Kawan GNFI dapat membayangkan pengalaman mengunjungi museum terasa seperti petualangan seru berpindah dari satu negara ke negara lain? Kini, pengalaman itu bisa Kawan rasakan sendiri di Indonesia. Mulai pertengahan tahun 2026, hadir sebuah program inovatif bernama museum passport sebuah buku berbentuk paspor yang memungkinkan siapa pun mengoleksi stempel museum dari berbagai penjuru Nusantara.
Konsep yang terdengar sederhana ini ternyata menyimpan semangat besar dengan adanya pendekatan pada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, dengan kekayaan sejarah dan budaya bangsanya sendiri.
Bagi banyak orang, kata "museum" mungkin masih identik dengan ruangan yang sepi, koleksi yang berdebu, dan suasana yang terasa kaku. Namun, pandangan itu kini perlahan berubah. Dengan hadirnya museum passport, kunjungan ke museum berubah menjadi pengalaman yang lebih interaktif, personal, dan menyenangkan mirip seperti berburu cap stempel saat bepergian keluar negeri.
Apa Itu Museum Passport?
Museum passport merupakan buku koleksi yang memiliki bentuk yang mirip dengan paspor perjalanan internasional. Di dalamnya terdapat halaman khusus yang dirancang khusus untuk menampung cap atau stempel dari setiap museum dan cagar budaya yang dikunjungi.
Setiap cap memiliki desain unik yang menjadikannya sebagai "jejak" perjalanan budaya yang tidak dapat ditemukan di tempat lain, karena setiap stempel unik di 18 museum dan 34 cagar budaya memiliki desain stempel yang berbeda.
Sebuah unit di bawah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Museum dan Cagar Budaya (MCB), bekerja sama dengan Paperina sebagai mitra produksi, menghasilkan program ini. Selain itu, buku paspor ini berisi peta lokasi museum, sehingga pengunjung dapat dengan mudah merencanakan perjalanan wisata budaya mereka sendiri.
Di Mana dan Kapan Museum Passport Bisa Didapatkan?
Peluncuran resmi museum passport akan berlangsung pada 16 Juni 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun Museum dan Cagar Budaya (MCB). Pada tahap awal, museum passport mencakup 18 museum dan galeri serta 34 cagar budaya yang berada di bawah naungan MCB di seluruh Indonesia, dari kabupaten, kota, hingga provinsi.
Ada beberapa toko yang dapat Kawan GNFI gunakan untuk mendapatkan museum passport, mulai dari toko:
- Toko souvenir IHA, yang dikelola oleh MCB Museum Shops
- Toko di masing-masing museum yang berpartisipasi dalam program
- Toko buku Gramedia, saat ini sedang dalam proses perundingan kerja sama untuk memperluas jangkauan distribusi.
Selain itu, MCB menawarkan peluang bagi museum lain baik swasta maupun provinsi untuk ikut serta mendaftar dan bergabung dalam program ini dengan tujuan mengajak masyarakat, terutama generasi muda (Gen Z dan Gen Alpha) di daerah, untuk menjadikan kunjungan ke museum dan cagar budaya sebagai gaya hidup yang menyenangkan.
Bagaimana Cara Menggunakan Museum Passport untuk Kumpulkan Stempel Museum?

Museum Nasional Jakarta, Indonesia (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)
Caranya tidak hanya mudah, tetapi juga menyenangkan. Kawan GNFI dapat mengunjungi museum atau cagar budaya yang terdaftar dalam program ini setelah memiliki museum passport. Program ini dapat menikmati koleksi stempel unik di 18 museum mulai dari:
Wilayah Jakarta:
- Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah), Jakarta Pusat
- Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat
- Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat
- Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat
- Museum Perumusan Naskah Proklamasi terletak di Jakarta Pusat
- Museum Basoeki Abdullah, Jakarta Selatan
- Museum Batik Indonesia, Jakarta Timur
Wilayah Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur:
- Museum Benteng Vredeburg daerah Yogyakarta
- Museum Perjuangan berada di Yogyakarta
- Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen
- Museum Song Terus daerah Pacitan
- Museum Semedo daerah Tegal
- Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari berada di Jombang
Dari 18 museum dan galeri di setiap tempat, petugas museum akan langsung memberikan cap atau stempel khusus ke dalam buku paspor Kawan GNFI. Tidak ada dua stempel yang sama karena setiap stempel memiliki desain unik yang mencerminkan ciri khas museum.
Bayangkan betapa momen asik dan bahagia ketika halaman paspor Kawan GNFI penuh dengan cap dari Museum Nasional Indonesia, Museum Kebangkitan, hingga cagar budaya bersejarah di berbagai tempat. Setiap cap dan stempel mewakili kenangan perjalanan budaya yang tak ternilai dan perjalanan tersebut bisa diceritakkan ke generasi berikutnya.
Siapa yang Meluncurkan Museum Passport?
Program Museum Passport digagas dan diluncurkan secara resmi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui unit Museum dan Cagar Budaya (MCB). Peluncurannya diumumkan bertepatan dengan peringatan Hari Museum Internasional 2026 di Museum Nasional Indonesia pada 19-20 Mei 2026.
Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, menyatakan kegembiraannya atas program ini. "Semoga Museum Passport ini dapat menjadi langkah awal, langkah inovatif menjadikan pengunjung mengunjungi museum. Itu harus kita jadikan gaya hidup yang berbudaya," katanya.
Sementara itu, Indira Estiyanti Nurjadin, Kepala MCB, menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tugas semua orang, termasuk akademisi dan seluruh masyarakat. Cara untuk mendorong masyarakat untuk membanggakan warisan budaya Indonesia adalah melalui program ini.
Mengapa Museum Passport Penting bagi Jelajah Museum Indonesia?

Salah satu Museum Indonesia, Museum TMII (commons.wikimedia.org/RasyaAbhirama13)
Sebanyak 516 museum yang sudah registrasi secara resmi di Indonesia menunjukkan kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa. Namun, masyarakat Indonesia belum menjadi kebiasaan yang kuat untuk mengunjungi museum, terutama di kalangan generasi muda.
Sebagai solusi untuk masalah tersebut, museum passport muncul. Konsep ini berasal dari kecenderungan anak muda untuk mengumpulkan dan menyimpan catatan dan mengadaptasi pengalaman mengumpulkan cap paspor saat bepergian ke luar negeri.
Konsep serupa telah diterapkan di negara lain. Jerman memiliki KulturPass, Singapura memiliki SGCulture, dan Belanda memiliki Museumkaart, semua yang terbukti efektif untuk mendorong orang untuk mengunjungi museum lebih sering.
Museum paspor juga memiliki cap stempel museum yang estetis dan desain yang berbeda di tiap tempat, kunjungan ke museum kini terasa seperti petualangan berburu koleksi. Ini bukan hanya soal gaya hidup, tapi ini soal membangun rasa memiliki terhadap warisan budaya bangsa.
Museum Bukan Lagi Tempat yang Membosankan
Sebagai penggemar wisata budaya, meyakini program museum passport menjadi salah satu inovasi terbaik di dunia permuseuman Indonesia. Program ini lebih dari sekadar buku stempel; itu berfungsi sebagai penghubung antara generasi muda dan kekayaan sejarah yang selama ini terasa asing dan jauh.
Ketika kunjungan ke museum menghasilkan "koleksi" yang dapat dibanggakan dan dibagikan, keinginan untuk pergi lagi akan meningkat. Ini adalah manfaat gamifikasi wisata budaya. Museum passport juga berpotensi mengubah cara generasi muda melihat sejarah dan budaya Indonesia jika program ini diambil serius dan terus diperluas ke lebih banyak museum di seluruh Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


