festival buku dan budaya baca sekedar antusiasme sesaat atau kebiasaan jangka panjang - News | Good News From Indonesia 2026

Festival Buku dan Budaya Baca: Sekedar Antusiasme Sesaat atau Kebiasaan Jangka Panjang?

Festival Buku dan Budaya Baca: Sekedar Antusiasme Sesaat atau Kebiasaan Jangka Panjang?
images info

freestocks (Unsplash)


Festival buku dan budaya baca sering kali berjalan secara beriringan dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat. Setiap kali festival buku digelar, ribuan pengunjung datang untuk berburu buku, menghadiri diskusi, hingga bertemu dengan penulis favorit mereka.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa buku masih memiliki tempat di tengah masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda.

Namun, di balik ramainya pengunjung dan banyaknya buku yang terjual, muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk dibahas: apakah festival buku benar-benar mampu membentuk kebiasaan membaca dalam jangka panjang, atau hanya menciptakan antusiasme sesaat selama acara berlangsung?

Pertanyaan ini semakin relevan karena budaya baca masih menjadi perhatian di Indonesia. Di sisi lain, sejumlah indikator menunjukkan perkembangan yang positif.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mencatat bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Indonesia mencapai 72,44 pada tahun 2024, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Indeks Budaya Literasi Nasional juga meningkat dari 54,29 pada tahun 2021 menjadi 60,49 pada tahun 2023. Pada 2026, Perpusnas kembali menegaskan pentingnya penguatan budaya baca sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Festival Buku sebagai Ruang Literasi

Bagi Kawan GNFI, festival buku mungkin identik dengan diskon menarik, koleksi buku yang beragam, atau kesempatan bertemu dengan penulis favorit. Namun, festival buku sebenarnya memiliki fungsi yang lebih luas dairipada sekedar tempat berbelanja buku.

Festival buku adalah tempat berkumpulnya pembaca, penulis, penerbit, komunitas yang gemar membaca, serta pelaku industri kreatif dalam satu lingkup yang sama. Melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, hingga sesi berbagi pengalaman, pengunjung diajak untuk memahami bahwa membaca bukan hanya sekedar aktivitas akademis, tetapi juga bagian dari proses pengembangan diri serta hiburan yang bermanfaat.

Di Indonesia, salah satu festival buku yang cukup dikenal yaitu Indonesia International Book Fair (IIBF) yang diselenggarakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Kehadiran acara semacam ini menunjukkan bahwa ruang literasi masih mampu menarik perhatian masyarakat di tengah maraknya hiburan digital.

baca juga

Lebih dari itu, festival buku juga dapat menjadi titik awal bagi seseorang untuk mengenal dunia literasi. Ketika Kawan GNFI menemukan buku yang sesuai dengan minat atau mendapatkan inspirasi dari sebuah diskusi, ketertarikan terhadap aktivitas membaca bisa mulai tumbuh dari pengalaman tersebut.

Antusiasme Membaca setelah Festival Berakhir

Meski festival buku bisa menarik banyak orang, tidak berarti seseorang yang datang akan menjadi pembaca yang aktif. Antusiasme saat menghadiri festival dan kebiasaan membaca sehari-hari adalah dua hal yang berbeda.

Kawan GNFI mungkin pernah membeli beberapa buku saat mengunjungi pameran atau festival buku. Namun, tidak semua buku tersebut langsung dibaca hingga selesai. Fenomena ini cukup umum terjadi dan menunjukkan bahwa membeli buku belum tentu berbanding lurus dengan kebiasaan membaca.

Di era digital saat ini, semakin sulit untuk tetap menjaga kebiasaan membaca. Berbagai macam media sosial, video pendek, layanan streaming, serta jenis hiburan digital lainnya memberikan informasi yang cepat dan mudah dijangkau. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca sering kali digantikan oleh kegiatan lain.

baca juga

Kondisi ini membuat festival buku lebih cocok dianggap sebagai penyebab pertama daripada cara utama dalam meningkatkan kebiasaan membaca. Festival bisa membuat orang lebih tertarik pada buku, tetapi untuk membentuk kebiasaan membaca, dibutuhkan proses yang lebih lama dan konsisten.

Karena itu, keberhasilan festival buku seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau banyaknya transaksi selama acara berlangsung. Dampak yang lebih penting adalah apakah pengalaman tersebut mampu mendorong seseorang untuk membaca setelah festival berakhir.

Membangun Budaya Baca yang Berkelanjutan

Festival buku dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk memperkenalkan masyarakat pada dunia literasi. Namun, agar dampaknya bertahan dalam jangka panjang, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, perpustakaan, hingga komunitas literasi.

Pasalnya kebiasaan membaca tidak bisa terbentuk dalam waktu singkat, melainkan melalui kegiatan yang dilakukan terus menerus, seperti menyisihkan waktu untuk membaca setiap hari atau aktif berpartisipasi dalam kegiatan literasi.

Maka dari itu, di sinilah pentingnya peran festival buku sebagai pintu masuk menuju budaya baca. Festival buku dapat menciptakan pengalaman yang menyenangkan dan mendekatkan masyarakat dengan buku.

Namun, keberhasilan sesungguhnya tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung atau banyaknya buku yang terjual, melainkan dari sejauh mana antusiasme tersebut mampu berkembang menjadi kebiasaan membaca yang berkelanjutan.

Dengan demikian, festival buku tidak hanya menjadi perayaan literasi sesaat, tetapi juga bagian dari upaya membangun masyarakat yang gemar membaca dalam jangka panjang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.