Pernahkah Kawan GNFI membaca cerita pendek berjudul Wabah yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri, atau yang akrab kita sebut Gus Mus? Cerita tersebut sebenarnya sangat sederhana.
Suatu hari, sebuah aroma aneh tiba-tiba muncul. Tak ada yang mengetahui asalnya. Pertama kali, itu hanyalah menjadi perbincangan di dalam satu keluarga dengan ucapan "Eh, kamu juga mencium bau ini?" yang kemudian menyebar ke tetangga, ke satu desa, hingga akhirnya ke mana-mana.
Banyak orang yang mengobrol tentang itu, mengeluh, dan berusaha menemukan dari mana bau itu berasal. Namun, hingga akhir cerita, siapa pun tidak pernah memecahkan teka-teki tersebut.
Lebih menyedihkan lagi, lama-lama orang-orang mulai acuh tak acuh terhadap masalah itu. Bukan karena baunya sudah hilang, tetapi karena mereka sudah sangat sering menghirupnya, hingga akhirnya menganggap bahwa itu sudah menjadi hal yang biasa.
Jika kita merenungkan, ada satu fenomena di sekitar kita saat ini yang sangat mirip dengan bau tersebut, yaitu judi online. Ia datang dengan perlahan, tanpa permisi, melalui benda yang paling dekat dengan kita, yaitu handphone.
Ia menyebar dari satu individu ke satu keluarga, dari satu keluarga ke lingkungan sekitarnya, hingga saat ini hampir semua orang pernah mendengar, melihat, atau bahkan mengenal seseorang yang terlibat dalam praktik ini. Dan sama seperti dalam cerita Gus Mus, kita semua menyadari keberadaannya, kita semua mengeluh tentangnya, tetapi entah mengapa, ia tetap eksis di mana-mana.
Judi online itu mirip dengan aroma dalam cerita pendek Gus Mus, tetapi dalam bentuk nyata dan lebih mematikan. Pada awalnya terasa tidak dikenal dan mengganggu, tetapi secara perlahan ia meresap ke dalam rutinitas harian kita, hingga akhirnya banyak orang yang tidak terkejut lagi mendengarnya meskipun yang hancur bukan hanya "kenyamanan". Namun, juga kehidupan berumah tangga, simpanan, dan kesehatan mental orang-orang di sekitar kita.
Masuknya lewat Sesuatu yang Paling Dekat dengan Kita
Dalam cerpen karya Gus Mus, aroma tersebut memasuki rumah-rumah tanpa bisa dicegah, sebab tidak ada yang mengetahui dari arah mana ia datang. Judi online bahkan lebih menipu, ia menyusup melalui benda yang selalu kita bawa, yaitu handphone.
Tidak diperlukan perjalanan ke lokasi tertentu. Tanpa perlu bertemu orang lain. Cukup dengan satu klik pada iklan yang tiba-tiba muncul di media sosial, seseorang sudah bisa "bermain" di kamarnya sendiri sambil bersantai, di tengah jam kerja, atau saat menunggu anak pulang sekolah.
Karena cara masuknya sangat halus dan pribadi, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sudah terperangkap sampai dampaknya terasa di dompet, kehidupan rumah tangga, atau hubungan dengan orang sekitar.
Semua orang tahu baunya, tetapi sumbernya seperti tidak tersentuh. Apa yang membuat cerpen Wabah terasa menyesakkan adalah karena sumber baunya tidak pernah terlihat, meskipun semua orang tahu bahwa baunya ada dan terus menerus mempertanyakan asalnya.
Perbedaannya, sumber judi online sebenarnya bukanlah suatu misteri. Situsnya jelas ada, aplikasinya nyata. Namun, namanya sering kali berubah dan tampilannya pun selalu berbeda. Ketika pemerintah memblokir satu, akan muncul yang baru.
Ketika satu ditutup, sepuluh yang lain muncul. Rasanya seperti memotong satu cabang dari pohon yang akarnya terus tumbuh, sementara kita hanya dapat melihat cabang-cabang baru bermunculan, lagi dan lagi.
Tabungan keluarga yang habis tanpa sepengetahuan pasangan, karyawan yang terjebak dalam utang online demi "mengembalikan modal", hingga berita yang lebih memilukan, mengenai individu yang merasa tak lagi memiliki jalan keluar.
Perbedaannya dengan aroma dalam cerpen Gus Mus adalah bahwa bau tersebut mengganggu semua pihak secara merata. Adapun perjudian online secara perlahan menghancurkan satu keluarga hingga lingkungan.
Pernyataan "Ya Memang Begitu Sekarang" sebenarnya mengejutkan. Sebab, inilah pesan yang ingin disampaikan Gus Mus melalui cerpennya bahwa ketika sesuatu dibiarkan tanpa penanganan yang tepat untuk waktu yang lama, lambat laun kita akan berhenti melihatnya sebagai sebuah masalah. Kita akan memandangnya sebagai bagian dari kehidupan.
Sekarang ini, banyak orang tidak terkejut lagi saat mendengar kabar mengenai perjudian daring. Ada pegawai bank yang terjerat masalah karena menggunakan uang nasabah untuk berinvestasi dalam judi. Ada juga kepala keluarga yang menjual rumah untuk menutupi kerugian.
Ungkapan sederhana ini sesungguhnya merupakan sinyal bahaya. Isyarat bahwa kita perlahan-lahan mulai menganggap sesuatu yang berbahaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gus Mus selalu menulis dengan pendekatan yang dekat dengan realitas sehari-hari. Uniknya, pesannya jarang disampaikan secara langsung. Ia seolah-olah membiarkan pembaca menemukan makna tersimpan melalui hal-hal kecil yang tampaknya sederhana.
Saran dalam karya Wabah kira-kira menyatakan bahwa jika suatu hal dibiarkan berkembang tanpa penanganan yang serius, pada akhirnya kita akan berhenti melihatnya sebagai ancaman. Kita akan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus diterima sebagai bagian dari keadaan.
Perjudian online sedang menuju ke tahap tersebut. Di dalam ponsel banyak orang, sudah menyasar banyak keluarga, dan mulai dipandang "normal", bukan lagi sebagai masalah yang seharusnya mengganggu pikiran kita.
Namun, kita memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki karakter dalam kisah Gus Mus, yaitu kita mengetahui asal-usulnya, tahu cara kerjanya, dan kita sudah menyaksikan sendiri dampaknya terhadap sekitar.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi "dari mana asal paham ini? ", tetapi "sampai kapan kita akan terus menganggap ini sebagai hal yang biasa, sebelum kita benar-benar berhenti berpikir ada yang keliru?"
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


