Singapura yang penuh cahaya lampu dan kemudahan mendapatkan barang mewah seperti mentega.
Di Singapura, ia bermain biola di City Opera. Di sinilah ia belajar membaca notasi balok dan bermain piano. Dikatakan bahwa ia menjadi komposer yang sangat produktif. Bahkan, setidaknya ada 1.500 lagu yang dibuatnya, mulai dari lagu film, lagu populer, hingga lagu patriotik. Ia sempat bekerja untuk Shaw Brothers sebelum akhirnya mengabdi selama 14 tahun di perusahaan film Cathay-Keris.
Majulah Singapura, Lagu Kebangsaan Singapura Gubahan Zubir
Menariknya, "Majulah Singapura" pada awalnya tidak diciptakan untuk menjadi lagu kebangsaan. Pada tahun 1958, Zubir Said didekati oleh Ong Eng Guan, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Singapura, untuk menggubah sebuah lagu resmi bagi Dewan Kota (City Council). Lagu itu dipakai untuk merayakan pembukaan kembali Victoria Theatre yang baru direnovasi.
Zubir Said menghabiskan waktu sekitar enam minggu untuk merampungkan lagu ini, dimulai dengan komposisi musik baru kemudian penulisan liriknya. Dalam prosesnya, ia berkonsultasi dengan Muhammad Ariff Ahmad, seorang pakar bahasa Melayu, untuk memastikan liriknya tepat namun tetap sederhana. Lagu ini pertama kali dikumandangkan oleh Singapore Chamber Ensemble pada 6 September 1958 di Victoria Theatre.
Perubahan status lagu ini terjadi ketika Singapura memperoleh status pemerintahan mandiri (self-government) pada tahun 1959. Dr. Toh Chin Chye, Wakil Perdana Menteri saat itu, mencari lagu yang bisa menyatukan seluruh rakyat Singapura yang multirasial.
Ia merasa lagu gubahan Zubir sangat cocok karena sudah populer dan memiliki pesan patriotik yang kuat. Namun, atas permintaan Dr. Toh, Zubir melakukan modifikasi dengan memperpendek durasi dan menyesuaikan tempo lagu agar lebih mudah diingat dan dinyanyikan oleh semua lapisan masyarakat.
Pesan Persatuan dalam Bahasa Melayu
Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa lirik "Majulah Singapura" dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Meskipun Singapura merupakan masyarakat yang beragam, bahasa Melayu dipilih karena merupakan bahasa asli kawasan tersebut dan dianggap paling mampu menarik hati semua ras. Liriknya mengandung ajakan kepada rakyat Singapura untuk bersatu dengan semangat baru menuju kebahagiaan dan kesuksesan bersama.
Penyajian resmi lagu ini sebagai lagu kebangsaan negara terjadi pada 3 Desember 1959, dalam acara National Loyalty Week di Padang. Saat itu, sebuah paduan suara yang terdiri dari 300 siswa sekolah menyanyikannya di hadapan 25.000 penonton.
Uniknya lagi, Zubir menolak menerima pembayaran atas karyanya ini. Baginya, menciptakan lagu tersebut sudah cukup sebagai bentuk kehormatan.
Zubir meninggal pada 16 November 1987 di Singapura. Makamnya ada di Pusara Aman di Choa Chu Kang.
Semasa hidupnya, ia mendapatkan banyak sekali penghargaan bergengsi di bidang musik. Ia juga mendapatkan Certificate of Commendation dan the Public Service Star karena sudah menciptakan lagu kebangsaan Singapura. Namanya juga diabadikan menjadi nama jalan di alamat School of the Arts (SOTA), sebuah sekolah seni bergengsi di Singapura, dengan nama No. 1, Zubir Said Drive.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


