jangan nilai buku dari sampulnya yakuza versi lokal ini tidak jahat tapi suka bantu warga - News | Good News From Indonesia 2026

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya: Yakuza Versi Lokal Ini Tidak Jahat, tapi Suka Bantu Warga

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya: Yakuza Versi Lokal Ini Tidak Jahat, tapi Suka Bantu Warga
images info

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya: Yakuza Versi Lokal Ini Tidak Jahat, tapi Suka Bantu Warga


Indonesia ternyata punya Yakuza versi lokal. Bukan organisasi kriminal, tapi sebuah organisasi yang merangkul masyarakat marginal.

Namanya Yakuza Maneges. Organisasi ini baru saja resmi mendeklarasikan diri pada Sabtu (9/5/2026) di Kediri, Jawa Timur. Didalangi oleh Gus Thuba alias Thuba Topo Broto Maneges, Yakuza Maneges dibangun sebagai sarana dakwah dan spiritual bagi mereka yang ingin “bertaubat”.

Yakuza “Asli” vs Yakuza Manege, Apa Bedanya?

Yakuza diasosiasikan pada sekelompok gangster Jepang yang secara resmi disebut sebagai Bōryokudan atau kelompok kekerasan. Mereka dikenal sebagai sekelompok mafia sekaligus organisasi kriminal yang banyak terlibat dalam bisnis-bisnis ilegal.

Merangkum dari berbagai sumber, Yakuza “asli” memiliki kontrol di banyak industri, mulai dari prostitusi, pariwisata, hiburan, sampai konstruksi. Bahkan, Yakuza juga melakukan kejahatan lain seperti penyelundupan manusia, pencucian uang, judi, pembunuhan, sampai penyelundupan narkotika.

Mungkin Kawan GNFI ada yang familier dengan ciri khas anggota Yakuza yang sudah terkenal di seluruh dunia, yakni memiliki tato di badan mereka. Tato-tato yang sangat banyak dan tampak rumit itu disebut dengan irezumi.

baca juga

Selain tato, ada pula tradisi lain yang sangat khas, yakni memotong ruas jari. Anggota yang melakukan kesalahan, gagal dala tugas, atau melanggar kode etik akan “mengamputasi” jari kelingking mereka. Ini dilakukan sebagai bukti tanggung jawab dan permintaan maaf kepada pemimpin organisasi mereka.

Di Jepang sendiri, pemerintah tidak secara gamblang menyebut organisasi ini dengan “Yakuza”. Mereka lebih sering menyebutnya sebagai Bōryokudan. Pemerintah memandang kelompok ini sebagai kriminal yang melakukan tindakan ilegal.

Sementara itu, Yakuza versi lokal sangat jauh berbeda dengan versi aslinya. Jika versi aslinya banyak melakukan tidak kriminal, Yakuza Maneges justru merangkul masyarakat marginal tanpa adanya kekerasan.

Yakuza Maneges berdiri dengan semangat spiritual dan kemanusiaan yang kuat. Organisasi ini merangkul saudara-saudara yang mereka sebut sebagai santri garis kiri.

Santri garis kiri dimaknai sebagai orang-orang yang pernah terjerumus dalam kesalahan. Namun, mereka sadar dan ingin memperbaiki diri menuju arah yang benar. Yakuza Maneges menjadi wadah bagi mereka yang dianggap “nakal” atau “preman” untuk dirangkul dan diberdayakan.

Yakuza Maneges yang Rangkul Masyarakat Marginal

Yakuza Maneges berada di bawah naungan Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin yang didirikan oleh KH Hamim Jazuli alias Gus Miek. Gus Thuba selaku pendiri Yakuza Maneges sendiri adalah cucu mendiang Gus Miek.

Organisasi ini memiliki ideologi yang difokuskan pada pendekatan kultural dan spiritualitas pada masyarakat marginal. Hal ini sesuai dengan ajaran Gus Miek yang memiliki metode dakwah unik, yakni merangkul individu yang terpinggirkan.

baca juga

Yakuza Maneges juga ikut membantu masyarakat yang menghadapi persoalan hukum maupun sosial. Mereka mendukung upaya penegakan hukum yang lebih adil dan berpihak pada masyarakat.

Menariknya lagi, melalui akun Instagram resminya, @yakuza_maneges, organisasi ini turut membagikan kegiatan mereka saat berpatroli malam bersama dengan kepolisian. Uniknya lagi, organisasi ini juga pernah mengawal kasus penipuan yang dilakukan oknum polisi berpangkat.

Mereka membantu korban sampai pelaku ditahan. Yakuza Maneges diwartakan sudah lebih dulu melakukan mitigasi kerugian rakyat kecil yang menjadi korban.

Lantas, Yakuza Maneges menempuh jalur Restorative Justice hingga akhirnya Kejaksaan memutuskan pelaku untuk ditahan. Hal ini menunjukkan bahwa Yakuza lokal bisa membantu rakyat kecil yang menghadapi masalah ketidakadilan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.